<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136</id><updated>2012-01-23T00:33:29.612-08:00</updated><category term='Hadits'/><category term='Pembelaan'/><category term='Download'/><category term='Bodatahttp://www.blogger.com/img/blank.gif'/><category term='Rehat'/><category term='Info'/><category term='Tifs'/><category term='Ibroh'/><category term='Resensi'/><category term='Muroqobah'/><category term='Maba'/><category term='Muhasabah'/><category term='Dakwah'/><category term='Hakikat Syi&apos;ah'/><category term='Syarah Hadits'/><category term='sirah'/><category term='Fiqih'/><category term='Muqoddimah'/><category term='Dahsyat'/><category term='Hakikat Cinta'/><category term='Aplikasi HP'/><category term='Motivasi'/><category term='Kitab Islami'/><category term='Tsaqofah'/><category term='Fatawa Muharram'/><category term='Bangkit'/><category term='Sejarah'/><category term='Khutbah'/><category term='Wala Wal Bara'/><category term='Akhlak'/><category term='Ramadhan'/><category term='Fatwa'/><category term='Umum'/><category term='Kisah'/><category term='Nasihat'/><category term='Bahasa Arab'/><category term='Tauhid'/><category term='Alumnian'/><category term='Taubat'/><category term='Aqidah'/><category term='Dunia Islam'/><category term='Studi'/><category term='Fadhilah'/><category term='Karya'/><category term='Palestin'/><category term='Siap-Siap'/><category term='La Tahzan'/><category term='Syawwal'/><category term='Demo'/><category term='Mu&apos;amalah'/><title type='text'> .::_Alumni STIBA Makassar_::. </title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>151</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-9092088561586656273</id><published>2012-01-23T00:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T00:33:29.631-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syarah Hadits'/><title type='text'>Jadilah Kunci Kebaikan !</title><content type='html'>عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Menasehati manusia ketika bergaul  dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.       Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain.  Apabila keinginan seseorang  kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.&lt;br /&gt;[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Al-Zalzalah : 7-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-9092088561586656273?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/9092088561586656273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/jadilah-kunci-kebaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/9092088561586656273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/9092088561586656273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/jadilah-kunci-kebaikan.html' title='Jadilah Kunci Kebaikan !'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-136373679830147333</id><published>2012-01-21T21:51:00.001-08:00</published><updated>2012-01-21T21:52:08.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rehat'/><title type='text'>Beberapa Amalan dan Do'a Ketika Turun Hujan</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah Ta’ala atas segala macam nikmat yang telah diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS. An Naba’ [78] : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya.” (QS. An Nur [24] : 43) yaitu dari celah-celah awan.[1]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Merupakan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, kesendirian-Nya dalam menguasai dan mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus yang tidak tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman yang indah untuk dipandang. Allah Ta’ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39). Itulah hujan, yang Allah turunkan untuk menghidupkan tanah yang mati. Sebagaimana pembaca dapat melihat pada daerah yang kering dan jarang sekali dijumpai air seperti Gunung Kidul, tatkala hujan itu turun, datanglah keberkahan dengan mekarnya kembali berbagai tanaman dan pohon jati kembali hidup setelah sebelumnya kering tanpa daun. Sungguh ini adalah suatu kenikmatan yang amat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan yang telah diberikan ini, sebaiknya kita mengilmui beberapa hal seputar musim hujan. Untuk tulisan pertama, kami akan menjelaskan amalan-amalan yang semestinya dilakukan seorang muslim ketika hujan turun. Setelah itu, kita akan memperjari fenomena kilatan petir dan geledek. Dan terakhir kita akan mengkaji bersama mengenai beberapa keringanan di musim penghujan. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Beberapa Amalan Ketika Turun Hujan ::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Tatkala Mendung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ ( فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ ) »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam apabila melihat mendung di langit, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau. Apabila hujan turun, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mulai menenangkan hatinya. ’Aisyah sudah memaklumi jika beliau melakukan seperti itu. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallammengatakan, ”Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf [46] : 24)”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar mengatakan, ”Hadits ini menunjukkan bahwa seharusnya seseorang menjadi kusut pikirannya jika ia mengingat-ingat apa yang terjadi pada umat di masa silam dan ini merupakan peringatan agar ia selalu merasa takut akan adzab sebagaimana ditimpakan kepada mereka yaitu umat-umat sebelumnya.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Khottobi mengatakan, ”Air hujan yang mengalir adalah suatu karunia.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Turunnya Hujan, Kesempatan Terbaik untuk Memanjatkan Do’a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah dalam Al Mughni[7] mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Ketika Terjadi Hujan Lebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, ”Ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam supaya berdo’a agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a di atas.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sholih As Sadlan mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Mengambil Berkah dari Air Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi selanjutnya mengatakan, ”Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama Syafi’iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut. Dan mereka juga berdalil dari hadits ini bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat orang yang lebih berilmu melakukan sesuatu yang ia tidak ketahui, hendaknya ia menanyakannya untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal mencari berkah dengan air hujan dicontohkan pula oleh sahabat Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ، يَقُوْلُ: “يَا جَارِيَّةُ ! أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً [ق: 9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”.” Lalu beliau membacakan (ayat) [yang artinya], ”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf [50] : 9)” [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Dianjurkan Berwudhu dengan Air Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah mengatakan, ”Dianjurkan untuk berwudhu dengan air hujan apabila airnya mengalir deras.”[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Yazid bin Al Hadi, apabila air yang deras mengalir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci.” Kemudian kami bersuci dengan air tersebut dan memuji Allah atas nikmat ini.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hadits di atas adalah hadits yang lemah karena munqothi’ (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi[19].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas dan shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي ” أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya.”[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Janganlah Mencela Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.”[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Janganlah kamu mencaci maki angin.”[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari kejelekan yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk. Ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, “Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat”, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.[24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, mencela hujan tidak terlepas dari hal yang terlarang karena itu sama saja orang yang mencela hujan mencela Pencipta hujan yaitu Allah Ta’ala. Ini juga menunjukkan ketidaksabaran pada diri orang yang mencela. Sudah seharusnya lisan ini selalu dijaga. Jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata yang dapat membuat Allah murka. Semestinya yang dilakukan ketika turun hujan adalah banyak bersyukur kepada-Nya sebagaimana telah diterangkan dalam point-point sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Berdo’a Setelah Turunnya Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.”[25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan ‘Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, ”Tidak boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam jika ia meyakini bahwa bintang tersebut adalah yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya sebagai sebab, maka seperti ini termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata.”[26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa amalan yang bisa diamalkan ketikan hujan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan posting selanjutnya mengenai fenomena kilatan petir dan geledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 24/262, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Syaikh Al Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Bukhari no. 3206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Fathul Bari Syarh Shohih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al ’Asqolani Asy Syafi’i, 6/301, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5/18, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Al Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 2/294, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1405 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Bukhari no. 1014.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/439, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Lihat Dzikru wa Tadzkir, Sholih As Sadlan, hal. 28, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] HR. Muslim no. 898.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Syarh Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 6/195, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Syarh Muslim, 6/196.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Lihat Adabul Mufrod no. 1228. Syaikh Al Albani mengatakan sanad hadits ini shohih dan hadits ini mauquf [perkataan sahabat].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Al Mughni, 2/295.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (3/359) dan Tuhfatul Muhtaj (1/567). Dikeluarkan pula oleh An Nawawi dalam Al Khulashoh (2/884) dan Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (1/216) [dinukil dari http://dorar.net ]. Lihat pula Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 1/439. Hadits ini adalah hadits yang lemah karena munqothi’ yaitu ada sanad yang terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Syaikh Al Albani dalam Dho’if Al Jaami’ no. 4416 mengatakan bahwa hadits ini dho’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa’ul Gholil no. 679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] HR. Bukhari no. 6478.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] HR. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Faedah dari guru kami Ustadz Abu Isa hafizhohullah. Lihat buah pena beliau “Mutiara Faedah Kitab Tauhid”, hal. 227-231, Pustaka Muslim, cetakan pertama, Jumadal Ula 1428 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71, dari Kholid Al Juhaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26] Kutub wa Rosa’il Lil ‘Utsaimin, 170/20, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Read more: http://arrahmah.com/read/2011/11/25/16554-beberapa-amalan-dan-doa-ketika-turun-hujan.html#ixzz1kACHgc3H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-136373679830147333?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/136373679830147333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-turun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/136373679830147333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/136373679830147333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/beberapa-amalan-dan-doa-ketika-turun.html' title='Beberapa Amalan dan Do&apos;a Ketika Turun Hujan'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-3741149850262996275</id><published>2012-01-21T21:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T21:50:37.865-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah'/><title type='text'>نزول المطر</title><content type='html'>الحمد لله .. الحمد لله (الذي ينزل الغيث من بعد ما قنطوا وينشر رحمته، وهو الولي الحميد) .. خلق فسوى، وقدر فهدى، وأخرج المرعى ، فجعله غثاء أحوى .. السماءَ بناها، والأرضَ دحاها، أخرج منها ماءها ومرعاها، والجبالَ أرساها.. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .. الكرم صفة من صفاته، والجود من أعظم سماته، والعطاء من أجلّ هباته، فمن أعظم منه جودًا سبحانه، يَدُه مَلأَى، لا تَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، بِيَدِهِ الْمِيزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ .. (وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ) .. وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، حبيبُ قلوبنا ، وقرةُ عيوننا ، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً ، أما بعد .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;أيها الناس ، اتقوا ربكم واستغفروه .. (استغفروا ربكم إنه كان غفاراً، يرسل السماء عليكم مدراراً ، ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهاراً) .&lt;br /&gt;عباد الله .. نَضَبت الآبار، ويبِست الأشجار، وذبلت الأزهار، وقلت الثمار .. ومات الزرع، وجف الضرع .. الأرض قد قَحِطت، والمواشي قد هَزُلت، والقلوب قد يئست .. وبينما الناس كذلك، إذا برحمة الله تنزل، فرَويت الأرض، وجرت الوديان، وامتلأت الآبار، وسالت العيون، وفاضت السدود برحمة الله وفضله .&lt;br /&gt;وواللهِ، لولا اللهُ ما سُقينا ولا تنعّمنا بما أوتينا&lt;br /&gt;لقد فرح بهذه النعمة الصغار والكبار، والصالحون والمقصرون .. ترى البهجة والسرور في وجوههم، استبشاراً برحمة ربهم .. بل لم تدع الفرحة فرصة لآخرين، فانطلقوا بسياراتهم ، إلى أماكن اجتماع السيول ونزول الأمطار .&lt;br /&gt;وبمناسبة نزول الأمطار، هذه بعض الوقفات على وجه الاختصار .&lt;br /&gt;1) (ولقد صرفناه بينهم ليذكروا):&lt;br /&gt;أيها المؤمنون، إن في نزول الأمطار وتصريفها بين البلاد، عبرةً لأولي الأبصار، وعظةً للعصاة والفجار، قال تعالى: (وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا ، لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا ، وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُورًا) .&lt;br /&gt;علينا أن نتذكر بنزول المطر، أن الله تعالى هو وحده القادر على إنزال الغيث ، وأن من الخطأ العظيم أن يُنسَب إنزالُ المطر إلى غيره من الكواكب والأنواء وارتفاع الضغط الجوي وانخفاضه أو غير ذلك من الأسباب، فعن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه قال: صلى بنا رسول الله صلاة الصبح بالحديبية في إثر سماء كانت من الليل، فلما انصرف أقبل على الناس فقال: ((هل تدرون ماذا قال ربكم؟)) قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: ((أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال: مطِرنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب، وأما من قال: مطرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب)) رواه مسلم .&lt;br /&gt;عباد الله، علينا أن نتذكر أيضاً، أن في إنزال المطر وإحياء الله الأرض بعد موتها عبرةً وآية لقدرته تعالى على إحياء الموتى يوم القيامة، قال سبحانه: (ومن آياته أنك ترى الأرض خاشعة فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) .&lt;br /&gt;2) لئن شكرتم لأزيدنكم:&lt;br /&gt;عباد الله، المطر نعمة من نعم الله، تستوجب شكر المنعم سبحانه الذي أنزله الله علينا ، فلولا فضله ورحمته ما سقينا .. اشكروا الله بالثناء عليه بألسنتكم، والتحدث بنعمته، واشكروا الله بالقيام بطاعته والإنابة إليه ،&lt;br /&gt;أكثروا من شكره، فهو سبحانه يحبّ الشاكرين، ويزيد النعم عند شكرها، قال تعالى: (وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ) .. وقال سبحانه: (وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنْ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ) ..وقال سبحانه: (أَفَرَأَيْتُمْ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ، أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنْ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ ، لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجاً فَلَوْلا تَشْكُرُونَ) .&lt;br /&gt;فاللهم لك الشكر على آلائك التي لا تعد ولا تحصى، اللهم لو شئت لجعلت ماءنا أجاجاً، ولكن برحمتك جعلته عذباً زلالاً، فلك الحمد والشكر لا نحصي ثناءً عليك، أنت كما أثنيت على نفسك .&lt;br /&gt;3) هل المطر دليل رضا الله؟&lt;br /&gt;إن إنزال المطر ليس بالتأكيد دليلا على رضا الله عن خلقه، فها هي دول الكفر والضلال ينزل عليها المطر يوميًا وعلى مدار العام .&lt;br /&gt;فلا يظن الواحدُ منا أن هذا المطرَ دليلُ رضا الله عن العباد، أو هو جزاءٌ مستحق لما قدمناه من أعمال؟&lt;br /&gt;نقول هذا: وفينا من لا يزال مصراً على الذنوب والعصيان، أو الظلمِ والعدوان، والتقصيرِ في حق الله، أو ظلمِ عباد الله.&lt;br /&gt;ليست القضية بالمكافأة، بل هي رحمة الله الواسعة ، ووالله ثم والله ، لولا رحمةُ الله بنا ، وحلمُه علينا، ما رأينا هذا الخيرَ.&lt;br /&gt;قد ينزل المطر بسبب دعوة رجلٍ صالحٍ أو صبي ، أو رحمةً بالبهائم .. وقد يكون استدراجًا من الله تعالى لخلقه .. وقد تكون تنبيهًا للمؤمنين المقصّرين لشكره وحمده والرجوع إليه .. نسأل الله أن يرزقنا شكر نعمته ، والإنابة إليه .&lt;br /&gt;ويشهد لهذه الحقيقة ويبرهن عليها، ما جاء في سنن ابن ماجه بسند حسن أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((لم يَنقُص قومٌ المكيالَ والميزان، إلا أخذوا بالسنين وشدةِ المؤنة وجورِ السلطان ، ولم يَمنعوا زكاةَ أموالهم، إلا مُنعوا القطر من السماء، ولولا البهائمَ ما أُمطِروا)) .&lt;br /&gt;كم من تجارنا ممن طبع على الله قلوبهم، فمنعوا زكاة أموالهم؟ .. ماذا ينتظرون؟ هل ينتظرون قارعة تصيبهم في أموالهم أو أهليهم؟ أم ينتظرون أن تصفح أموالُهم صفائح من حديد، فيحمى عليها في نار جهنم، فتكوى بها جباههم وجنوبهم وظهورهم .. نسأل الله السلامة والعافية .&lt;br /&gt;4) سنن مأثورة :&lt;br /&gt;من السنن النبوية المأثورة ما جاء في بعض الرخص المتعلقة بنزول المطر، ومن هذه الرخص الجمع بين الصلاتين، فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم الجمع بين الصلاتين في المسجد، رفعاً للمشقة عن أمته، ومن الرخص أيضاً، الصلاة في الراحلة أو في البيوت عند الحاجة .&lt;br /&gt;ومن السنن النبوية ما علّمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم من الأدعية والأذكار المتعلقة بالمطر . فقد كان الرسول صلى الله عليه وسلم كما يروي البخاري إذا رأى المطر قال: ((اللهم صيِّبا نافعا))، وعندما يتوقف المطر يقول: ((مطِرنا بفضل الله ورحمته))، وإذا نزل المطر وخشي منه الضرَر دعا وقال: ((اللهم حوالينا ولا علينا، اللهم على الآكام والضراب، وبطون الأودية ومنابت الشجر))، وإذا هبت الريحُ نهانا عن سبّها لأنها مأمورة، وكان يدعو بهذا الدعاء: ((اللهم إني أسألك خيرها وخير ما فيها وخير ما أرسلت به، وأعوذ بك من شرها وشر ما فيها وشر ما أرسلت به))، وجاء في الأثر بسند صحيح عن عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما أنه كان إذا سمع الرعد ترك الحديث وقال: (سبحان الذي يسبح الرعد بحمده والملائكة من خيفته).&lt;br /&gt;ومن سنن المطر، الدعاء ، فالدعاء عند نزول المطر من الأدعية المستجابة، فعن سهل بن سعد رضي الله عنه عن النبيّ رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((ثنتان ما تردان: الدعاء عند النداء وتحت المطر)) رواه الحاكم وحسنه الألباني .&lt;br /&gt;ومن السنن المأثورة عند نزول المطر، أن يحسر الإنسان شيئا من ملابسه حتى يصيبه المطر، تأسيًا برسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقد جاء في صحيح مسلم عن أنس قال: أصابنا ونحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم مطر قال: فحسر رسول الله صلى الله عليه وسلم ثوبه حتى أصابه من المطر فقلنا: يا رسول الله، لم صنعت هذا؟ قال: ((لأنه حديث عهد بربه)).&lt;br /&gt;فليحرص المسلم على هذه الأذكار والسنن، وكم هو جميل أن يعلّمها أهله وأطفالَه، ويرغبهم في حفظها والعمل بها .&lt;br /&gt;5) مظاهر سيئة:&lt;br /&gt;إنه بقدر ما دخلت نفوسنا الفرحة الغامرة بنزول المطر، فإنه يسوءنا ما نراه من بعض المشاهد السيئة التي صاحبت نزول الأمطار .&lt;br /&gt;شاهدنا تجمعات المياه المؤذية في بعض الشوارع والأحياء .. نعم، قد يكون لبعضها ما يبرره، لكن الأمر غير المبرر أن ترى الغش وعدم الأمانة من بعض المقاولين ومنفذي أعمال الطرق ومجاري المياه، وعدم التزامهم بالمواصفات والشروط، فما إن نزل المطر، حتى تجمعت المياه في تلك الطرقات، وجمعت معها الأوحال والأوساخ .&lt;br /&gt;ألا فليعلم منفذو تلك الطرقات بلا أمانة، ومستلموها منهم، أنهم شركاء في الوزر والإثم .. أمام الله أولاً ، ثم أمام ولاة الأمر، وعامة المسلمين المتضررين .&lt;br /&gt;وعلى جانب آخر، وفي بعض المباني، كشفت مياه الأمطار عن غش بعض المقاولين وعدم إحكامهم البناء ، فترى السقف يخر من ماء المطر، أو ترى النوافذ يتسرب منه الماء فتفسد أثاث البيوت .&lt;br /&gt;ومن المظاهر السيئة التي تصاحب نزول الأمطار، ما يقوم به بعض المستهترين ممن يسيرون بسرعة جنونية في مياه الأمطار فيؤذيون المارة، ويملأون ثيابهم بالأوساخ .. ألا فليتق الله المسلم، وليعامل الناس بمثل ما يحب أن يعاملوه به، وأن يحذر كل الحذر من أذية المسلمين في طرقهم ، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم، كما عند الطبراني بسند حسن: (من آذى المسلمين في طرقهم، وجبت عليه لعنتهم) .&lt;br /&gt;نفعني الله وإياكم بالقرآن العظيم ، وجعلنا الله وإياكم من عباده الشاكرين ، والحمد لله رب العالمين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الخطبة الثانية&lt;br /&gt;الحمد لله المتوحد بالجلال ... الوقفة السادسة والأخيرة:&lt;br /&gt;6) وصايا وتنبيهات ، لمرتادي البر والمتنزهات .&lt;br /&gt;عباد الله، حول خروج الناس للبر والمنتزهات ، يحسن التنبيه على عدة أمور:&lt;br /&gt;1- المحافظة على الصلوات المكتوبة، ويشرع التأذين لكل صلاة، والحرص على الأهل والأولاد في أداء الصلاة .&lt;br /&gt;2- أن لا يترتب على تتبع السيول والأمطار والبحث عن مضانها تضييع الساعات الطويلة والأوقات الكثيرة .&lt;br /&gt;3- الحذر من تبرج النساء، أو خروجهن بكامل زينتهن، أو كشف الوجه أمام السيارات المارة والمتنزهين الآخرين.&lt;br /&gt;4- القيام بالاحتساب والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر بالتي هي أحسن عند الحاجة إلى ذلك .&lt;br /&gt;5- أن لا يكون هذا الترويح والفرح على حساب الآخرة، وإغضاب الرحمن بالمعصية، فترى بعض الشباب هداهم الله، في عبث بالسيارات، وإيذاء للآخرين، ورفع لأصوات الموسيقى الصاخبة من السيارة، فأين شكر النعمة يا شباب .&lt;br /&gt;6- كم هو جميل أن تشرك أهلك ووالديك في الاستمتاع بمشاهدة هذا الخير، وأن لا تقصر ذلك على الزملاء والأصدقاء .&lt;br /&gt;7- توخّي الحذر أثناء قيادة السيارة خاصة عند انعدام الرؤية أحيانًا، فكم حصلت بسبب هذا الأمر من حوادث مروعة .&lt;br /&gt;8- الابتعاد عن أماكن اجتماع السيول وعدم الاقتراب منها أو السباحة فيها خاصة من قبل الأطفال.&lt;br /&gt;9- عدم الغفلة عن الأبناء في ذهابهم مع من يشاؤون بحجة الاستمتاع بهذه الأجواء، فقد يستغلّ ذلك ضعاف النفوس في أمور لا تحمد عواقبها .&lt;br /&gt;عباد الله صلوا وسلموا رحمكم الله على خير البرية ...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-3741149850262996275?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/3741149850262996275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/3741149850262996275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/3741149850262996275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post_21.html' title='نزول المطر'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-436831418103581009</id><published>2012-01-15T23:36:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T23:37:20.285-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار دروس وعبر</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سعى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ منذ دخوله المدينة إلى تثبيت دعائم الدولة الجديدة، فكانت من أولى خطواته المباركة، المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار، التي ذابت فيها عصبيات الجاهلية، وسقطت بها فوارق النسب واللون والوطن، وكانت من أقوى الدعائم في بناء الأمة،وتأسيس المجتمع المسلم الجديد في المدينة المنورة، حتى يتآلف ويقوى، ويكون صفا واحدا أمام أعدائه.                                                             .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;لقد وضعت الفترة الأولى من قدوم النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ إلى المدينة، كلا من المهاجرين والأنصار أمام مسئولية خاصة من الأخوة والتعاون، وكانت هذه المؤاخاة أقوى في حقيقتها من أخوة الرحم، وكان الأنصار على مستوى هذه المسئولية، فواسوا إخوانهم المهاجرين، وآثروهم على أنفسهم بخير الدنيا، فعن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: ( قالت الأنصار للنبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ: اقسم بيننا وبين إخواننا النخيل، قال: لا، فقالوا: تكفوننا المؤونة ونشرككم في الثمرة، فقالوا سمعنا وأطعنا )( البخاري ) . وقد ترتب على هذه المؤاخاة حقوق بين المتآخين، شملت التعاون المادي والرعاية، والنصيحة والتزاور، والمحبة والإيثار..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يحدثنا عبد الرحمن بن عوف ـ رضي الله عنه ـ عما وصلت إليه هذه المؤاخاة فيقول:( لما قدمنا إلى المدينة آخى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بيني وبين سعد بن الربيع ، فقال لي سعد : إني أكثر الأنصار مالا فأقسم لك نصف مالي، ولي امرأتان فانظر أعجبهما إليك فسمها لي أطلقها، فإذا انقضت عدتها فتزوجها، فقال عبد الرحمن بن عوف : بارك الله لك في أهلك ومالك، لا حاجة لي في ذلك، هل من سوق فيه تجارة ؟ قال سعد : سوق قينقاع ، قال فغدا إليه عبد الرحمن .. إلي آخر الحديث )( البخاري )، وقد شكر المهاجرون للأنصار فعلهم ومواقفهم الرفيعة في الكرم والإيثار، وقالوا يا رسول الله: ما رأينا مثل قوم قدمنا عليهم أحسن مواساة في قليل، ولا أحسن بذلا في كثير من الأنصار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولم يكن سعد بن الربيع منفردا في ذلك عن غيره من الأنصار، بل كان هذا شأن عامة الصحابة، حتى وصلت المؤاخاة إلى درجة أن يتوارث المتآخيان، ثم نسخ هذا التوارث بقول الله عز وجل :{ وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُوا الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ }(الأنفال:75)..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لقد حملت قضية المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار في طياتها كثيرا من المعاني الطيبة، التي كان من المهم أن تغرس في نفوس الصحابة، خاصة في تلك المرحلة الهامة من تاريخ الإسلام،لما لها من أثر قوي في بناء الدولة المسلمة، وهذه المعاني جديرة بأن نقف معها، لا لتأملها فحسب، بل لنقيم واقعنا اليوم كأفراد ومجتمعات عليها، ومن هذه المعاني:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العقيدة أساس البناء : فقد حصر الإسلام الأخوة والموالاة بين المؤمنين فقط، قال تعالى:{  إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ }(الحجرات: من الآية10)، وقطع الولاية بين المؤمنين والكافرين، فقال تعالى:{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ }(المائدة:51)..ولذلك كان التآخي بين المهاجرين والأنصار مسبوقا بعقيدة التوحيد وقائما عليها، فالعقيدة هي العمود الفقري للمؤاخاة التي حدثت في المدينة، لأن تلك العقيدة تضع الناس كلهم في مصاف العبودية لله دون الاعتبار لأي فارق، إلا فارق التقوى والعمل الصالح، قال تعالى:{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ } (الحجرات: من الآية13) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن ثم لم تكن هذه المؤاخاة شعاراً لا يظهر له أثر، بل كانت واقعا قائما على الإيمان بالله، قال تعالى:{ وَالَّذِينَ تَبَوَّأُوا الدَّارَ وَالْأِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }(الحشر:9).. تعلم الصحابة ذلك وتربوا عليه، فكان ولاؤهم لله ورسوله والمؤمنين، وامتلأ تاريخهم بالمواقف الرائعة التي تدل على فهمهم وتحقيقهم لمعنى الولاء الذي منحوه لخالقهم ولدينهم وإخوانهم..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحب في الله : فالمؤاخاة على الحب في الله من أقوى الدعائم في بناء الأمة الإسلامية، ولذلك حرص النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ على تعميق هذا المعنى في المجتمع المسلم الجديد، فقال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ( إن الله تعالى يقول يوم القيامة : أين المتحابون بجلالي ، اليوم أظلهم  في ظلي يوم لا ظل إلا ظلي )( مسلم ) . فبالحب في الله أصبحت المؤاخاة عقدا نافذا لا لفظا فارغا، وعملا يرتبط بالدماء والأموال، لا كلمة تنطق بها الألسنة، ومن ثم كانت عواطف الإيثار والمواساة والمؤانسة تمتزج في هذه الأخوة، وتملأ المجتمع الجديد بأروع الأمثلة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النصيحة بين المتآخين في الله :  فقد كان للمؤاخاة أثر في التناصح بين المسلمين،فعن أبي جحيفة عن أبيه قال: ( آخى النبي - صلى الله عليه وسلم – بين سلمان وأبي الدرداء ، فزار سلمان أبا الدرداء فرأى أم الدرداء متبذِّلة(قبل نزول الحجاب) فقال لها : ما شأنك؟ قالت: أخوك أبو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا،  فجاء أبو الدرداء فصنع له طعاماً، فقال له : كل فإني صائم، قال: ما أنا بآكل حتى تأكل، قال: فأكل، فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء يقوم، قال: نم، فنام، ثم ذهب يقوم، فقال نم، فلما كان من آخر الليل قال سلمان قم الآن، فصلَّيا، فقال له سلمان : إن لربك عليك حقا، ولنفسك عليك حقا، ولأهلك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه، فأتى النبي - صلى الله عليه وسلم - فذكر ذلك له، فقال له النبي - صلى الله عليه وسلم - صدق سلمان ) ( البخاري ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;القضاء على الفوارق الجاهلية : كفوارق النسب والقبيلة والجاه وغير ذلك مما كان سائدا في تلك المجتمعات، حيث سادت العصبية وكانت دينا عندهم، فكان من أهداف المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار إذابة هذه الفوارق، لأنها أمراض وآفات تضعف المجتمع، وتحول بينه وبين القوة والتمكين، لأنه من الصعب بل من المستحيل أن تستأنف حياة إسلامية عزيزة قوية إذا لم يحدث التآخي بين أفراد المجتمعات والأمة الإسلامية، ومن ثم كانت المؤاخاة نعمة من نعم الله، ومن أسباب القوة والعزة والثبات أمام الأعداء، قال تعالى: { وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ }(آل عمران:103) ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لقد ساهمت المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار في تقوية المجتمع المسلم الجديد في المدينة، وبتحقيقها ذابت العصبية وحظوظ النفس، فلا ولاء إلا لله ورسوله والمؤمنين، وأشاعت في المجتمع عواطف ومشاعر الحب، وملأته بأروع الأمثلة من الأخوة والعطاء والتناصح والإيثار، وجعلته جسدا واحدا في السراء والضراء، والآلام والآمال، ومن هنا كانت حكمته ـ صلى الله عليه وسلم ـ في جعل أول عمل يقوم به حين مقدمه المدينة، ـ بعد بناء المسجد ـ تأسيسه للمجتمع على المؤاخاة، والتي كانت حلا لكثير من المشاكل، وأهلت المسلمين ليكونوا أقوى أمة على الأرض.. فما أحوجنا اليوم إلى التحقق بهذه المؤاخاة ، للصمود في وجه الأعداء، ومواجهة التحديات التي تواجه أمتنا في هذه الأيام  .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-436831418103581009?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/436831418103581009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/436831418103581009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/436831418103581009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post_15.html' title='المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار دروس وعبر'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-2255961614841687316</id><published>2012-01-05T22:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-05T22:47:40.264-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>خطر الشيعة الروافض على الإسلام والمسلمين</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;من أصول الإسلام العظيمة، الاعتصام بحبل الله تعالى ونبذ الخلاف والفرقة قال الله عز وجل: ((واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا))، وقد كان المسلمون في صدر هذه الأمة، مستمسكون بكتاب ربهم وسنة نبيهم، إلى أن حدثت المصيبة العظمى، والفتنة الكبرى بمقتل عثمان بن عفان رضي الله عنه، فانفتح باب الفتن على مصراعيه، ووقع القتال بين المسلمين في صفين بين أنصار علي، وأنصار معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنهما، وعلى إثر هذه الوقائع المهولة، ظهرت بعض الفرق المنحرفة مثل الخوارج الذين يكفرون عليا رضي الله عنه، والشيعة الروافض الذين يغلون في علي ويكفرون معاوية رضي الله عنه، وأول ظهور التشيع كان من الكوفة، ولذلك جاء في أخبار الشيعة أنه لم يقبل دعوتهم من أمصار المسلمين إلا الكوفة، ولعل ظهور هذه البدعة الشنيعة كان بسبب البعد عن الدار النبوية، منزل الوحي، ومهد الرسالة، لأن البدع إنما تنشأ وتنموا في ظل الجهل، وغيبة أهل العلم، لذلك كان خير منهاج لمحاربة البدع هو نشر السنة، وبث العلم الصحيح النافع في الناس، ولاشك أن كشف القناع عن هذه الفرقة وغيرها من الفرق الضالة، الخارجة عن الجماعة، المجانبة للسنة، من الواجبات المتحتمات، لرفع الالتباس، وبيان الحق للناس، وتبصير الناس بأمور دينهم، وهذا من جنس الجهاد الذي أمر الله تعالى به في قوله: ((ولا تطع الكافرين والمنافقين وجاهدهم به جهادا كبيرا))، قال الإمام ابن تيمية رحمه الله في مجموع الفتاوى ما نصه: "ومثل أئمة البدع من أهل المقالات المخالفة للكتاب والسنة أو العبادات المخالفة للكتاب والسنة فإن بيان حالهم، وتحذير الأمة منهم واجب باتفاق المسلمين، حتى قيل لأحمد بن حنبل: الرجل يصوم ويصلى ويعتكف، أحب إليك أو يتكلم في أهل البدع، فقال: إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين، هذا أفضل. فبين أن نفع هذا عام للمسلمين في دينهم من جنس الجهاد في سبيل الله، إذ تطهير سبيل الله ودينه ومنهاجه وشرعته ودفع بغي هؤلاء وعدوانهم على ذلك واجب على الكفاية باتفاق المسلمين، ولولا من يقيمه الله لدفع ضرر هؤلاء لفسد الدين، وكان فساده أعظم من فساد استيلاء العدو من أهل الحرب، فإن هؤلاء إذا استولوا لم يفسدوا القلوب وما فيها من الدين إلا تبعا، وأما أولئك فهم يفسدون القلوب ابتداء".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;وقد اعتمد العدو على مر العصور على هذه الفرق، لتقويض اجتماع هذه الأمة، وتشتيت شملها، وبث الخلاف والفرقة في صفوفها، لذلك لا تجد لهذه الفرق خلافات مع العدو، بل تجده يغذيها ويهيئ لها الدعم المادي والمعنوي، ويوفر لها كافة الوسائل للوصول إلى دفة الحكم. لأنه وجد فيها خير معين على حرب المسلمين، واحتلال أرضهم، واستباحة أموالهم وأعراضهم، ومن قرأ تاريخ النصيرية، والإسماعلية الباطنية، والشيعة الإمامية وغيرهم، يجده طافحا بمثل هذا الأمر. ولا شك أن بيان حال هؤلاء فيه تفويت الفرصة أمام العدو للوصول إلى مآربه الخبيثة.&lt;br /&gt;ومعظم الفرق الخارجة عن السنة، قد ضعف نشاطها اليوم، وقل أتباعها، وانكفأت على نفسها، وقلت منابذتها لأهل السنة. إلا طائفة الشيعة الإمامية الإثني عشرية فإنها من أكثر الطوائف انتشارا وتنظيما، وعداء لأهل السنة، وقد نجحت هذه الطائفة في إقامة كيانات تابعة لها لحماية التشيع، وفرضه على المسلمين، وتعد إيران اليوم من أكثر الدول تبنيا ورعاية لهذا المشروع المغرض.&lt;br /&gt;ولما أدرك علماء الإسلام الناصحون ضرر هذه الطائفة، واجتهادها في نشر باطلها، وترويجها على أكثر الناس، حذروا منها، وبينوا حالها، وأسدلوا الستار عن عقائدها الباطلة، المناقضة لكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وإجماع الأمة. ومن أخبر الناس بهذه الطائفة الشعبي رحمة الله وغيره من علماء الكوفة، وقد ثبت عنه أنه قال: " ما رأيت أحمق من الخشبية لو كانوا من الطير لكانوا رخما ولو كانوا من البهائم لكانوا حمرا والله لو طلبت منهم أن يملئوا لي هذا البيت ذهبا على أن أكذب على علي لأعطوني ووالله ما أكذب عليه أبدا". والخشبية: هم الرافضة سموا بذلك لقولهم إنا لا نقاتل بالسيف إلا مع إمام معصوم فقاتلوا بالخشب. والرخم: واحدتُه رَخَمة طائر أبقع على شكل النسر موصوف بالغدر وقيل بالقذر. ومنه قولهم: رَخِمَ السِّقاءُ إذا أنْتَن.&lt;br /&gt;وروى عبد الرحمن بن مالك بن مِغْول عن أبيه قال: قال لي الشعبي: أحذركم هذه الأهواء المضلة وشرها الرافضة، لم يدخلوا في الإسلام رغبة ولا رهبة، ولكن مقتا لأهل الإسلام وبغيا عليهم". وهذه الآثار رواها عن الشعبي رحمه الله، أبو حفص بن شاهين، وأبو بكر الخلال، وعبد الله بن الإمام أحمد، وغيرهم من العلماء الذين ألفوا في السنة.&lt;br /&gt;وقد روي عن الشعبي رحمه الله أيضا ما يدل على وجود تشابه بين الشيعة واليهود في الأصول الفكرية والعقدية، روى ذلك عنه أبو بكر الخلال في كتاب السنة. وهذا الذي روي عنه وإن كان في إسناد من لا يعتمد، فهو –كما قال الإمام ابن تيمية-كلام معروف بالدليل لا يحتاج إلى نقل وإسناد.&lt;br /&gt;وقد أشار ابن حزم في كتاب 'الفصل' إلى شيء من ذلك حيث قال: "فصار هؤلاء-الشيعة- في سبيل اليهود القائلين..بأن الياس عليه السلام وفنحاس بن العازار بن هارون عليه السلام أحياء إلى اليوم". لأن الشيعة يقولون بحياة محمد بن الحسن العسكري-وهو الإمام الثاني عشر إلى اليوم.&lt;br /&gt;وذكر ابن تيمية رحمه الله في منهاج السنة: "أن بينهم-الشيعة- وبين اليهود من المشابهة في الخبث واتباع الهوى، وغير ذلك من أخلاق اليهود، وبينهم وبين النصارى من المشابهة في الغلو والجهل، وغير ذلك من أخلاق النصارى، ما أشبهوا به هؤلاء من وجه، وهؤلاء من وجه، وما زال الناس يصفونهم بذلك".&lt;br /&gt;قلت: من المعلوم أن مؤسس مذهب الرافضة هو عبد الله بن سبأ، وكان يهوديا من يهود صنعاء، دخل الإسلام ليفسده، كما أفسد بولص دين النصارى. وأصولهم الكبرى التي يقوم عليها مذهبهم، كالرجعة، والوصي، وإظهار سب الصحابة، والغلو في علي رضي الله عنه وغير ذلك، مستمدة من هذا اليهودي. فلا غرو أن تكون صفاتهم مشابهة لصفات اليهود.&lt;br /&gt;وأما حماقاتهم فقد ذكر أهل العلم منها شيء يطول وصفه، وقد أورد شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في مقدمة منهاج السنة من ذلك ما يثير العجب.&lt;br /&gt;وأما غدرهم وخيانتهم للإسلام والمسلمين، وتعاونهم مع العدو ضد المسلمين، فأكثر من أن تحصى، ولا أدل على ذلك من احتلال بغداد من قِبَل التتار، بإيعاز من الوزير ابن العلقمي الرافضي، وهاهم أحفاده اليوم يمكنون للمحتل الأمريكي في العراق، ويقدمون له الدعم المادي والمعنوي، ويدافعون عن بقائه في البلاد. ومواقفهم المخزية هذه تؤكد صدق قول شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: "وكذلك إذا صار لليهود دولة بالعراق وغيره، تكون الرافضة من أعظم أعوانهم، فهم دائما يوالون الكفار من المشركين واليهود والنصارى، ويعاونونهم على قتال المسلمين ومعاداتهم".&lt;br /&gt;وأما معتقداتهم فقد جانبوا فيها الصواب، وحالفهم فيها الزلل، وفيها من الكفر والشرك، ما يعلمه كل من نظر في كتبهم، خصوصا كتاب أصول الكافي للكليني، الذي جمع بين دفتيه الكثير من هذه العقائد الفاسدة، وسنورد من ذلك أنموذجين من بين عشرات النماذج التي ملأت الكتاب. قال الكليني: "باب أن الأئمة عليهم السلام يعلمون متى يموتون، وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم".&lt;br /&gt;وقال: "باب: أن الأئمة عليهم السلام يعلمون علم ما كان، وما يكون وأنه لا يخفي عليهم الشيء صلوات الله عليهم".أصول الكافي: (1/317-319). ومفاد هذا الكلام أن الأئمة عندهم يعلمون الغيب، الذي اختص الله تعالى بعلمه, فنقضوا القرآن، وخالفوا قول الله عز وجل: (( قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله)).&lt;br /&gt;وختاما أقول: إن هذه الطائفة قد جرت على الإسلام والمسلمين من البلايا والمحن ما لا يعلمه إلا الله، وجاءت بعقائد باطلة غريبة عن الإسلام والمسلمين، ولله در الإمام ابن حزم حيث قال: "ما نعلم أهل قرية أشد سعياً في إفساد الإسلام وكيده من الرافضة". والله المستعان&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-2255961614841687316?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/2255961614841687316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2255961614841687316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2255961614841687316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2012/01/blog-post.html' title='خطر الشيعة الروافض على الإسلام والمسلمين'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-4196126846911423774</id><published>2011-12-28T22:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T22:16:21.231-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>نبذة عن شهر صفر</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله&lt;br /&gt;وبعد&lt;br /&gt;شهر صفر هو أحد الشهور الإثنى عشر الهجرية وهو الشهر الذي بعد المحرم ، قال بعضهم : سمِّي بذلك لإصفار مكَّة من أهلها ( أي خلّوها من أهلها ) إذا سافروا فيه ، وقيل : سَمَّوا الشهر صفراً لأنهم كانوا يغزون فيه القبائل فيتركون من لقوا صِفْراً من المتاع ( أي يسلبونه متاعه فيصبح لا متاع له ) . انظر لسان العرب لابن منظور ج/4 ص/462-463&lt;br /&gt;وسيتناول الحديث عن هذا الشهر النقاط التالية :&lt;br /&gt;1. ما ورد فيه عند العرب الجاهليين .&lt;br /&gt;2. ما ورد في الشرع مما يخالف أهل الجاهلية .&lt;br /&gt;3. ما يوجد في هذا الشهر من البدع والاعتقادات الفاسدة من المنتسبين للإسلام .&lt;br /&gt;4. ما حدث في هذا الشهر من غزوات وأحداث مهمة في حياة النبي صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;5. ما ورد في الأحاديث المكذوبة في صفر .&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;أولاً :&lt;br /&gt;ما ورد فيه عند العرب الجاهليين :&lt;br /&gt;كان للعرب في شهر صفر منكران عظيمان : الأول : التلاعب فيه تقديما وتأخيرا ، والثاني : التشاؤم منه .&lt;br /&gt;1. من المعلوم أن الله تعالى خلق السنة وعدة شهورها اثنا عشر شهراً ، وقد جعل الله تعالى منها أربعةً حرم ، حرَّم فيها القتال تعظيماً لشأنها ، وهذه الأشهر هي : ذو القعدة ، ذو الحجة ، محرم ، ورجب .&lt;br /&gt;ومصداق ذلك في كتاب الله قوله تعالى { إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم } [ التوبة / 36 ] .&lt;br /&gt;وقد علم المشركون ذلك ، لكنهم كانوا يؤخرون فيها ويقدمون على هواهم ، ومن ذلك : أنهم جعلوا شهر " صفر " بدلاً من " المحرَّم " !&lt;br /&gt;وكانوا يعتقدون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور ، وهذه طائفة من أقوال أهل العلم في ذلك :&lt;br /&gt;أ. عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض ، ويجعلون المحرَّم صفراً ، ويقولون : إذا برأ الدَّبر ، وعفا الأثر ، وانسلخ صفر : حلَّت العمرة لمن اعتمر .&lt;br /&gt;رواه البخاري ( 1489 ) ومسلم ( 1240 ) .&lt;br /&gt;ب. قال ابن العربي :&lt;br /&gt;المسألة الثانية : كيفية النسيء :&lt;br /&gt;ثلاثة أقوال :&lt;br /&gt;الأول :&lt;br /&gt;عن ابن عباس أن جنادة بن عوف بن أمية الكناني كان يوافي الموسم كل عام ، فينادي : ألا إن أبا ثمامة لا يعاب ولا يجاب ، ألا وإن صفراً العام الأول حلال ، فنحرمه عاما ، ونحله عاما ، وكانوا مع هوازن وغطفان وبني سليم .&lt;br /&gt;وفي لفظة : أنه كان يقول : إنا قدمنا المحرم وأخرنا صفراً ، ثم يأتي العام الثاني فيقول : إنا حرمنا صفرا وأخرنا المحرم ؛ فهو هذا التأخير .&lt;br /&gt;الثاني : الزيادة : قال قتادة : عمد قوم من أهل الضلالة فزادوا صفرا في الأشهر الحرم ، فكان يقوم قائمهم في الموسم فيقول : ألا إن آلهتكم قد حرمت العام المحرم ، فيحرمونه ذلك العام ، ثم يقوم في العام المقبل فيقول : ألا إن آلهتكم قد حرمت صفرا فيحرمونه ذلك العام ، ويقولون : الصفران . وروى ابن وهب ، وابن القاسم عن مالك نحوه قال : كان أهل الجاهلية يجعلونه صفرين ، فلذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم : " لا صفر " ، وكذلك روى أشهب عنه .&lt;br /&gt;الثالث : تبديل الحج : قال مجاهد بإسناد آخر : { إنما النسيء زيادة في الكفر } قال : حجوا في ذي الحجة عامين ، ثم حجوا في المحرم عامين ، ثم حجوا في صفر عامين ، فكانوا يحجون في كل سنة في كل شهر عامين حتى وافت حجة أبي بكر في ذي القعدة ، ثم حج النبي في ذي الحجة ، فذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح في خطبته : " إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض " ، رواه ابن عباس وغيره ، واللفظ له قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " أيها الناس ، اسمعوا قولي ، فإني لا أدري لعلي لا ألقاكم بعد يومي هذا في هذا الموقف أيها الناس ، إن دماءكم وأموالكم حرام إلى يوم تلقون ربكم ، كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا ، في بلدكم هذا ، وإنكم ستلقون ربكم فيسألكم عن أعمالكم . وقد بلغت ، فمن كان عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها ، وإن كل ربا موضوع ، ولكم رءوس أموالكم ، لا تظلمون ولا تظلمون ، قضى الله أن لا ربا ، وإن ربا عباس بن عبد المطلب موضوع كله ، وإن كل دم في الجاهلية موضوع ، وإن أول دمائكم أضع دم ابن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب ، كان مسترضعا في بني ليث فقتلته هذيل ، فهو أول ما أبدأ به من دماء الجاهلية .&lt;br /&gt;أما بعد ، أيها الناس ، فإن الشيطان قد يئس أن يعبد بأرضكم ، ولكنه إن يطع فيما سوى ذلك مما تحقرون من أعمالكم فقد رضي به ، فاحذروه أيها الناس على دينكم ، وإن النسيء زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا إلى قوله ما حرم الله ، وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السماوات والأرض ، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً ، منها أربعة حرم : ثلاث متواليات ، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان " ، وذكر سائر الحديث .&lt;br /&gt;" أحكام القرآن " ( 2 / 503 - 504 ) .&lt;br /&gt;2. أما التشاؤم من شهر صفر فقد كان مشهوراً عند أهل الجاهلية ولا زالت بقاياه في بعض من ينتسب للإسلام .&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد " .&lt;br /&gt;رواه البخاري ( 5387 ) ومسلم ( 2220 ) .&lt;br /&gt;قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :&lt;br /&gt;و " صفر " فُسِّر بتفاسير :&lt;br /&gt;الأول : أنه شهر صفر المعروف ، والعرب يتشاءمون به .&lt;br /&gt;الثاني : أنه داء في البطن يصيب البعير ، وينتقل من بعير إلى آخر ، فيكون عطفه على العدوى من باب عطف الخاص على العام .&lt;br /&gt;الثالث : صفر : شهر صفر ، والمراد به النسيء الذي يُضل به الذين كفروا ، فيؤخرون تحريم شهر المحرم إلى صفر ، يحلونه عاماً ويحرمونه عاماً .&lt;br /&gt;وأرجحها : أن المراد : شهر صفر ، حيث كانوا يتشاءمون به في الجاهلية .&lt;br /&gt;والأزمنة لا دخل لها في التأثير وفي تقدير الله عز وجل ، فهو كغيره من الأزمنة يُقدَّر فيه الخير والشر .&lt;br /&gt;وبعض الناس إذا انتهى من عمل معين في اليوم الخامس والعشرين - مثلاً - من صفر أرَّخ ذلك وقال : انتهى في الخامس والعشرين من شهر صفر الخير ، فهذا من باب مداواة البدعة بالبدعة ، فهو ليس شهر خير ولا شر ؛ ولهذا أنكر بعض السلف على من إذا سمع البومة تنعق قال : " خيراً إن شاء الله " ، فلا يقال خير ولا شر ، بل هي تنعق كبقية الطيور .&lt;br /&gt;فهذه الأربعة التي نفاها الرسول صلى الله عليه وسلم تدل على وجوب التوكل على الله وصدق العزيمة وألا يضعف الملم أمام هذه الأمور .&lt;br /&gt;وإذا ألقى المسلم بالَه لهذه الأمور فلا يخلو من حالين :&lt;br /&gt;الأولى : إما أن يستجيب لها بأن يقدم أو يحجم ، فيكون حينئذٍ قد علَّق أفعاله بما لا حقيقة له .&lt;br /&gt;الثانية : أن لا يستجيب بأن يقدم ولا يبالي ، لكن يبقى في نفسه نوع من الهم أو الغم ، وهذا وإن كان أهون من الأول لكن يجب أن لا يستجيب لداعي هذه الأمور مطلقاً ، وأن يكون معتمداً على الله عز وجل …&lt;br /&gt;والنفي في هذه الأمور الأربعة ليس نفياً للوجود ؛ لأنها موجودة ، ولكنه نفي للتأثير ، فالمؤثر هو الله ، فما كان سبباً معلوماً فهو سبب صحيح ، وما كان سبباً موهوماً فهو سبب باطل ، ويكون نفياً لتأثيره بنفسه ولسببيته …&lt;br /&gt;" مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين " ( 2 / 113 ، 115 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً :&lt;br /&gt;ما ورد في الشرع مما يخالف أهل الجاهلية .&lt;br /&gt;وقد سبق حديث أبي هريرة في الصحيحين ، وفيه بيان أن اعتقاد أهل الجاهلية في صفر مذموم ، فهو شهر من شهور الله لا إرادة له إنما يمضي بتسخير الله له .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثاً :&lt;br /&gt;ما يوجد في هذا الشهر من البدع والاعتقادات الفاسدة من المنتسبين للإسلام .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. سئلت اللجنة الدائمة :&lt;br /&gt;إن بعض العلماء في بلادنا يزعمون أن في دين الإسلام نافلة يصليها يوم الأربعاء آخر شهر صفر وقت صلاة الضحى أربع ركعات ، بتسليمة واحدة تقرأ في كل ركعة : فاتحة الكتاب وسورة الكوثر سبع عشرة مرة ، وسورة الإخلاص خمسين مرة ، والمعوذتين مرة مرة ، تفعل ذلك في كل ركعة ، وتسلم ، وحين تسلم تشرع في قراءة { الله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون } ثلاثمائة وستين مرة ، وجوهر الكمال ثلاث مرات ، واختتم بسبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .&lt;br /&gt;وتصدَّق بشيء من الخبز إلى الفقراء ، وخاصية هذه الآية لدفع البلاء الذي ينزل في الأربعاء الأخير من شهر صفر .&lt;br /&gt;وقولهم إنه ينزل في كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفاً من البليَّات ، وكل ذلك يوم الأربعاء الأخير من شهر صفر ، فيكون ذلك اليوم أصعب الأيام في السنة كلها ، فمن صلَّى هذه الصلاة بالكيفيَّة المذكورة : حفظه الله بكرمه من جميع البلايا التي تنزل في ذلك اليوم ، ولم يحسم حوله لتكون محواً يشرب منه من لا يقدر على أداء الكيفية كالصبيان ، وهل هذا هو الحل ؟&lt;br /&gt;فأجاب علماء اللجنة :&lt;br /&gt;الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد :&lt;br /&gt;هذه النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلاً من الكتاب ولا من السنَّة ، ولم يثبت لدينا أنَّ أحداً من سلف هذه الأمَّة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة ، بل هي بدعة منكرة .&lt;br /&gt;وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : " من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد " وقال : " من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد " .&lt;br /&gt;ومن نسب هذه الصلاة وما ذُكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحدٍ من الصحابة رضي الله عنهم : فقد أعظم الفرية ، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة الكذَّابين .&lt;br /&gt;" فتاوى اللجنة الدائمة " ( 2 / 354 ) .&lt;br /&gt;2. وقال الشيخ محمد عبد السلام الشقيري :&lt;br /&gt;قد اعتاد الجهلاء أن يكتبوا آيات السلام كـ " سلام على نوح في العالمين " إلخ في آخر أربعاء من شهر صفر ثم يضعونها في الأواني ويشربون ويتبركون بها ويتهادونها لاعتقادهم أن هذا يُذهب الشرور ، وهذا اعتقاد فاسد ، وتشاؤم مذموم ، وابتداع قبيح يجب أن يُنكره كل من يراه على فاعله .&lt;br /&gt;" السنن والمبتدعات " ( ص 111 ، 112 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعاً :&lt;br /&gt;ما حدث في هذا الشهر من غزوات وأحداث مهمة في حياة النبي صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;وهي كثيرة ، ويمكن اختيار بعضها :&lt;br /&gt;1. قال ابن القيم :&lt;br /&gt;ثم غزا بنفسه غزوة " الأبواء " ويقال لها " ودَّان " ، وهي أول غزوة غزاها بنفسه ، وكانت في صفر على رأس اثني عشر شهراً من مهاجره ، وحمل لواءه حمزة بن عبد المطلب وكان أبيض ، واستخلف على المدينة سعد بن عبادة ، وخرج في المهاجرين خاصة يعترض عيراً لقريش ، فلم يلق كيداً .&lt;br /&gt;وفي هذه الغزوة وادع مخشيَّ بن عمرو الضمري وكان سيد بني ضمرة في زمانه على ألا يغزو بني ضمرة ولا يغزوه ، ولا أن يكثِّروا عليه جمعاً ولا يعينوا عليه عدوا وكتب بينه وبينهم كتابا وكانت غيبته خمس عشرة ليلة .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 164 ، 165 ) .&lt;br /&gt;2. وقال :&lt;br /&gt;فلما كان صفر - ( سنة ثلاث من الهجرة ) - قدم عليه قوم من " عَضَل " و " القارة " ، وذكروا أن فيهم إسلاما ، وسألوه أن يبعث معهم من يعلِّمهم الدين ، ويقرؤهم القرآن ، فبعث معهم ستة نفر - في قول ابن إسحاق ، وقال البخاري : كانوا عشرة - وأمَّر عليهم مرثد بن أبي مرثد الغنوي ، وفيهم خبيب بن عدي ، فذهبوا معهم ، فلما كانوا بالرجيع - وهو ماء لهذيل بناحية الحجاز - غدروا بهم واستصرخوا عليهم هذيلا فجاؤوا حتى أحاطوا بهم فقتلوا عامتهم واستأسروا خبيب بن عدي وزيد بن الدَّثِنة ، فذهبوا بهما وباعوهما بمكة وكانا قَتلا من رؤوسهم يوم بدر .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 244 ) .&lt;br /&gt;3. وقال :&lt;br /&gt;وفي هذا الشهر بعينه وهو صفر من السنة الرابعة كانت وقعة " بئر معونة " وملخصها : أن أبا براء عامر بن مالك المدعو " ملاعب الأسنَّة " قدم على رسول الله المدينة فدعاه إلى الإسلام فلم يسلم ، ولم يبعد ، فقال : يا رسول الله لو بعثت أصحابك إلى أهل نجد يدعونهم إلى دينك لرجوت أن يجيبونهم ، فقال : إني أخاف عليهم أهل نجد ، فقال أبو براء : أنا جار لهم ، فبعث معه أربعين رجلا في قول ابن إسحاق ، وفي الصحيح أنهم كانوا سبعين ، والذي في الصحيح : هو الصحيح ، وأمَّر عليهم المنذر بن عمرو أحد بني ساعدة الملقب بالمعنق ليموت ، وكانوا من خيار المسلمين وفضلائهم وساداتهم وقرائهم فساروا حتى نزلوا " بئر معونة " - وهي بين أرض بني عامر وحرة بني سليم - فنزلوا هناك ، ثم بعثوا حرام بن ملحان أخا أم سليم بكتاب رسول الله إلى عدو الله عامر بن الطفيل فلم ينظر فيه ، وأمَر رجلا فطعنه بالحربة من خلفه ، فلما أنفذها فيه ورأى الدم قال : فزت ورب الكعبة ، ثم استنفر عدو الله لفوره بني عامر إلى قتال الباقين فلم يجيبوه لأجل جوار أبي براء ، فاستنفر بني سليم فأجابته " عصية " و " رعل " و " ذكوان " ، فجاؤوا حتى أحاطوا بأصحاب رسول الله فقاتلوا حتى قتلوا عن آخرهم إلا كعب بن زيد بن النجار فإنه ارتُثَّ - ( أي : رفع وبه جراح ) - بين القتلى فعاش حتى قتل يوم الخندق ، وكان عمرو بن أمية الضمري والمنذر بن عقبة بن عامر في سرح المسلمين فرأيا الطير تحوم على موضع الوقعة فنزل المنذر بن محمد فقاتل المشركين حتى قتل مع أصحابه وأسر عمرو بن أمية الضمري ، فلما أخبر أنه من " مضر " جز عامرٌ ناصيته وأعتقه عن رقبة كانت على أمِّه ، ورجع عمرو بن أمية ، فلما كان بالقرقرة من صدر قناة - ( اسم موضع ) - نزل في ظل شجرة ، وجاء رجلان من بني كلاب فنزلا معه ، فلما ناما فتك بهما عمرو وهو يرى أنه قد أصاب ثأراً من أصحابه ، وإذا معهما عهدٌ من رسول الله لم يشعر به ، فلما قدم أخبر رسول الله بما فعل فقال : لقد قتلتَ قتيلين لأَدِينَّهما .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 246 - 248 ) .&lt;br /&gt;4. وقال ابن القيم :&lt;br /&gt;فإن خروجه - ( أي : إلى خيبر ) - كان في أواخر المحرم لا في أوله وفتحها إنما كان في صفر .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 339 ، 340 ) .&lt;br /&gt;5. وقال :&lt;br /&gt;فصل في ذكر سرية " قطبة بن عامر بن حديدة " إلى خثعم .&lt;br /&gt;وكانت في صفر سنة تسع ، قال ابن سعد : قالوا : بعث رسول الله قطبة بن عامر في عشرين رجلا إلى حي من خثعم بناحية تبالة ، وأمَره أن يشن الغارة ، فخرجوا على عشرة أبعرة يعتقبونها ، فأخذوا رجلا فسألوه فاستعجم عليهم ، فجعل يصيح بالحاضرة ، ويحذرهم ، فضربوا عنقه ، ثم أقاموا حتى نام الحاضرة فشنوا عليهم الغارة فاقتتلوا قتالاً شديداً حتى كثر الجرحى في الفريقين جميعاً ، وقَتل قطبة بن عامر مَن قتل ، وساقوا النَّعم والنساء والشاء إلى المدينة ، وفي القصة أنه اجتمع القوم ، وركبوا في آثارهم فأرسل الله سبحانه عليهم سيلاً عظيماً حال بينهم وبين المسلمين فساقوا النَّعم والشاء والسبي وهم ينظرون لا يستطيعون أن يعبروا إليهم حتى غابوا عنهم .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 514 ) .&lt;br /&gt;6. وقال :&lt;br /&gt;وقدم على رسول الله وفد " عُذرة " في صفر سنة تسع اثنا عشر رجلاً فيهم جمرة بن النعمان فقال رسول الله : مَن القوم ؟ فقال متكلمهم : من لا تنكره نحن بنو عذرة ، إخوة قصي لأمِّه ، نحن الذين عضدوا قصيّاً ، وأزاحوا من بطن مكة خزاعة وبني بكر ، ولنا قرابات وأرحام ، قال رسول الله : مرحبا بكم وأهلا ما أعرفني بكم ، فأسلموا ، وبشرهم رسول الله بفتح الشام وهرَب هرقل إلى ممتنع من بلاده ، ونهاهم رسول الله عن سؤال الكاهنة ، وعن الذبائح التي كانوا يذبحونها ، وأخبرهم أن ليس عليهم إلا الأضحية ، فأقاموا أياماً بدار رملة ثم انصرفوا وقد أجيزوا .&lt;br /&gt;" زاد المعاد " ( 3 / 657 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خامساً :&lt;br /&gt;ما ورد في الأحاديث المكذوبة في صفر :&lt;br /&gt;قال ابن القيم :&lt;br /&gt;فصل أحاديث التواريخ المستقبلة :&lt;br /&gt;ومنها : أن يكون في الحديث تاريخ كذا وكذا ، مثل قوله : إذا كانت سنة كذا وكذا وقع كيت وكيت ، وإذا كان شهر كذا وكذا وقع كيت وكيت .&lt;br /&gt;وكقول الكذاب الأشر : إذا انكسف القمر في المحرم : كان الغلاء والقتال وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صفر : كان كذا وكذا .&lt;br /&gt;واستمر الكذاب في الشهور كلها .&lt;br /&gt;وأحاديث هذا الباب كلها كذب مفترى .&lt;br /&gt;" المنار المنيف " ( ص 64 ) .&lt;br /&gt;والله أعلم.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-4196126846911423774?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/4196126846911423774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_341.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/4196126846911423774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/4196126846911423774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_341.html' title='نبذة عن شهر صفر'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-3269139717990644153</id><published>2011-12-28T22:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T22:13:07.414-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>فوائد و أحكام عن شهر صفر</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أخي المسلم : حرصا مني على تعميم الفائدة ، و دفاعا عن سنة نبينا صلى الله عليه وسلم ، فهذا بحث يحتوي على جملة من الفوائد و الأحكام عن شهر صفر :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شهر صفر هو أحد الشهور الإثنى عشر الهجرية وهو الشهر الذي بعد المحرم قال بعضهم : سمِّي بذلك لإصفار مكَّة من أهلها ( أي خلّوها من أهلها ) إذا سافروا فيه ، وقيل : سَمَّوا الشهر صفراً لأنهم كانوا يغزون فيه القبائل فيتركون من لقوا صِفْراً من المتاع ( أي يسلبونه متاعه فيصبح لا متاع له ) . المرجع : كتاب لسان العرب لابن منظور ج/4 ص/462-463 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسيتناول هذا البحث عن شهر صفر النقاط التالية : أولا : ما ورد فيه عند العرب الجاهليين ثانيا : ما ورد في الشرع مما يخالف أهل الجاهلية ثالثا : ما يوجد في هذا الشهر من البدع والاعتقادات الفاسدة عند بعض الناس رابعا : ما حدث في هذا الشهر من غزوات وأحداث مهمة في حياة النبي صلى الله عليه وسلم خامسا : ما ورد من أحاديث مكذوبة عن شهر صفر&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;أولاً : ما ورد فيه عند العرب الجاهليين :&lt;br /&gt;كان للعرب في شهر صفر منكران عظيمان : الأول : التلاعب فيه تقديما وتأخيرا الثاني : التشاؤم منه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) من المعلوم أن الله تعالى خلق السنة وعدة شهورها اثنا عشر شهراً ، وقد جعل الله تعالى منها أربعةً حرم ، حرَّم فيها القتال تعظيماً لشأنها ، وهذه الأشهر هي : ذو القعدة ، ذو الحجة ، محرم ، ورجب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومصداق ذلك في كتاب الله قوله تعالى : (( إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم )) التوبة / 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد علم المشركون ذلك ، لكنهم كانوا يؤخرون فيها ويقدمون على هواهم ، ومن ذلك : أنهم جعلوا شهر صفر بدلاً من المحرَّم ! وكانوا يعتقدون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور ، وهذه طائفة من أقوال أهل العلم في ذلك :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 - عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض ، ويجعلون المحرَّم صفراً ، ويقولون : إذا برأ الدَّبر ، وعفا الأثر ، وانسلخ صفر : حلَّت العمرة لمن اعتمر . رواه البخاري حديث رقم 1489 ومسلم حديث رقم 1240&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 - قال ابن العربي المسألة الثانية : كيفية النسيء : ثلاثة أقوال :&lt;br /&gt;الأول : عن ابن عباس رضي الله عنه أن جنادة بن عوف بن أمية الكناني كان يوافي الموسم كل عام ، فينادي : ألا إن أبا ثمامة لا يعاب ولا يجاب ، ألا وإن صفراً العام الأول حلال ، فنحرمه عاما ، ونحله عاما ، وكانوا مع هوازن وغطفان وبني سليم . وفي لفظة : أنه كان يقول : إنا قدمنا المحرم وأخرنا صفراً ، ثم يأتي العام الثاني فيقول : إنا حرمنا صفرا وأخرنا المحرم ؛ فهو هذا التأخير .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثاني : الزيادة : قال قتادة : عمد قوم من أهل الضلالة فزادوا صفرا في الأشهر الحرم ، فكان يقوم قائمهم في الموسم فيقول : ألا إن آلهتكم قد حرمت العام المحرم ، فيحرمونه ذلك العام ، ثم يقوم في العام المقبل فيقول : ألا إن آلهتكم قد حرمت صفرا فيحرمونه ذلك العام ، ويقولون : الصفران . وروى ابن وهب ، وابن القاسم عن مالك نحوه قال : كان أهل الجاهلية يجعلونه صفرين ، فلذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم : (( لا صفر )) ، وكذلك روى أشهب عنه .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثالث : تبديل الحج : قال مجاهد رحمه الله بإسناد آخر : (( إنما النسيء زيادة في الكفر )) قال : حجوا في ذي الحجة عامين ، ثم حجوا في المحرم عامين ، ثم حجوا في صفر عامين ، فكانوا يحجون في كل سنة في كل شهر عامين حتى وافت حجة أبي بكر في ذي القعدة ، ثم حج النبي في ذي الحجة ، فذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح في خطبته : (( إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض )) ، رواه ابن عباس وغيره ، واللفظ له قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( أيها الناس ، اسمعوا قولي ، فإني لا أدري لعلي لا ألقاكم بعد يومي هذا في هذا الموقف أيها الناس ، إن دماءكم وأموالكم حرام إلى يوم تلقون ربكم ، كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا ، في بلدكم هذا ، وإنكم ستلقون ربكم فيسألكم عن أعمالكم . وقد بلغت ، فمن كان عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها ، وإن كل ربا موضوع ، ولكم رءوس أموالكم ، لا تظلمون ولا تظلمون ، قضى الله أن لا ربا ، وإن ربا عباس بن عبد المطلب موضوع كله ، وإن كل دم في الجاهلية موضوع ، وإن أول دمائكم أضع دم ابن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب ، كان مسترضعا في بني ليث فقتلته هذيل ، فهو أول ما أبدأ به من دماء الجاهلية . أما بعد ، أيها الناس ، فإن الشيطان قد يئس أن يعبد بأرضكم ، ولكنه إن يطع فيما سوى ذلك مما تحقرون من أعمالكم فقد رضي به ، فاحذروه أيها الناس على دينكم ، وإن النسيء زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا إلى قوله ما حرم الله ، وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السماوات والأرض ، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً ، منها أربعة حرم : ثلاث متواليات ، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان )) ، وذكر سائر الحديث . اهـ . المرجع : أحكام القرآن لأبن العربي 2 / 503 - 504&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ) أما التشاؤم من شهر صفر فقد كان مشهوراً عند أهل الجاهلية ولا زالت بقاياه في بعض الناس .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد )) رواه البخاري حديث رقم 5387 ومسلم 2220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : و ( صفر ) فُسِّر بتفاسير :&lt;br /&gt;الأول : أنه شهر صفر المعروف ، والعرب يتشاءمون به&lt;br /&gt;الثاني : أنه داء في البطن يصيب البعير ، وينتقل من بعير إلى آخر ، فيكون عطفه على العدوى من باب عطف الخاص على العام&lt;br /&gt;الثالث : صفر : شهر صفر ، و المراد به النسيء الذي يُضل به الذين كفروا ، فيؤخرون تحريم شهر المحرم إلى صفر ، يحلونه عاماً و يحرمونه عاماً&lt;br /&gt;و أرجحها : أن المراد : شهر صفر ، حيث كانوا يتشاءمون به في الجاهلية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و الأزمنة لا دخل لها في التأثير وفي تقدير الله عز وجل ، فهو كغيره من الأزمنة يُقدَّر فيه الخير والشر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و بعض الناس إذا انتهى من عمل معين في اليوم الخامس و العشرين - مثلاً - من صفر أرَّخ ذلك وقال : انتهى في الخامس والعشرين من شهر صفر الخير ، فهذا من باب مداواة البدعة بالبدعة ، فهو ليس شهر خير و لا شر ؛ و لهذا أنكر بعض السلف على من إذا سمع البومة تنعق قال : ( خيراً إن شاء الله ) ، فلا يقال خير و لا شر ، بل هي تنعق كبقية الطيور .اهـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المرجع : مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين رحمه الله 2 / 113 ، 115&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً : ما ورد في الشرع مما يخالف أهل الجاهلية&lt;br /&gt;وقد سبق حديث أبي هريرة في الصحيحين ، وفيه بيان أن اعتقاد أهل الجاهلية في صفر مذموم ، فهو شهر من شهور الله لا إرادة له إنما يمضي بتسخير الله له&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثاً : ما يوجد في هذا الشهر من البدع و الاعتقادات الفاسدة عند بعض الناس&lt;br /&gt;1 ) سئلت اللجنة الدائمة : إن بعض العلماء في بلادنا يزعمون أن في دين الإسلام نافلة يصليها يوم الأربعاء آخر شهر صفر وقت صلاة الضحى أربع ركعات ، بتسليمة واحدة تقرأ في كل ركعة : فاتحة الكتاب وسورة الكوثر سبع عشرة مرة ، وسورة الإخلاص خمسين مرة ، والمعوذتين مرة مرة ، تفعل ذلك في كل ركعة ، وتسلم ، وحين تسلم تشرع في قراءة قوله تعالى : (( الله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون )) ثلاثمائة وستين مرة ، وجوهر الكمال ثلاث مرات ، واختتم بسبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .&lt;br /&gt;وتصدَّق بشيء من الخبز إلى الفقراء ، وخاصية هذه الآية لدفع البلاء الذي ينزل في الأربعاء الأخير من شهر صفر .&lt;br /&gt;وقولهم إنه ينزل في كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفاً من البليَّات ، وكل ذلك يوم الأربعاء الأخير من شهر صفر ، فيكون ذلك اليوم أصعب الأيام في السنة كلها ، فمن صلَّى هذه الصلاة بالكيفيَّة المذكورة : حفظه الله بكرمه من جميع البلايا التي تنزل في ذلك اليوم ، ولم يحسم حوله لتكون محواً يشرب منه من لا يقدر على أداء الكيفية كالصبيان ، وهل هذا هو الحل ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأجاب علماء اللجنة : الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه النافلة المذكورة في السؤال لا نعلم لها أصلاً من الكتاب ولا من السنَّة ، ولم يثبت لدينا أنَّ أحداً من سلف هذه الأمَّة وصالحي خلفها عمل بهذه النافلة ، بل هي بدعة منكرة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : (( من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد )) و قال : (( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد )) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و من نسب هذه الصلاة و ما ذُكر معها إلى النبي صلى الله عليه وسلم أو إلى أحدٍ من الصحابة رضي الله عنهم : فقد أعظم الفرية ، وعليه من الله ما يستحق من عقوبة الكذَّابين . اهـ .&lt;br /&gt;المرجع : فتاوى اللجنة الدائمة 2 / 354 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ) و قال الشيخ محمد عبد السلام الشقيري :&lt;br /&gt;قد اعتاد الجهلاء أن يكتبوا آيات السلام كـ (( سلام على نوح في العالمين )) إلخ في آخر أربعاء من شهر صفر ثم يضعونها في الأواني و يشربون و يتبركون بها و يتهادونها لاعتقادهم أن هذا يُذهب الشرور ، وهذا اعتقاد فاسد ، وتشاؤم مذموم ، وابتداع قبيح يجب أن يُنكره كل من يراه على فاعله .&lt;br /&gt;المرجع : السنن والمبتدعات ص 111 ، 112 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعاً : ما حدث في هذا الشهر من غزوات وأحداث مهمة في حياة النبي صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;وهي كثيرة ، و يمكن اختيار بعضها :&lt;br /&gt;1 ) قال ابن القيم رحمه الله : ثم غزا بنفسه غزوة ( الأبواء ) ويقال لها ودَّان ، وهي أول غزوة غزاها بنفسه ، وكانت في صفر على رأس اثني عشر شهراً من مهاجره ، وحمل لواءه حمزة بن عبد المطلب وكان أبيض ، واستخلف على المدينة سعد بن عبادة ، وخرج في المهاجرين خاصة يعترض عيراً لقريش ، فلم يلق كيداً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي هذه الغزوة وادع مخشيَّ بن عمرو الضمري وكان سيد بني ضمرة في زمانه على ألا يغزو بني ضمرة ولا يغزوه ، ولا أن يكثِّروا عليه جمعاً ولا يعينوا عليه عدوا وكتب بينه وبينهم كتابا وكانت غيبته خمس عشرة ليلة .&lt;br /&gt;المرجع : زاد المعاد 3 / 164 ، 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ) وقال رحمه الله : فلما كان صفر - ( سنة ثلاث من الهجرة ) - قدم عليه قوم من عَضَل و القارة ، وذكروا أن فيهم إسلاما ، وسألوه أن يبعث معهم من يعلِّمهم الدين ، ويقرؤهم القرآن ، فبعث معهم ستة نفر - في قول ابن إسحاق ، وقال البخاري : كانوا عشرة - وأمَّر عليهم مرثد بن أبي مرثد الغنوي ، وفيهم خبيب بن عدي ، فذهبوا معهم ، فلما كانوا بالرجيع - وهو ماء لهذيل بناحية الحجاز - غدروا بهم واستصرخوا عليهم هذيلا فجاؤوا حتى أحاطوا بهم فقتلوا عامتهم واستأسروا خبيب بن عدي وزيد بن الدَّثِنة ، فذهبوا بهما وباعوهما بمكة وكانا قَتلا من رؤوسهم يوم بدر .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 ) وقال رحمه الله : وفي هذا الشهر بعينه وهو صفر من السنة الرابعة كانت وقعة ( بئر معونة ) و ملخصها : أن أبا براء عامر بن مالك المدعو ملاعب الأسنَّة قدم على رسول الله صلى الله عليه و سلم المدينة فدعاه إلى الإسلام فلم يسلم ، ولم يبعد ، فقال : يا رسول الله لو بعثت أصحابك إلى أهل نجد يدعونهم إلى دينك لرجوت أن يجيبونهم ، فقال : إني أخاف عليهم أهل نجد ، فقال أبو براء : أنا جار لهم ، فبعث معه أربعين رجلا في قول ابن إسحاق ، وفي الصحيح أنهم كانوا سبعين ، والذي في الصحيح : هو الصحيح ، وأمَّر عليهم المنذر بن عمرو أحد بني ساعدة الملقب بالمعنق ليموت ، وكانوا من خيار المسلمين وفضلائهم وساداتهم وقرائهم فساروا حتى نزلوا بئر معونة - وهي بين أرض بني عامر وحرة بني سليم - فنزلوا هناك ، ثم بعثوا حرام بن ملحان أخا أم سليم بكتاب رسول الله إلى عدو الله عامر بن الطفيل فلم ينظر فيه ، وأمَر رجلا فطعنه بالحربة من خلفه ، فلما أنفذها فيه ورأى الدم قال : فزت ورب الكعبة ، ثم استنفر عدو الله لفوره بني عامر إلى قتال الباقين فلم يجيبوه لأجل جوار أبي براء ، فاستنفر بني سليم فأجابته عصية و رعل و ذكوان ، فجاؤوا حتى أحاطوا بأصحاب رسول الله فقاتلوا حتى قتلوا عن آخرهم إلا كعب بن زيد بن النجار فإنه ارتُثَّ - ( أي : رفع وبه جراح ) - بين القتلى فعاش حتى قتل يوم الخندق ، وكان عمرو بن أمية الضمري والمنذر بن عقبة بن عامر في سرح المسلمين فرأيا الطير تحوم على موضع الوقعة فنزل المنذر بن محمد فقاتل المشركين حتى قتل مع أصحابه وأسر عمرو بن أمية الضمري ، فلما أخبر أنه من مضر جز عامرٌ ناصيته وأعتقه عن رقبة كانت على أمِّه ، ورجع عمرو بن أمية ، فلما كان بالقرقرة من صدر قناة - ( اسم موضع ) - نزل في ظل شجرة ، وجاء رجلان من بني كلاب فنزلا معه ، فلما ناما فتك بهما عمرو وهو يرى أنه قد أصاب ثأراً من أصحابه ، وإذا معهما عهدٌ من رسول الله لم يشعر به ، فلما قدم أخبر رسول الله بما فعل فقال : لقد قتلتَ قتيلين لأَدِينَّهما .&lt;br /&gt;المرجع كتاب زاد المعاد لابن القيم 3 / 246 - 248 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 ) وقال ابن القيم رحمه الله : فإن خروجه - ( أي : إلى خيبر ) - كان في أواخر المحرم لا في أوله وفتحها إنما كان في صفر .&lt;br /&gt;المرجع كتاب زاد المعاد لابن القيم 3 / 339 ، 340 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 ) وقال رحمه الله : فصل في ذكر سرية ( قطبة بن عامر بن حديدة ) إلى خثعم .&lt;br /&gt;وكانت في صفر سنة تسع ، قال ابن سعد : قالوا : بعث رسول الله قطبة بن عامر في عشرين رجلا إلى حي من خثعم بناحية تبالة ، وأمَره أن يشن الغارة ، فخرجوا على عشرة أبعرة يعتقبونها ، فأخذوا رجلا فسألوه فاستعجم عليهم ، فجعل يصيح بالحاضرة ، ويحذرهم ، فضربوا عنقه ، ثم أقاموا حتى نام الحاضرة فشنوا عليهم الغارة فاقتتلوا قتالاً شديداً حتى كثر الجرحى في الفريقين جميعاً ، وقَتل قطبة بن عامر مَن قتل ، وساقوا النَّعم والنساء والشاء إلى المدينة ، وفي القصة أنه اجتمع القوم ، وركبوا في آثارهم فأرسل الله سبحانه عليهم سيلاً عظيماً حال بينهم وبين المسلمين فساقوا النَّعم والشاء والسبي وهم ينظرون لا يستطيعون أن يعبروا إليهم حتى غابوا عنهم .&lt;br /&gt;المرجع كتاب زاد المعاد لابن القيم 3 / 514 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 ) وقال رحمه الله : وقدم على رسول الله صلى الله عليه و سلم وفد عُذرة في صفر سنة تسع اثنا عشر رجلاً فيهم جمرة بن النعمان فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (( مَن القوم ؟ فقال متكلمهم : من لا تنكره نحن بنو عذرة ، إخوة قصي لأمِّه ، نحن الذين عضدوا قصيّاً ، وأزاحوا من بطن مكة خزاعة وبني بكر ، ولنا قرابات وأرحام ، قال رسول الله : مرحبا بكم وأهلا ما أعرفني بكم ، فأسلموا ، وبشرهم رسول الله بفتح الشام وهرَب هرقل إلى ممتنع من بلاده ، ونهاهم رسول الله عن سؤال الكاهنة ، وعن الذبائح التي كانوا يذبحونها ، وأخبرهم أن ليس عليهم إلا الأضحية ، فأقاموا أياماً بدار رملة ثم انصرفوا وقد أجيزوا )) .&lt;br /&gt;المرجع كتاب زاد المعاد لابن القيم 3 / 657 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خامساً : ما ورد من أحاديث مكذوبة عن شهر صفر :&lt;br /&gt;1 ) حديث : (( من بشرني بخروج صفر بشرته بالجنة ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب كشف الخفاء للعجلوني 2 / 309 و كتاب الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة للشوكاني 1 / 438 و كتاب الأسرار المرفوعة في الأخبار الموضوعة 1 / 337&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ) حديث : (( يكون صوت في صفر ثم تتنازع القبائل في شهر ربيع ثم العجب كل العجب بين جمادى و رجب ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه الله : فصل أحاديث التواريخ المستقبلة :&lt;br /&gt;ومنها : أن يكون في الحديث تاريخ كذا وكذا ، مثل قوله : إذا كانت سنة كذا وكذا وقع كيت وكيت ، وإذا كان شهر كذا وكذا وقع كيت وكيت .&lt;br /&gt;وكقول الكذاب الأشر : إذا انكسف القمر في المحرم : كان الغلاء والقتال وشغل السلطان ، وإذا انكسف في صفر : كان كذا وكذا .&lt;br /&gt;واستمر الكذاب في الشهور كلها .&lt;br /&gt;وأحاديث هذا الباب كلها كذب مفترى .&lt;br /&gt;المرجع كتاب المنار المنيف لابن القيم ص 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والله أعلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم اجعل جميع أعمالنا ظاهرها و باطنها خالصة لوجهك الكريم موافقة لسنة نبيك صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-3269139717990644153?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/3269139717990644153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/3269139717990644153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/3269139717990644153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_28.html' title='فوائد و أحكام عن شهر صفر'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-1384561190797682768</id><published>2011-12-21T23:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T23:22:37.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wala Wal Bara'/><title type='text'>عيد الميلاد (CHRISTMAS)</title><content type='html'>الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذُكرت حقيقة كون عيد الميلاد (CHRISTMAS) والاحتفال به من أصول وثنية في مقالتين تم نشرهما في مجلتين إسلاميتين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما المقالة الأولى فإنها نُشرت في مجلة الاعتصام يناير 1980 م ، وهي ترجمة مختصرة لكتيب بعنوان (THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS) أي (الحقيقة المجردة عن عيد الميلاد) للباحث النصراني : (Herbert W. Armstrong) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والمقالة الثانية فإنها نشرت في مجلة التجديد الإسلامية ، وهي أيضاً ترجمة مختصر لمحاضرة بعنوان (عيد الميلاد في ميزان الإنجيل) للمؤرخ النصراني : (Andre Vose) .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;المقالة الأولى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه هي الحقيقة المجردة عن عيد الميلاد من خلال كتاب أصدرته "كنسية جميع أنحاء العالم"الأمريكية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما لهذا الشخص المسلم وعيد الميلاد عند نصارى الغرب أو النصارى جميعاً سواء ساروا على الحساب الغربي أو الشرقي في تحديد تاريخ مولد عيسى عليه السلام ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لست أشك في أن هذا التساؤل هو ما سيدور في ذهن بعض القراء وهم يقرأون عنوان هذا المقال واسم كاتبه ، وأسارع فأطمئنهم إلى أن الأمر لا يعدو أن يكون حديثاً عن كتيب بالإنجليزية يحمل نفس عنوان هذا المقال أصدرته "كنيسة جميع أنحاء العالم" الأمريكية بمدينة "باسادينا" في ولاية "كاليفورنيا" التي تصدر المجلة الشهرية المجانية المعروفة "الحقيقة المجردة" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا الكتيب الذي يقع متنه في خمس عشرة صفحة يؤكد بأدلة تاريخية أن عيد الميلاد هو احتفال وثني لا صلة له-لا من قريب ولا من بعيد-بالنصرانية أو المسيحية إن شئت . وفي هذه "الحقيقة المجردة" مغزى يتجاوز عندنا نحن المسلمين وثنية عيد الميلاد إلى صميم عقيدة التثليث والصلب التي أدخلت على دين عيسى عليه السلام بعد رفعه إلى السماء كما نص على ذلك الإسلام .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حقائق مذهلة ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يبدأ مؤلف الكتيب "هربرت أرمسترونج" صفحات كتيبه بهذه الفقرة :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(من أين جاءنا عيد الميلاد ؟ من الكتاب المقدس أم من الوثنية ؟ إليك الحقائق المثيرة للدهشة-في هذا الصدد-التي ربما تمثل صدمة بالنسبة لك ..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتحت عنوان (ماذا تقول دوائر المعارف ؟) أكد الكاتب في الصفحة الثامنة أن كلمة "عيد الميلاد" (لم ترد لا في الكتاب المقدس بعهديه القديم والجديد ، ولم تنقل عن الحواريين ، وإنما تسربت إلى النصرانية من الوثنية) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويمضي الكاتب فيقول :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(بما أن الاحتفال بعيد الميلاد إنما جاء عن طريق الكنيسة الكاثوليكية ، ولم يكن مرتكزاً إلى أية سلطة سوى سلطة تلك الكنيسة فدعونا نقرأ ما تقوله دائرة المعارف الكاثوليكية عن هذا الاحتفال في طبعة 1911 م وهذا نصه :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"لم يكن عيد الميلاد واحداً من الأعياد الأولى للكنيسة الكاثوليكية ، وأول دليل على هذا الاحتفال إنما جاء من مصر .. فقد تحولت العادات الوثنية الخاصة ببداية شهر يناير في التقويم الروماني القديم ، تحولت إلى عيد الميلاد ، ويعترف أول الآباء الكاثوليك بالحقيقة التالية : لم يسجل الكتاب المقدس أن أحداً كان يحتفل أو أقام مأدبة كبيرة بمناسبة يوم ميلاده ، إن الآثمين والخطائين -مثل فرعون وهيرود-هم وحدهم الذين يجعلون من يوم مجيئهم إلى هذا العالم مناسبة للابتهاج العظيم" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما دائرة المعارف البريطانية فهي تقول في طبعة 1946 م :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..ولم يوجد-أي عيد الميلاد-لا المسيح ولا الحواريون ولا نص من الكتاب المقدس بل أخذ-فيما بعد-عن الوثنية") .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وينقل "هربرت أرمسترونج" عن دائرة المعارف الأمريكية في طبعة 1944 م قولها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(.."وفي القرن الرابع الميلادي بدأ الاحتفال لتخليد ذكرى هذا الحدث أي ميلاد المسيح ، وفي القرن الخامس أمرت الكنيسة الغربية بأن يحتفل به إلى الأبد في يوم الاحتفال الروماني القديم بميلاد "سول" ، نظراً لعدم معرفة ميلاد المسيح معرفة مؤكدة" ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويمضي مؤلف كتيب "الحقيقة المجردة عن عيد الميلاد" ليحدثنا عن أن المسيح لم يولد في الشتاء بأدلة من الأناجيل مفادها أن الرعاة كانوا يحرسون أغنامهم ليلاً وقت ميلاد المسيح ، وهو أمر لم يكن يحدث في فلسطين شتاء ، وإنما قبل منتصف أكتوبر .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وينقل "هربرت أرمسترونج" عن دائرة معارف تشاف-هيرزج الجديدة للمعرفة الدينية قولها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;("ليس باستطاعتنا أن نقرر بدقة إلى أي مدى اعتمد تاريخ الاحتفال بعيد الميلاد على احتفال "بروماليا" الوثني وتاريخه هو الخامس والعشرون من ديسمبر ، الذي كان يلي احتفال "ساتورناليا" الذي كان يمتد من السابع عشر من ديسمبر إلى الرابع والعشرين منه ، أي على مدى أسبوع كامل ، وأيضاً على الاحتفال بأقصر يوم في السنة وبالشمس الجديدة ، فقد كان احتفالا "ساتورناليا" و "بروماليا" الوثنيان راسخين بشدة في العادات الشعبية بحيث أنه كان من الصعب على المسيحيين أن يتجاهلوهما .. ولد كانت لهذين الاحتفالين ببهرجهما وصخبهما ومرحهما وبهجتهما شعبية كبيرة بحيث أن المسيحيين سعدوا حين وجدوا سبباً لكي يواصلوا الاحتفال بهما مع إحداث تغيير طفيف في روحهما وأسلوبهما ، وقد احتج الوعاظ المسيحيون في الغرب وفي الشرق الأدنى على الطريقة العابثة التافهة التي تم الاحتفال بها بمولد المسيح ، بينما اتهم مسيحيو ما بين النهرين –دجلة والفرات-اخوانهم الغربيين بالوثنية وعبادة الشمس باتخاذهم هذا الاحتفال الوثني عيداً مسيحياً") .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونمضي مع كتيب "الحقيقة المجردة عن عيد الميلاد" فإذا بمؤلفه يقول تعليقاً على الاقتباس السابق :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(يجب أن نتذكر أن العالم الروماني كان وثنياً ، وكان المسيحيون قبل القرن الرابع الميلادي قلة من حيث العدد-وإن كانوا يتزايدون-وكانت الحكومة والوثنيون يضطهدونهم ، ولكن بتنصيب قسطنطين إمبراطوراً، وهو الذي اعتنق المسيحية في القرن الرابع واضعاً إياها بقدم المساواة مع الوثنية ، بدأ مئات الألوف من سكان العالم الروماني يقبلون المسيحية التي أصبحت وقتها ذات شعبية ، وعلينا أن نتذكر أن هؤلاء الناس نشأوا وترعرعوا في خضم العادات والتقاليد الوثنية التي كان أبرزها هذا الاحتفال الوثني الذي يقام في الخامس والعشرين من ديسمبر .. والذي كانوا يستمتعون به ، والذي لم يكونوا راغبين في التخلي عنه .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونفس هذا المقال الوارد في دائرة معارف تشاف-هيرزج يشرح كيف أعطى اعتراف قسطنطين بيوم الأحد (يوم الشمس وهو معنى المقطعين اللذين تتكون منهما كلمة يوم الأحد بالإنجليزية) الذي كان يوم عبادة الشمس عند الوثنيين ، وكيف أعطت تأثيرات العقيدة المانوية (نسبة إلى شخص فارس اسمه ماني دعا إلى دين ثنائي يقوم على الصراع بين النور والظلمة) التي كانت ترى أن ابن الإله هو والشمس شيء واحد ، كيف أعطى هذان الأمران-اعتراف الامبراطور قسطنطين بيوم عبادة الشمس ، وتأثيرات المذهب المانوي-وثنيي القرن الرابع اللذين كانوا يبحثون عنه لتسمية الخامس والعشرين من ديسمبر ، وهو تاريخ مهرجانهم الوثني الذي يحتفلون فيه بمولد الشمس الإله ، لتسميته عيد ميلاد ابن الإله ، وبهذه الطريقة أصبح (عيد الميلاد) لصيقاً بعالمنا الغربي !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الممكن أن نطلق عليه اسماً آخر ولكنه يظل دوماً مهرجان عبادة الشمس الوثني القديم ! والتغير الوحيد إنما يتمثل في الاسم الذي نطلقه عليه ! فلك أن تسمي الأرنب أسداً ولكنه سيظل أرنباً رغم التسمية !) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الأصل الحقيقي لعيد الميلاد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولكن إذا قد أخذنا عيد الميلاد عن الكاثوليك وهم قد أخذوه من الوثنية فمن أين أتى به الوثنيون ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أين ومتى وماذا كان أصله الحقيقي ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويروي لنا مؤلف الكتيب قصة الأصل الحقيقي لعيد الميلاد على هذا النحو :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(كان نمرود-وهو حفيد حام بن نوح- رجلاً شريراً في مدينة بابل التي غرق أهلها في الترف والآثام .. ويقال أنه تزوج أمه التي كان اسمها سمير أميس ، وبعد موته المفاجئ نشرت سمير أميس عقيدة شريرة مفادها أن نمرود ظل على قيد الحياة في شكل كائن روحي ، وادعت أن شجرة مخضرة اخضراراً دائماً نبتت ذات ليلة في جذع شجرة ميتة ، وهو ما يرمز إلى انبثاق حياة جديدة من الميت نمرود ، وزعمت سمير أميس أن نمرود يزور تلك الشجرة الدائمة الاخضرار في ذكرى عيد ميلاده من كل سنة ويترك فوقها هدايا ، وكان تاريخ ميلاد نمرود الخامس والعشرين من ديسمبر ، وهذا هو الأصل الحقيقي لشجرة عيد الميلاد .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونجحت سمير أميس في خططها لكي تصبح "ملكة السماء المقدسة" وأصبح نمرود-تحت أسماء عديدة-"ابن السماء المقدس" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعلى مر العصور أصبح نمرود في طقوس العبادة الوثنية هذه هو المسيح الدجال ابن بعل إله الشمس ، وفي هذا النظام البابلي الزائف أصبحت الأم والطفل-سمير أميس ونمرود الذي ولد مرة أخرى-أصبحا محور تلك العبادة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد انتشرت عبادة "الأم والطفل" هذه في أنحاء العالم ، وتعددت أسماؤها في البلدان والأقطار المختلفة ، ففي مصر سميا "ايزيس وأوزوريس" وفي آسيا "سيبيلي و ديويس" وفي روما الوثنية "فورتشيونا وجوربيتربور" ، حتى في اليونان والصين واليابان والتبت وجد مثيل "للأم والطفل" قبل ميلاد المسيح بزمن طويل !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهكذا أصبحت أيضاً فكرة "الأم والطفل" في القرنين الرابع والخامس الميلاديين عندما كان مئات الألوف من وثنيي العالم الروماني يقبلون المسيحية التي كانت لها شعبية وقتها ، حاملين معهم عاداتهم وعقائدهم الوثنية القديمة ويخفونها تحت أسماء لها وقع مسيحي ليس إلا ، أصبحت هذه الفكرة أيضاً ذات شعبية كبيرة) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ردة منظمة ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الأصل الحقيقي لعيد الميلاد إنما يعود إلى بابل القديمة .. إنه جزء لا يتجزأ من الردة المنظمة التي أمسكت بخناق العالم المخدوع طيلة هذه القرون العديدة !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لقد كان المصريون القدماء يؤمنون يوماً بأن ابن ايزيس-وهو الاسم المصري لملكة السماء-ولد في الخامس والعشرين من ديسمبر ، وكان الوثنيون يحتفلون بهذا العيد المشهور في معظم أنحاء العالم المعروف على مدى قرون عديدة قبل ولادة المسيح .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الخامس والعشرين من ديسمبر ليس هو يوم مولد يسوع .. المسيح الحقيقي !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويمضي المؤلف فيثبت بالأدلة التاريخية أيضاً أن مظاهر الاحتفال بعيد الميلاد من باقات نبات الهولى إلى بابا نويل إلى عادة تقديم الهدايا في هذا الاحتفال هي عادات وثنية محضة !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;سرد رائع مروع لحقيقة الاحتفال بما يوصف بأنه عيد ميلاد المسيح عليه السلام ، نقلناه حرفياً من مصدر كنيسي معاصر صدرت له حتى الآن ثلاث طبعات : 1952-1972-1974 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا شك أن القارئ المسلم لهذا السرد التاريخي المثير قد خرج بنتيجة فرعية هي في واقع الأمر أخطر مما قصد مؤلف الكتيب إلى اثباته .. تلك هي حقيقة أن عقيدة التثليث نفسها لا تعدو أن تكون كعيد الميلاد سواء بسواء فكرة وثنية (أخفاها وثنيو القرنين الرابع والخامس تحت اسم له وقع مسيحي) ليس إلا !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن يخامره أدنى شك فليقرأ المقال مرة أخرى .. !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ترجمة : محمد مصطفى رمضان .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المصدر : مجلة الاعتصام يناير 1980 م باستفادة من منتديات بحريني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المقالة الثانية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عيد الميلاد في ميزان الإنجيل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ألقى المؤرخ في الديانة المسيحية آندري فواسي يوم الخامس عشر من الشهر الجاري (12/2004م ) محاضرة حول الاحتفالات بأعياد رأس السنة الميلادية بحيث تطرق إلى الأصول التي تسربت منها العديد من المعتقدات الوثنية إلى العقيدة المسيحية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد قدم المحاضر لمحاضرته بقوله: إن الله يريدنا اليوم أن نعرف من أين جاءتنا هذه الأشياء. أشياء تسللت من الديانة السابقة والغامضة للبابليين، تلك الديانة التي سادت العالم أجمع تقريبا خلال ألف وخمسمائة سنة، والتي تعود حاليا بقوة تحت مسميات أخرى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهي تتضمن معتقدات حافظ عليها المجتمع المفروض أنه مسيحي في ممارساته وفي تقاليده، ووصلت إلينا بالتوارُث جيلا عن جيل. إنها أمور علينا أن نعلمها كمسيحيين، ونحن محظوظون لكون الإله جعلنا اليوم نكتشفها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنها أشياء نستطيع الآن، اليوم، أن نبحث فيها على ضوء الكتب المقدسة، وعلى ضوء المعلومات التي هي الآن متوفرة بكل يسر، يجب حقيقة أن لا تكون للمرء الرغبة في العلم والمعرفة حتى لا يرى الحقيقة بأم عينيه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعلينا أن نلاحظ أن عدد المسيحيين الذين يكتشفون الحقيقة حول هذا الموضوع فيتوقفون نهائيا عن هذه الممارسات في تزايد. إن المسيحيين الحقيقيين؛ أولئك الذين يسعون بإخلاص إلى نيل رضا ربهم، فيتركون هذه الممارسات بمجرد أن يروا نور الحقيقة حول هذا الموضوع، يقول المحاضر:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" وعلينا كذلك أن نعترف بأن هناك حقائق ليس دائما من السهل تصديقها، وربما بعض الأشياء يمكنها أن تكون صادمة لبعض الناس. ولكن إذا كنا حقيقة مسيحيين، وإذا كنا نعبد الله حقيقة، فستكون لدينا الرغبة في معرفة حقيقة ما يريده منا، وكذلك الرغبة الصادقة في الاستجابة لتنفيذ إرادته.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهل أعياد الميلاد(نويل) هي حقيقة أعياد مسيحية؟&lt;br /&gt;هل كنيسة العهد الجديد(الإنجيل)كانت تحتفل بأعياد رأس السنة؟&lt;br /&gt;هل عيسى ابن مريم ولد بالفعل يوم 25 دجنبر؟&lt;br /&gt;ما هو أصل عيد الميلاد؟&lt;br /&gt;ما الذي تقوله التوراة والإنجيل عن هذا العيد؟&lt;br /&gt;ماذا وراء أعياد رأس السنة؟&lt;br /&gt;ما الذي يمثله ''بابا نويل'' حقيقة؟&lt;br /&gt;هل يجوز لمسيحي أن يحتفل بعيد الميلاد؟&lt;br /&gt;هذه فقط بعض الأسئلة من بين غيرها التي يمكن أن نضعها على أنفسنا.&lt;br /&gt;ولكن ألم يحدث أبدا أن سأل أحدنا نفسه:&lt;br /&gt;-لماذا أفعل هذا؟&lt;br /&gt;-ما الذي يعنيه كل هذا؟&lt;br /&gt;-هل هناك من داع لكل هذه الأشياء؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويتوجه ''آندري فواسي'' إلى الحضور بقوله:ربما في قرارة أنفسكم سبق أن أحسستم بحقيقة الجواب عن كل هذه الأسئلة؛ ولذلك تتجنبون وضع مثل هذه الأسئلة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولكن لتصدقوا أو لا تصدقوا؛ فإن كل العادات التي تحيط بأعياد الميلاد والكثير غيرها من الأعياد المسيحية لا علاقة لها بالمسيح. بل إن الأمر أسوأ من ذلك فهي تعود في أصولها إلى ممارسات دينية وثنية، من الممكن لهذا أن يصدم بعض الأشخاص؛ ولكنها الحقيقة، وما أسهل التدليل عليها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهناك عشرات الآلاف من الكتب التي تبين ذلك ولكن-ولأسباب متعددة- إما أننا لم يسبق لنا أن أعرناها أي اهتمام، أو هناك من جعلنا لا نعيرها اهتماما، أو لم يسبق لنا أن سمعنا عنها، أو أسوأ من ذلك لا نريد أن نسمع عنها!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنها أشياء نعرفها ولكننا قليلا ما نبحث عن معرفة أجوبة عن أسئلة محرجة مثل:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-لماذا نزين شجرة بالشموع والهدايا؟&lt;br /&gt;-لماذا نزين البيوت بالمصابيح؟&lt;br /&gt;-وبالهدايا المعلقة&lt;br /&gt;-وبشجيرات الأرز؟&lt;br /&gt;-وخصوصا لماذا نقرن في أعين أطفالنا ''بابا نويل'' بميلاد المسيح؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولنحاول الإجابة عن أهم الأسئلة المطروحة. من أين تسربت هذه الطقوس الوثنية إلى الديانة المسيحية؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسوف نرى أن العديد من الأشياء التي نقول عنه: ''وما الضرر في ذلك؟'' هي في أغلبها-لو حاولنا معرفة حكم الله فيها-وراء الكثير من الضرر العقيدي، ووراءها ما وراءها من الشرك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الاحتفال بأعياد الميلاد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولا يجب أن نعلم أن كنيسة العهد الجديد لم تحتفل قط بأعياد الميلاد. فلا يوجد إطلاقا أي شيء في مكتوبات الكنائس يدل على أي احتفال من هذا النوع. بل يمكننا القول إن هناك أدلة على أن المسيح لم يولد في الخامس والعشرين من شهر دجنبر؛ ففي إنجيل لوقا، الفقرة الثانية، نقرأ أنه عند ولادة المسيح كان هناك رعاة نائمون في الحقول، وكانوا يحرسون شياههم خلال الليل. ونجد في الكثير من المقاطع في الأناجيل الأربع بأن الرعاة كانوا ينامون في الحقول ويخرجون أغنامهم إلى المراعي خلال الصيف وينامون معها في الحقول ويُدخلونها إلى الزرائب عند أول الأمطار، ومعروف أن أول الأمطار في فلسطين تهطل منذ شهر أكتوبر أو شتنبر. وهذا دليل على أن المسيح ولد قبل دجنبر بكثير.وإذا علمنا أن عادة الاحتفال الديني في الخامس والعشرين من دجنبر كانت معروفة قبل ذلك بكثير عند الديانات الوثنية نفهم لماذا تم الادعاء بأن المسيح ولد في ذلك اليوم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولماذا الشجرة؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في الإنجيل كذلك نقرأ :''اسمعوا كلمة الرب الخالد إذ يقول: لا تتعلموا ملل الأمم السابقة، ولا تخشوا علامات السماء التي يخافها هؤلاء الأمم، ذلك أن شعائر الأمم ليست إلا ادعاء'' ونقرأ كذلك:''إنهم أوقفوا تماثيل وعلامات على كل تل عال وتحت كل شجرة خضراء'' والشجرة ذكرت باللغة العبرية القديمة هكذا ''شاهيرة'' وحسب قاموس يفسر التوراة فالأمر يتعلق بشجرة مقدسة كان الوثنيون القدامى يعلقون عليها رموزهم وعلاماتهم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويقول نفس القاموس: إن الوثنيين القدامى كانوا يحتفلون بالشجرة المقدسة هكذا: ''كانوا يسمونها شجرة الحياة ويعلقون عليها الذهب والفضة وصور وتماثيل الحيوانات وكذلك يزينونها بالشرائط والزهور، ثم يوقدون العديد من الشموع ويحيطونها بها، ويرقصون حول الشجرة احتفالا بالعيد وخلال الرقص يتركون الشموع تحترق إلى الفجر'' ومن هنا جاءت عادة شجرة نويل عند المسيحيين فهل كان الخالق يرى أن لا ضرر في هذه الطقوس الوثنية؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولنواصل بحثنا؛ إن نهاية شهر دجنبر كانت تتميز بفترة أعياد دينية كبرى في عالم ما قبل المسيح. ولنتذكر أن الإله ''بعل''( حسب المعتقدات القديمة) الذي هو إله الشمس كان أهم آلهة العالم آنذاك. وبما أنه إلـه الشمس فالاحتفال بميلاده كان ينطلق مع بداية ميول الأيام نحو الطول؛ 25 دجنبر. وكانت الشجرة المقدسة عند البابليين من مظاهر الاحتفال بالإلـه بعل. و قد جاء ذكرالشجرة في الإنجيل باللغة العبرية القديمة''شاهيرة'': ''ونصبوا تماثيل وعلامات ''شاهيرة'' على كل التلال العالية وتحت الشجر الأخضر''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما بابا نويل بشكله الحالي وبهداياه للأطفال فلم يتم إدماجه في المعتقد المسيحي إلا في بداية ثلاثينات القرن العشرين. فقد تم ابتداع هذه الشخصية ذات اللباس الأحمر والأبيض وتم الترويج له من طرف شركة ''كوكاكولا''. وهي التي دفعت في اتجاه تعميمه بحيث أصبحنا نراه في مختلف بلاد العالم، حتى الإسلامية. ولا زالت مزايا ''بابا نويل'' وعطاياه للأطفال وكذلك قدراته العجيبة يتم الترويج لها بشكل مكثف من طرف السينما العصرية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فكيف تم إدماج هذا الخليط من المعتقدات الوثنية والمسيحية في دين واحد؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الأمر يرجع إلى الإمبراطو''كونستانتان العظيم'' الذي كان يعي جيدا الدور الذي كان يلعبه الدين في روما القديمة. وقرر منح دين المسيح الذي حاربته روما طويلا مكانة دين رسمي في الإمبراطورية، بعد أن تكاثر أتباعه من الرومان أنفسهم؛ وهكذا جلب الأمن الداخلي للإمبراطورية.وأرغم ''كونستانتان'' جميع وثنيي بلاده على اتخاذ أسماء مسيحية بما أن الدين الجديد أصبح هو الدين الرسمي للدولة. وتبعا لذلك أصبح من الضروري توحيد الديانتين حتى يتجنب النزاعات والصراعات التي قد تؤدي إلى حرب أهلية. فكان مؤتمر ''نيقا'' الشهير في سنة 325 بعد الميلاد الذي حضره الرهبان من الجانبين وتم فيه الاتفاق على المزج بين الديانتين بإدخال عقائد قريبة من الشرك في الدين الموحد مثل عقيدة التثليث وغيرها من العقائد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأصبحت بذلك كنيسة روما تعج بالرهبان الوثنيين الذين أصبحوا يحملون أسماء مسيحية ويتبعون المسيح الذي حرفت ديانته. فكانت فرصتهم لتمسيح عقيدتهم الوثنية. وهكذا تم إدماج المعتقدات والشعائر التعبدية البابلية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكانت الكنيسة الرومانية بقيادة ''كونستانتان العظيم'' مؤهلة لتبني الممارسات الوثنية حتى تجعل من دين المسيح دينا مستساغا لدى الوثنيين الذين كانوا كثرا كذلك. فـ ''كونستانتان'' كان يستعمل الدين كوسيلة سياسية منزوعة تماما من روحها الحقيقية؛ وهكذا أخذت الشعائر والمعتقدات الوثنية أسماء مسيحية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا هو أصل الاحتفالات التي ما أمر الله ولا المسيح بها حسب المؤرخ والمفكر ''آندري فواسي''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-1384561190797682768?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/1384561190797682768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/christmas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/1384561190797682768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/1384561190797682768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/christmas.html' title='عيد الميلاد (CHRISTMAS)'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-2680382016413338479</id><published>2011-12-21T23:13:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T23:15:21.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wala Wal Bara'/><title type='text'>Menyikapi Natal dan Tahun Baru</title><content type='html'>Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual ibadah mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR.  Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata,&lt;br /&gt;“Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti.” (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I/723-724).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah—rahimahullah—berkata, “Adapun apabila seorang Muslim menjual kepada mereka pada hari-hari raya mereka segala yang mereka gunakan pada hari raya tersebut, berupa makanan, pakaian, minyak wangi dan lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka itu termasuk menolong mereka mengadakan hari raya mereka yang diharamkan. Dasarnya adalah kaidah yang mengatakan tidak boleh menjual anggur kepada orang kafir yang jelas digunakan untuk membuat minuman keras. Juga tidak boleh menjual senjata kepada mereka bila digunakan untuk memerangi kaum Muslimin.” Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik bin Habib dari kalangan ulama Malikiyyah, “Sudah jelas bahwa kaum Muslimin tidak boleh menjual kepada orang-orang Nashrani sesuatu yang menjadi kebutuhan hari raya mereka, baik itu daging, lauk-pauk atau pakaian. Juga tidak boleh memberikan kendaraan kepada mereka, atau memberikan pertolongan untuk hari raya, karena yang demikian itu termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan menolong mereka dalam kekufuran mereka.” (Al-Iqtidhaa 229-231).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelas kita bertasyabbuh, meridhai dan berpartisipasi dalam kegiatan mereka, apabila kita bersukaria, berpesta, memakan makanannya, berpartisipasi dalam acara non Muslim, memberi hadiah, memberi ucapan selamat, menjual kartu selamat, menjual segala keperluan hari raya mereka, baik itu lilin, pohon natal, makanan, kalkun, kue dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENYAMBUT TAHUN BARU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat. Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas seluruh rakyat Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui, kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan Paskah  yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325, tidak tepat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Hijriyah, disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim al-hijri), karena ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar bin Khathab Radhiyallahu 'Anhu pada tahun 638 M (17 H). Hijrah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam, menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan hari wafat beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi secara historis dan kultural  bangsa kita pun, tahun baru Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi jika ditinjau dari sisi akidah al wala' wal bara' (loyalitas dan pelepasan diri) dalam agama Islam.&lt;br /&gt;Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah yang juga tinggal menghitung hari. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ULAMA MENYIKAPI HARI RAYA NON-MUSLIM (NATAL/TAHUN BARU)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaimin—rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari besar keagamaan mereka? (Misal: Merry Christmas, Selamat hari Natal dan Tahun Baru dst, red.). Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke tempat-tempat di mana mereka merayakannya? Dan apakah seorang Muslim berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun, akan tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa, atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, atau pun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’ (kesepakatan ulama). Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim—rahimahullah—dalam bukunya Ahkamu Ahlidz-dzimmah, beliau berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah haram, menurut kesepakatan. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat hari raya”, atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal lainnya. Maka dalam hal ini, bisa jadi orang yang mengatakannya terlepas dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci dari pada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan Allah.” Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim—rahimahullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk meridhai syiar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk memberi selamat kepada mereka. Karena Allah  tidak meridhai hal tersebut, sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta'ala  berfirman, artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az Zumar 39: 7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala juga berfirman, artinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS. Al Maaidah: 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (Muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah, karena hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Islam, artinya, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari rayanya hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk dari pada hanya sekadar memberi selamat kepada mereka, di mana di dalamnya akan menyebabkannya turut berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur kerja, atau yang semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam bukunya, Iqtidha’ Ash Shirathal Mustaqiim, “Menyerupai atau meniru-niru mereka dalam hari raya mereka menyebabkan kesenangan dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada mereka. Bisa jadi hal itu sangat menguntungkan mereka guna memanfaatkan kesempatan untuk menghina/merendahkan orang-orang yang berfikiran lemah”. Akhir dari perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullah. (Majmu’ Fatawa, Fadlilah asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, III/44-46 No.403).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lamu Bishshawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-2680382016413338479?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/2680382016413338479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/menyikapi-natal-dan-tahun-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2680382016413338479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2680382016413338479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/menyikapi-natal-dan-tahun-baru.html' title='Menyikapi Natal dan Tahun Baru'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5749366193709732812</id><published>2011-12-21T23:04:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T23:13:41.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wala Wal Bara'/><title type='text'>Yesus Dan Kontroversi Kelahirannya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Yesus Dan Kontroversi Kelahirannya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa al Masih—yang mereka sebut sebagai Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dalam kenyataannya, perayaan tersebut dirayakan dengan sangat meriah, karena selain didengung-dengungkan oleh pemeluk Kristen sendiri, kalangan eksternal Kristen pun termasuk di antaranya umat   Islam–turut memeriahkannya, namun secara nilai mengundang pertanyaan besar. Sebab penetapan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember, sama sekali tidak didukung oleh data yang otentik. Injil sendiri sebagai kitab suci pemeluk agama Kristen sama sekali tidak bisa membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325—354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, yang sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahiran Yesus Menurut Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Injil Lukas 2: 1-8, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7M = 579 Romawi). Yusuf tunangan Maria ibu Yesus berasal dari Bethlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah Yesus Bethlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari di mana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun menurut Injil Matius 2: 1, 10, 1, Yesus lahir dalam masa pemerintahan Raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM—4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas pertentangan antara kedua Injil tersebut dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu, keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sangat tidak mungkin ini terjadi pada bulan Desember, sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedangkan suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahiran Nabi Isa Alaihissalam/Yesus Menurut Al Qur'an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al Qur'an surah Maryam: 23-25, Nabi Isa dilahirkan pada musim panas, di saat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen DR. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible, "Yesus lahir dalam bulan Elul (nama bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan Agustus-Sepember."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Uskup Barns dalam Rise of Christianity berpendapat sebagai berikut, "Kepercayaan bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti, tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu, di mana gembala-gembala waktu malam menjaga di padang dekat Bethlehem, maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali, sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan, tampaknya hari lahir tersebut diterima penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahun Berapa Yesus Lahir?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I M, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2: 1 menyatakan bahwa Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 SM—14 M. Sedangkan Matius 2: 1 menyatakan bahwa Yesus lahir dalam masa pemerintahan Raja Herodes Agung, tahun 37 SM—4 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil Lukas maupun Matius, tidaklah menunjukkan suatu kepastian sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka pun berbeda pendapat dalam menetapkan tahun kelahiran Yesus. Antara lain disebutkan oleh Rev. Dr. Charles Franciss Petter, M.A., B.D., S.T.M. yang berjudul The Lost Years of Jesus Revealed, hal. 119, "Pada abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4 tahun sebelum Masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius (2: 16) Raja Herodes memerintahkan pembunuhan anak-anak  umur di bawah 2 tahun untuk membinasakan Yesus yang masih bayi yang katanya bakal jadi raja orang-orang Yahudi, maka jelaslah tanggal lahir Yesus harus digeser ke belakang, paling sedikit 4 tahun sebelum Masehi. Masa kini, para sarjana lebih condong menggeserkan tanggal lahir Yesus 5 sampai 6 tahun ke belakang tahun Masehi. Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya, dan kematiannya, terpaksa dimunculkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran).  Bahkan soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanannya juga harus dimunculkan kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asal-usul Perayaan Natal 25 Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk merayakan peringatan Natal tidak ada dalam Injil, dan Yesus tidak pernah memberikan contoh atau pun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan ini pun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Di mana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M, dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari), yaitu hari kelahiran Dewa Matahari, tanggal 25 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka supaya agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi, diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan = Yesus).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka pada konsili tahun 325, konstanin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama; Hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada hari Sabtu. Kedua; Lambang Dewa Matahari, yaitu sinar yang bersilang, dijadikan lambang Kristen. Ketiga; Membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 M, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimana kepercayaan paganis poplitheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita telusuri melalui Injil maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno di dalam kekuasaan Raja Nimrod (Namrud).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;H.W. Armstrong  dalam bukunya The Plain Truth about Christmas, Worldwide Church of God, California USA, 1994, menjelaskan, “Nimrod cucu Ham, anak Nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno. Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “marad” yang artinya: “Dia membangkang atau murtad, antara lain disebabkan oleh keberaniannya mengawini ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun usia Nimrod tidak sepanjang usia ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Nimrod meninggal, Semiramis menyebarkan ajaran, bahwa roh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon “Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk memperingati kelahirannya,  dinyatakanlah bahwa Nimrod selalu hadir di Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. Sedangkan kelahiran Nimrod dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah asal-usul pohon Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian Nimrod dipuja sebagai “Anak Suci dari Surga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi  Babilonia ini berubah menjadi “Mesia palsu”  berupa dewa “Ba-al” anak Dewa Matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Nimrod ) yang lahir kembali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak dewa-dewa yang dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib), dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep bahwa Tuhan dilahirkan seorang  perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konsep/dogma  agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat  Romawi, karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui, bahwa dogma-dogma tersebut adalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata  paulus kepada jemaat di Roma, “Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaannya,mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menata Sikap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyadari segala kekeliruan dogma seperti yang telah dipaparkan di atas, maka keyakinan bahwa 25 Desember adalah hari lahir Tuhan Yesus, yang telah terbukti batal, tidak sah dijadikan propaganda toleransi. Artinya, toleransi menjadi salah, jika masuk pada wilayah membenarkan keyakinan agama lain. Maka aplikasi dari sikap ini adalah bahwa umat Islam sama sekali tidak berhak ikut, bahkan menyambut atau berpartisipasi terhadap perayaan Natal yang dibesar-besarkan gaungnya setiap Desember. (Al Fikrah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Referensi: Perayaan Natal 25 Desember, antara Dogma dan Toleransi, karya Hj. Irene Handono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5749366193709732812?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5749366193709732812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/yesus-dan-kontroversi-kelahirannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5749366193709732812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5749366193709732812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/yesus-dan-kontroversi-kelahirannya.html' title='Yesus Dan Kontroversi Kelahirannya'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-700845185090605155</id><published>2011-12-21T01:19:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T23:04:08.647-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info'/><title type='text'>Temu Akbar Alumni</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Temu Akbar Alumni &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STIBA dan Timur Tengah Meriah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dibuka Langsung oleh Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pihak Ma’had ‘Aly al Wahdah (STIBA) sukses gelar Reuni Akbar (Multaqa Tansiqy III) seluruh alumni  STIBA, LIPIA, Tadribuddu’at dan Alumni dari Timur Tengah, Madinah, Pakistan, Mesir dan Sudan di Pondok Madinah Sudiang Makassar, 20 Desember 2011. Reuni Akbar (Multaqa Tansiqy III)  dibuka secara resmi oleh Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ust. H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.,MA&lt;span style="font-style: italic;"&gt; -Hafidzohulloh-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan dihadiri 2 orang masyayikh yaitu Syekh Isa al Masmali&lt;span style="font-style: italic;"&gt; –Hafidzohullohu&lt;/span&gt;- yang berbicara tentang kisah-kisah  yang sangat menarik dari kisah Mu’adz bin Jabal dan Taujihat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; an&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahamiyyah amal jama’I&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tandzim &lt;/span&gt;dan Syekh Hasan Al-Bugisy &lt;span style="font-style: italic;"&gt;– Hafidzohullohu-&lt;/span&gt; yang berbicara tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mauqif  bai’at  aqabah&lt;/span&gt;  juga  dihadiri pula beberapa asatidzah Wahdah Islamiyah diantaranya Mudir Ma'had 'Aly al-Wahdah (STIBA) Ust. Muh. Yusran Anshar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;– Hafidzohullohu-&lt;/span&gt;, Wakil ketua umum DPP Wahdah Islamiyah Ust. Muh. Ikhwan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;– Hafidzohullohu&lt;/span&gt;-, Ust. Jahada Mangka, Ust. Rahmat Abdurrahman dan Asatidzah lainnya–&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hafidzohumullohu-&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya acara ini dihadiri alumni tadribuddu’at dari DPP Wahdah Islamiyah karena selama 10 angkatan baru pertama kalinya diadakan reunian dan temu konsolidasi akbar kata ketua panitia Ahmad Syaripudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hasil dan keputusan multaqa 3 ini adalah :&lt;br /&gt;1. Nama Forum : FORUM ALUMNI INSTITUSI ILMU SYAR'I WAHDAH ISLAMIYAH&lt;br /&gt;2. Ketua Forum : Ust Muh. Yusran Anshar&lt;br /&gt; Sekjen : Ust. Kasman Bakri&lt;br /&gt; Wasekjen : 1. Anas Syukur 2. Ahmad Syarif&lt;br /&gt; Bendahara : Ust. Akrama Hatta&lt;br /&gt; Wakil Bendahara : Ust .Rustam Faidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketua menetapkan tim perumus untuk membahas visi misi, proker, dan hal lain yang berkaitan erat dengan forum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tim perumus :&lt;br /&gt;1. Madinah: Ust. Rahmat AR&lt;br /&gt;2. LIPIA: Ust. Muhajir&lt;br /&gt;3. Pakistan: Ust. Ramli Bakka&lt;br /&gt;4. Sudan: Ust. Harman Tajang&lt;br /&gt;5. STIBA: Ust. Syaibani&lt;br /&gt;6. Tadrib: Ust. Sobaruddin&lt;br /&gt;7. Mediu: Ust. Rahmat Marwan&lt;br /&gt;8. Albirr: Ust. Yusuf Lauma&lt;br /&gt;9. Riyadh: Ust. Solahuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wa Billahi At-Taufiq wa as-Sadad&lt;/span&gt;. &lt;asya&gt;&lt;br /&gt;&lt;asya&gt;&lt;/asya&gt;&lt;/asya&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-700845185090605155?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/700845185090605155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/temu-akbar-alumni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/700845185090605155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/700845185090605155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/temu-akbar-alumni.html' title='Temu Akbar Alumni'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5935872081842105542</id><published>2011-12-11T18:37:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T20:04:19.538-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alumnian'/><title type='text'>PENTING : Undangan Reuni Akbar Alumni STIBA dan Timur Tengah (Multaqa Khirijjin)</title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:+1;"&gt;&lt;b&gt;Undangan Temu Akbar Alumni (Multaqa Khirijjin)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillah Walhamdulillah wa Sholatu wa Salamu 'ala Rosulillah, wa Ba'du:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah Pihak Ma’had ‘Aly al Wahdah (STIBA) akan menggelar Reuni&lt;br /&gt;Akbar (Multaqa Tansiqy III) seluruh alumni STIBA, LIPIA, dan Alumni&lt;br /&gt;dari Timur Tengah, Madinah, Pakistan, Mesir dan Sudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu disampaikan dan diundang kepada seluruh alumni institusi tinggi syar'i Wahdah Islamiyah, baik yang dari timur tengah (Madinah, Riyadh, Sudan, Mesir, Pakistan, dll) maupun dalam negeri (LIPIA, STIBA, Tadribuddu'at) agar dapat menghadiri Temu akbar alumni (MULTAQA KHIRIJJIN), yang insyaAllah akan dirangkaikan 1 hari setelah muktamar bertempat dilokasi muktamar II Wahdah Islamiyah (Pondok Madinah Sudiang, Makassar), yang isnyaAllah akah dihadiri oleh salah seorang Masyayikh dan para Asatidzah Wahdah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas partisipasi dan kehadirannya, diucapkan : Syukra wa Jazakumullohu Khoiron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CP/PJ : 085 236 498 102 (Ahmad Syaripudin Kocim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;1. Falyuballigh Asyahid Minkum Alghoib.&lt;br /&gt;    2. Konfirmasi kesiapan hadir dengan format lampirkan ketik : NAMA LENGKAP-ASAL-ALUMNI DARI-ANGKATAN-TLP/HP-EMAIL ,&lt;br /&gt;ke no HP : 085 236 498 102  (Ahmad Syaripudin Kocim)&lt;br /&gt;atau Emailkan ke : alumni.stiba.mks@gmail.com.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5935872081842105542?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5935872081842105542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/undangan-temu-akbar-alumni-multaqa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5935872081842105542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5935872081842105542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/undangan-temu-akbar-alumni-multaqa.html' title='PENTING : Undangan Reuni Akbar Alumni STIBA dan Timur Tengah (Multaqa Khirijjin)'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5967072715902587594</id><published>2011-12-09T21:19:00.001-08:00</published><updated>2011-12-09T21:19:53.735-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>الكسوف والخسوف</title><content type='html'>الحمد لله الذي خلق الليل والنهار والشمس والقمر ، وأشهد أن لا إله إلا الله المنجي من عذاب النار وعذاب القبر ، والصلاة والسلام على نبينا محمد ما أشرقت شمس وأنار بدر . . أما بعد :&lt;br /&gt;فقد خلق الله الليل والنهار والشمس والقمر لحكمة بالغة وغاية سامية ، فهم يسبحون الله تعالى لقوله تعالى : { لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون } ( يس40 ) ، فالليل سكن وراحة واطمئنان والقمر نوره ، أما النهار فمعاش وكد وتعب ونصب والشمس ضياؤه ، ولهذا قال الله تعالى : { وهو الذي جعل لكم الليل لباساً والنوم سباتاً وجعل النهار نشوراً } ( الفرقان47 ) ، والله تعالى حكيم عليم لا يخلق شيئاً عبثاً ، تعالى الله عن ذلك علواً كبيراً ، وإنما خلق كل شيء لحكمة ، ومما خلق الله تعالى الشمس والقمر ، وهما آيتان من آيات الله تعالى خلقا من أجل مصلحة عامة أو خاصة وكل ذلك بتقدير الله عز وجل ، فقال جل من قائل سبحانه : { هو الذي جعل الشمس ضياءً والقمر نوراً وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون } ( يونس5 ) ، وقال تعالى : { فالق الإصباح وجعل الليل سكناً والشمس والقمر حسباناً ذلك تقدير العزيز العليم } ( الأنعام96 ) ، يقول بن كثير في تفسير هذه الآية : [ والشمس والقمر حسباناً أي يجريان بحساب مقنن مقدر ، لا يتغير ولا يضطرب ، بل لكل منهما منازل يسلكها في الصيف والشتاء ، فيترتب على ذلك اختلاف الليل والنهار طولاً وقصراً ] انتهى . وقال بن سعدي في تفسير هذه الآية : [ والشمس والقمر حسباناً ، بهما تعرف الأزمنة والأوقات فتنضبط بذلك أوقات العبادات ، وآجال المعاملات ، ويعرف بها مدة ما مضى من الأوقات ] انتهى .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ومن حكته الله تعالى أن جعل في تلك الآيتين العظيمتين ـ الشمس والقمر ـ جعل فيهما تخويفاً لعباده إذا طغوا وبغوا ، أن يراجعوا دينهم قبل أن يحل بهم عذاب ربهم ، ولهذا كان الكسوف والخسوف ظاهرتين غريبتين يخوف الله بهما عباده ، قال تعالى : { وما نرسل بالآيات إلا تخويفاً } ( الإسراء59 ) . لذلك كان الدافع للكسوف والخسوف هو تخويف العباد ، وليس أموراً فلكية عادية طبيعية كما يصورها أعداء الملة والدين ليبعدوا المسلمين عن دينهم فتقسوا قلوبهم ولا يعد لديهم أي اهتمام بهذه الآية العظيمة ، حتى أن البعض منهم يفرح ويستبشر بوجود هاتين الآيتين ، ومنهم من يذهب إلى قمم الجبال وأعالي التلال ليشاهدوا ذلك الحدث العظيم بالمناظير والتلسكوبات ويغمرهم الفرح والسرور ، وغفلوا بل عميت عقولهم عن السبب الحقيقي لذلك ، فسبحان الله العظيم .&lt;br /&gt;ومعلوم أن الكسوف والخسوف لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ، فالأمر أكبر من ذلك وأخطر ، فهي آيات من آيات الله تعالى الدالة على عظمته وجبروته وقوته ليخوف بها عباده حتى يتوبوا إلى بارئهم ويعودوا إلى دينهم .&lt;br /&gt;فالواجب إذا رأى الناس ذلك أن يفزعوا خائفين وجلين ، ويتضرعوا إلى الله بالدعاء والتوبة والإنابة إليه ، وأن يكثروا من الصدقة والاستغفار وأعمال البر والخير ، والإحسان إلى الفقراء والمساكين ، ومساعدة اليتامى والأرامل ، وأن يهرعوا إلى الصلاة ، وهي صلاة غير مألوفة ، لم يألفها الناس ولم يعتادوها .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حال السلف والخلف مع صلاة الكسوف والخسوف :&lt;br /&gt;كسفت الشمس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ففزع وفزع معه المسلمون فزعاً شديداً ، وخرج عليه الصلاة والسلام مسرعاً إلى المصلى حتى أن رداءه سقط من عليه ولم يشعر به من شدة فزعه وخوفه وهول تلك الآية العظيمة ، وعندما وصل المصلى نادى مناد بالناس ( الصلاة جامعة ) ، فاجتمع الناس رجالاً ونساءً ، صغاراً وكباراً ، فصلى بهم صلاة غريبة لغرابة واقعتها ، والناس يصرخون ويبكون خوفاً من الله تعالى ، ولقد رأى النبي صلى الله عليه وسلم في تلك الصلاة الجنة والنار ورأى أموراً جساماً ، فرأى النار ، فقال : ما رأيت منظراً أفظع منها ـ اللهم أجرنا من النار ـ ثم بعد الصلاة خطب الناس خطبة بليغة وعظهم وذكرهم بربهم سبحانه .&lt;br /&gt;أما حالنا اليوم مع الكسوف والخسوف فحال غريبة قد لا يمت للإسلام بصلة والعياذ بالله ، فكم وقع الكسوف والخسوف ، وكم صلينا تلك الصلاة ، ومع ذلك فالناس بل أكثرهم ما بين لهو ولعب ، ومشاهدة للحرام عبر القنوات والشاشات والمجلات ، وبين جلوس على الشوارع والأرصفة لسماع دندنة خبيثة محرمة ، وما بين نائمون لا هون غافلون وغارقون في بحر الذنوب والمعاصي ، فإذا رأوا تلك الآيات لم يحرك ذلك فيهم ساكناً ، فهل بعد هذه الغفلة من غفلة ، فهم سكارى وما هم بسكارى ، ألهتهم المغريات والملهيات ، فلا إله إلا الله .&lt;br /&gt;وسبب ذلك ما أوقعه أعداء الدين في قلوب المسلمين ، من تهوين وتسهيل لأمر الكسوف والخسوف ، وأن ذلك أمر طبيعي يحدث كل عام ، وأن سببه ظاهر طبيعية لا خوف ولا قلق منها البتة ، حتى قست قلوب كثير من المسلمين فهي كالحجارة أو أشد قسوة ، والصحيح غير ذلك إطلاقاً ، فالكسوف والخسوف كما أسلفنا آيتان من آيات الله تعالى يظهرهما لحكمة بالغة ، ليراجع الناس دينهم ويصحوا من غفلتهم ، فتم للأعداء ما أرادوا فتساهل الناس بأمر الكسوف والخسوف ، حتى لم يقبل على المساجد إلا كبار السن ومن كتب الله لهم الهداية والتوفيق ، أما الآخرون فهم غارقون في سباتهم وغفلتهم ولهوهم ولعبهم ، لا خوف ولا حياء من الله تعالى ، وهذه مخططات صهيونية نصرانية لابعاد المسلمين عن دينهم حتى يقعوا فريسة في حبائل الشيطان وأعوانه من الإنس ـ أعاذ الله المسلمين من ذلك وردهم إليه رداً جميلاً .&lt;br /&gt;فأقول : أين هؤلاء الخلف عن أولئك السلف ؟ أين نحن عن خير القرون قرن النبي صلى الله عليه وسلم وصحابته الكرام رضوان الله عليهم عندما رأوا تلك الآية العظيمة هرعوا جميعاً إلى الصلاة وهم يبكون ويجأرون إلى الله بالصلاة والدعاء ، أين تلك الحال من حالنا بعض المسلمين اليوم الذين إذا رأوا تلك الآيات العظام هرعوا إلى الطرب والرقص واستعدوا مبكراً لرؤية الكسوف والخسوف ـ نعوذ بالله من الغفلة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسباب الكسوف والخسوف :&lt;br /&gt;هناك سببان للكسوف والخسوف ، بسببهما يقع كل منهما :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولاً : سبب حسي :&lt;br /&gt;فسبب كسوف الشمس ، أن القمر يقع بينها وبين الأرض فيحجب بعض ضوئها عن الأرض ولا يحجب ضوءها كله لأن الشمس أكبر وأرفع من القمر ، لذلك لا يمكن أن يحدث كسوف كلي على بقاع الأرض .&lt;br /&gt;وخسوف القمر يحدث بسبب وقوع الأرض بين الشمس والقمر ، فتحول الأرض بينهما ، ومعلوم أن القمر جرم معتم يستمد نوره من الشمس ، فإذا حالت الأرض بينهما وقع الخسوف .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً : السبب الشرعي :&lt;br /&gt;يتضح ذلك جلياً في الحديث الذي رواه المغير بن شعبة قال : كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم مات إبراهيم فقال الناس : كسفت الشمس لموت إبراهيم ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ إن الشمس والقمر لاينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا الله ] ( البخاري مع الفتح 3/223 ) .&lt;br /&gt;وعن أبي بكرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ، ولكن الله تعالى يخوف بها عباده ] ( البخاري مع الفتح 3/235 ) . إذاً السبب الشرعي في حدوث الكسوف والخسوف هو تخويف الله للعباد ، ليتركوا ما وقعوا فيه من الذنوب والمعاصي والآثام الجسام ، وتوالى حدوث تلك الآيات في هذا الوقت بالذات لكثرة المغريات الحياتية ، والانفتاحية والإباحية التي تعيشها معظم المجتمعات ، فانجرف الناس في تيار الحضارة الزائفة ، فضلوا أنفسهم وأضلوا غيرهم ، فأرسل الله تبارك وتعالى تلك الآيات تخويفاً وإنذاراً لعباده كيلا يحل بهم ما بحل بمن سبقهم من الأمم الغابرة ، فعليهم أن يرجعوا إلى ربهم ويعودوا إلى دينهم حتى لا يقع بهم سخط الله وغضبه ، قال تعالى : { ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون } ( الروم41 ) .&lt;br /&gt;فالواجب على المسلم إذا رأى تلك الآيات العظام والعلامات الجسام أن يبادل إلى طاعة ربه ومولاه ، وأن يفزع إلى الصلاة خوفاً من ربه سبحانه ، ويترك ماسوى ذلك من ملاه وملاعب ومغريات .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقت الكسوف والخسوف :&lt;br /&gt;أما بالنسبة لكسوف الشمس فلا يمكن أن يحدث إلا في أواخر ليلة الثامن والعشرين ، أو التاسع والعشرين ، أو الثلاثين ، لأنه في تلك الأيام يكون القمر قريباً من الشمس فيحجب بعض ضوئها عن الأرض فيحدث الكسوف .&lt;br /&gt;أما خسوف القمر فلا يحدث إلا في أيام إبدار القمر ، أي في الأيام التي يكون فيها القمر بدراً ، ويكون ذلك في ليلة الثالث عشر ، والرابع عشر ، والخامس عشر . ( انظر فتاوى بن تيمية 12/370 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صفة صلاة الكسوف والخسوف :&lt;br /&gt;عن عائشة رضي الله عنها قالت : خسفت الشمس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالناس ، فقام فأطال القيام ، ثم ركع فأطال الركوع ، ثم قام فأطال القيام ، وهو دون الأول ، ثم ركع فأطال الركوع وهو دون الركوع الأول ، ثم سجد فأطال السجود ، ثم فعل في الركعة الثانية مثل ما فعل في الأولى ، ثم انصرف وقد انجلت الشمس ، فخطب الناس ، فحمد الله وأثنى عليه ثم قال : [ إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينخسفان لموت أحد ولا لحياته ، فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا ، وصلوا ، وتصدقوا ، ثم قال : يا أمة محمد ، والله ما من أحد أغير من الله أن يزني عبده أو تزني أمته ، يا أمة محمد لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيراً ] ( البخاري ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الحديث السابق نستفيد عدة أمور :&lt;br /&gt;1- أن الكسوف آية من آيات الله تعالى يخوف الله بها عباده .&lt;br /&gt;2- الكسوف يرتبط بالشمس ، بينما الخسوف يكون مرتبطاً بالقمر ، وذلك إذا اجتمعا ، فيقال : كسوف الشمس ، وخسوف القمر . أما إذا انفردا فيطلق على كل منهما كسوف وخسوف ، فيقال : كسوف الشمس وخسوف الشمس ، وكسوف القمر وخسوف القمر .&lt;br /&gt;3- إذا حصل الكسوف والخسوف ، فيفزع الناس إلى الصلاة والدعاء والصدقة والتكبير والتهليل وذكر الله تعالى على كل حال .&lt;br /&gt;4- اختلف العلماء في حكم صلاة الكسوف والخسوف ، فمنهم من قال : أنها سنة ، ومنهم من قال : أنها واجبة ، وهو اختيار العلامة بن القيم الجوزية رحمه الله تعالى ، ولا شك أن هذا القول أبرأ للذمة وأقرب للصواب وهو اختيار وجيه ، ولو لم تكن واجبة لما فزع النبي صلى الله عليه وسلم ، ونادى لها الصلاة جامعة ، فاجتمع الصحابة وصفهم صفوفاً ، ولو لم تكن واجبة لما حصل التخويف بها .&lt;br /&gt;5- صفة صلاتي الكسوف والخسوف كما يلي :&lt;br /&gt;ركعتان بأربع ركوعات وأربع سجدات ، يكبر فيقرأ الفاتحة وسورة طويلة ، ثم يركع ركوعاً طويلاً بقدر القراءة ، ثم يرفع ويقول سمع الله لمن حمده ، ربنا ولك الحمد ، ثم يقرأ الفاتحة وسورة طويلة أقصر من التي قبلها ، ثم يركع ركوعاً طويلاً أقصر من الذي قبله ، ثم يرفع قائلاً سمع الله لمن حمده ، ربنا ولك الحمد ، ثم يسجد سجدتين طويلتين بقدر القراءة ، الأولى منهما أطول من التي تليها ، ثم يصلي الركعة الثانية كالأولى ولكن دونها في كل ما يفعل ، دفعاً للحرج والمشقة على الناس ، ومنعاً للضجر والسآمة ، لأن المصلي حينما يدخل الصلاة يكون على قدر كبير من النشاط فما يلبث أن يضمحل هذا النشاط شيئاً فشيئاً ، فناسب ذلك أن تكون الصلاة متفاوتة في الطول .&lt;br /&gt;6- يسن لصلاة الكسوف خطبة واحدة ، وهو قول الشافعي وإسحاق وكثير من أهل الحديث ، بينما ذهب الحنفية والمالكية والحنابلة إلى أنه ليس لها خطبة ، والصحيح في ذلك أنه يسن لها خطبة وهو اختيار الشيخ محمد بن صالح العثيمين ( انظر الشرح الممتع 5/249 ) ، ( انظر تيسير العلام 1/338 ) .&lt;br /&gt;7- تعجيل التوبة والإنابة إلى الله تعالى ، قبل أن هادم اللذات ومفرق الجماعات الموت الموت ، فحينئذ لا ينفع الندم ، فما أنزل الله بلاءً إلا بذنب ، ولا رفعه إلا بتوبة .&lt;br /&gt;8- أن يكون ابتداء وقت الصلاة من حين بداية الكسوف ، ونهايتها إلى أن ينجلي .&lt;br /&gt;9- التحذير من الذنوب والمعاصي ، وأنها سبب هلاك الأمم والأفراد .&lt;br /&gt;10- أن الكسوف والخسوف لا يكون لموت زعيم ولا لحياته ، ولا لموت عالم ولا لموت رفيع ولا وضيع ، ولو كان ذلك حاصلاً ، لحصل لموت أشرف بشر وأفضل من وطئت قدماه هذه الأرض نبينا محمد صلى الله عليه وسلم ، ولكنه وجه أمته إلى أن الكسوف والخسوف آيتان من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته ، وإنما يخوف الله بها عباده ، فخرج بذلك من يقول أن الشمس أو القمر انكسفت لموت فلان أو علان من الناس ، فلا ينكسفان لموت عالم ولا حاكم ولا قريب ولا بعيد .&lt;br /&gt;11- اطلاع الله عز وجل نبيه محمداً صلى الله عليه وسلم على بعض أمور الغيب التي لا يستطيعها أحد من الناس .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسائل تتعلق بصلاة الكسوف والخسوف :&lt;br /&gt;1- يجوز أداؤها في أوقات النهي ، فتؤدى بعد صلاة العصر ، وبعد صلاة الفجر ، لأنها من ذوات الأسباب التي إذا وقع سببها أوديت .&lt;br /&gt;2- يجوز أداؤها ركعتين في كل ركعة ركوعان أو ثلاث أو أربع أو خمس ، لأن ذلك ثابت عن الصحابة رضوان الله عليهم ، ولكن الأفضل الاقتصار عن الذي جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;3- الاعتبار فيها بالركوع الأول دون الثاني ، لأن الأول هو الركن ، فمن فاته الركوع الأول من الركعة الأولى أو الثانية فعليه الإتيان بتلك الركعة كاملة بعد سلام الإمام .&lt;br /&gt;4- من المعلوم أن الركوع فيها طويل جداً ، فماذا يقول المصلي في هذا الركوع ؟ لقد وجه النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك بقوله : [ فأما الركوع فعظموا فيه الرب ] ، فيقال : سبحان ربي العظيم ، سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم ، سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفر لي ، سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته .&lt;br /&gt;أما السجود فيكثر فيه من الدعاء ، لأن العبد أقرب ما يكون من ربه وهو ساجد ، فيكثر من الدعاء لأنه حري بالإجابة في هذا الموضع الذي يخضع فيه العبد لربه سبحانه وتعالى ، فيرغم أنفه وجبهته لخالقه سبحانه .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي ختام هذا الموضوع ، أسأل الله العلي العظيم بأسمائه الحسنى وصفاته العلى ، الغنيمة من كل بر ، والسلامة من كل إثم ، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار ، اللهم طهر قلوبنا وألسنتنا وبلادنا من كل فاحشة ورذيلة ، اللهم اهد شباب المسلمين إلى ما فيه خير البلاد والعباد ، واهدهم سبل السلام وجنبهم الفواحش ما ظهر منها وما بطن ، اللهم اجعلنا هداة مهتدين غير ضالين ولا مضلين ، اللهم اغفر لنا ولوالدينا ولكل من له حق علينا برحمتك يا أرحم الراحمين . وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين ، وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد ، وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ، وعنا معهم بمنك وكرمك ياأكرم الأكرمين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5967072715902587594?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5967072715902587594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_5218.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5967072715902587594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5967072715902587594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_5218.html' title='الكسوف والخسوف'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-8977867006485690931</id><published>2011-12-09T21:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T21:19:00.694-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>هل الكسوف والخسوف غضبٌ أو تخويفٌ أو ظاهرةٌ طبيعية ؟</title><content type='html'>كثر الحديث عن هذا الموضوع في هذه الأيام , ونحن حديثو عهد بخسوف القمر في منتصف محرم , واستاء الناس كثيراً من تصريح لأحد الفلكيين السعوديين في إحدى الصحف المحلية عندما قال : ( وكان الناس في الماضي يعتقدون أشياء لا أساس لها من الصحة , فكانوا ينسبون هذه الظواهر لغضب الرب , إلا أن الأبحاث العلمية في العصر الحديث بينت أن الخسوف يحدث عندما تقع الشمس والأرض والقمر جميعها على امتدادٍ واحد ... ) ولست أسيء الظن بهذا الفلكي , وإنما أراه اجتهد اجتهاداً مبنياً على الجهل بالجانب الشرعي لهذه القضية المحكومة بعدد من الأحاديث النبوية التي بلغت أعلى درجات الصحة والقبول فهي في صحيح البخاري و صحيح مسلم أو فيهما معاً , فلا يحسن بمسلم مهما بلغ من منزلة في علم الفلك أو غيره من العلوم أن يتجاهل مثل هذه الأحاديث حتى ولو لم يكن يعرف كنهها والمراد منها , ويكفيه أنها صادرة عن الرسول – صلى الله عليه وسلم - , الذي زكاه ربه بقوله : {وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى} [النجم: 4،3] , وأوجب علينا إتباعه والأخذ عنه بقوله تعالى : {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} [الحشر: 7] أليس الرسول – صلى الله عليه وسلم – هو الذي فصّل لنا أحكام الصلاة والزكاة والصيام والحج وغيرها , من حيث العدد والوقت والكيفية والهيئة وغير ذلك ؟ فكيف نستسلم لهذه الأحكام طائعين مختارين في حياتنا اليومية دون سؤال أو اعتراض أو افتيات , ثم بعد ذلك نفتات عليه ونتجاوز في أحكام الكسوف والخسوف , وقد نُقل عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه لما كسفت الشمس فزع فزعاً شديداً , قال أبو موسى – رضي الله عنه - : ( خسفت الشمس فقام النبي فزعاً يخشى أن تكون الساعة فأتى المسجد فصلى بأطول قيامٍ وركوعٍ وسجودٍ رأيته قط يفعله , وقال : هذه الآيات التي يرسل الله لا تكون لموت أحدٍ ولا لحياته ولكن يخوف الله بها عباده , فإذا رأيتم شيئاً من ذلك فافزعوا إلى ذكره ودعائه واستغفاره ) رواه البخاري ومسلم .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;وقد بلغ من فزعه – وهو أعلم الناس بربه – أنه أخطأ فلبس رداء بعض نسائه , كما قالت أسماء – رضي الله عنها - : ( فأخطأ بدرع حتى أُدرِك بردائه بعد ذلك ) رواه مسلم . ومن مظاهر فزعه – عليه الصلاة والسلام - , إطالته الصلاة طولاً غير معهود , مع أنه يأمر بالتخفيف , قال جابر – رضي الله عنه - : ( فأطال القيام حتى جعلوا يخرّون ) رواه مسلم . وأكدت ذلك أسماء – رضي الله عنها – بقولها : ( فأطال رسول الله – صلى الله عليه وسلم - , القيام جداً حتى تجلاني الغَشْي , فأخذت قربة من ماء إلى جنبي فجعلت أصب على رأسي أو على وجهي من الماء ) رواه البخاري ومسلم . وفي الموضوع أحاديث صحيحة أخرى رواها البخاري ومسلم عن عائشة – رضي الله عنها - , وعن أبي بكرة , وعن أسماء وفيها أمر بالصلاة والذكر والاستغفار والصدقة والتعوذ من عذاب القبر , بل والعتق , فقد روى البخاري عن أسماء – رضي الله عنها – قولها : ( لقد أمر النبي – صلى الله عليه وسلم – بالعتاقة في كسوف الشمس ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأي كتاب عندنا بعد كتاب الله أصح من صحيح البخاري ومسلم , فهل نصدق قول الرسول وعمله الذي نقل إلينا من نسائه وصحابته نقلاً صحيحاً بحركاته وسكناته , أو نصدق صاحبنا الفلكي الذي علم شيئاً قليلاً فجزم به وتجاهل أموراً أخرى مهمة في الموضوع لا يحسن بمثله تجاهلها , خصوصاً وأنه قد وقع في مثل هذه الهفوة في منتصف صفر من العام الماضي , ورد عليه الشيخ العلامة د. صالح الفوزان وأبان له الصواب في ذلك , نسأل الله لنا وله الهداية وسائر المسلمين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذه القضية – لمن بحث عن الحق – ليست من القضايا المبهمة أو الشائكة أو المغمورة , خصوصاً في ظل ثورة المعلومات عبر شبكة الإنترنت العالمية , ومن نعم الله علينا أن علم علمائنا الراسخين الأحياء منهم والأموات قد قيّض الله له من يخدمه ويقربه لطالبيه عبر مواقع أنشئت لهذا الغرض , ولا يكلفك استفتاء علاّمتنا الكبير سماحة الشيخ ابن باز , أو سماحة تلميذه العلامة ابن عثيمين أو غيرهما إلا لمسة زر تدخلك إلى موقعه الجميل المرتّب المبوّب , وفي هذا الموضوع يقول الشيخ ابن باز – رحمه الله - : ( وما يقع من خسوف أو كسوف في الشمس والقمر ونحو ذلك مما يبتلي الله به عباده هو تخويف منه سبحانه وتعالى وتحذير لعباده من التمادي في الطغيان , وحثٌ لهم على الرجوع والإنابة إليه ... ) ويقول : ( وكونها آية تعرف بالحساب لا يمنع كونها تخويفاً من الله جلّ وعلا وأنها تحذير منه سبحانه فإنه هو الذي أجرى الآيات , وهو الذي رتب أسبابها ... ) , وسئل الشيخ ابن عثيمين عن اثنين تنازعا في الكسوف : أهو غضب من الله , أم تخويف منه , فقال سماحته: ( المصيب من قال إنه تخويف ; لأن النبي – صلى الله عليه وسلم – صرح بذلك , فقال : يخوف الله بهما عباده , لكن قد يكون هذا التخويف لعقوبة انعقدت أسبابها , ولهذا أمر الناس بالفزع إلى الصلاة والدعاء والاستغفار والصدقة والتكبير .. ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; وقد أُشبع هذا الموضوع بحثاً في مواقع الإنترنت، وقد استفدت كثيرًا من خطبة الشيخ إبراهيم الحقيل، ومن موضوع لـ (فتى الظل) موجودين في عدد من المواقع، وإني لأعجب كيف تخفى هذه القضية على حبيبنا الفلكي، وأهل الفلك أكثر الناس علماً بعظمة هذا الكون ومجراته وكواكبه ونجومه، والطبيعي أن يكونوا أكثر الناس رهبة وخوفاً من أي تغيير يحصل فيه صغيراً كان أم كبيراً، وكأن الله سبحانه وتعالى – وله المثل الأعلى – يقول لنا: هذه الكواكب تسير أمامكم ليلاً ونهاراً بإتقان بديع، وقد تخرج عن مسارها سويعات، فأيّ قوة في الأرض تستطيع أن تخرجها ؟ وأيّ قوة تستطيع أن تعيدها إذا خرجت ؟، ولعل هذا هو معنى قوله تعالى: {قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ * قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفلا تُبْصِرُونَ * وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [القصص: 73،71].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بلى والله سنشكرك يا ربنا ونحمدك ونثني عليك بما أنت أهله, ولا يسعنا إلا ما وسع رسولك وحبيبك – صلى الله عليه وسلم – الذي شرفته بقولك: {وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا} [النساء : 113]، وصدق الله العظيم في قوله الكريم: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} [فاطر : 28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نسأل الله أن يزيدنا منه خشية ورهبة، وفيه رجاءً ورغبة.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-8977867006485690931?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/8977867006485690931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_8444.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8977867006485690931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8977867006485690931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_8444.html' title='هل الكسوف والخسوف غضبٌ أو تخويفٌ أو ظاهرةٌ طبيعية ؟'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-7992434784634579008</id><published>2011-12-09T21:14:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T21:18:09.550-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>الكسوف والخسوف ... تقدَم العلم وتأخَر الإنسان</title><content type='html'>الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد،،،&lt;br /&gt;   في الماضي القريب كانت الحوادث الكونية ككسوف الشمس وخسوف القمر التي يقدرها الله عز وجل مجهولة حتى تقع فيشاهدها الناس؛ وفي هذا العصر – عصر ازدهار العلوم – تغير الأمر تماما فأصبح من الممكن معرفة زمان ومكان حصول هذه الظواهر قبل وقوعها بسنوات. ومما لا شك فيه أن العلم نعمة أنعم الله بها على عباده وقد حث الإسلام على العلم والتعلم وعمارة الأرض ((أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ)) (الزمر: 9) وكتاب الله تعالى أنزل ليتدبره الخلق والتدبر لا يكون إلا بالفهم والعلم بالسنة وأقوال العلماء والعلم بدلالات الألفاظ ومعانيها والعلم بالكون وأحواله. ومما يجدر التنبيه له أن الله امتدح في أول الآية القانتين الذين يقومون الليل حذراً من الآخرة ورجاءاً لرحمته تعالى، وهذا العمل الذي هو القنوت والعمل للآخرة رجاء رحمة الله هو المقصود من العلم أما العلم الذي لا يورث عملاً فلا قيمة له.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   لا شك أن الكفار قد سبقونا في هذا العصر في العلوم الطبيعية والإنسانية وعلوم الفلك وغير ذلك، لكنهم مع ذلك لم يستفيدوا من هذه العلوم في التعرف على الخالق الحكيم الذي أوجدهم من العدم وأوجد المواد والعناصر التي استفادوا منها وعرفوا كثيراً من أسرارها وسخروها في اشباع رغباتهم وشهواتهم الدنيوية، ومع ذلك لم يؤدِ بهم ذلك إلى الإستعداد للإخرة ((يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ)) (الروم: 7).&lt;br /&gt;   العلم الذي لا يزيد في الإيمان والتقوى لا فائدة منه لأن العمارة الحقيقية للدنيا تكون بتطويع ما فيها من إمكانات مادية وعلمية لعبادة الله وحده لا شريك له. ما الفائدة من معرفة حدوث الكسوف والخسوف للبشر؟ هل الفائدة حاصلة في الإستمتاع بمشاهدة هذه الظواهر؟ نجد أن الكفار يجعلون من هذه الحوادث فرصة للمتعة بمشاهدتها ومتابعتها كونها حدثاً فريداً يرون فيه أمراً عظيماً ومشهداً بديعاً تتداخل فيه الكواكب ويغطي بعضها بعضا. ولهم ذلك فهم كما ذكر الله عنهم في الآية السابقة غافلون عن المعاد والحساب فكل ما في هذه الدنيا بالنسبة لهم متعة وقضاء شهوة لا غير.  ومما يؤسف له تقليد بعض المسلمين لهم ففي أحد الصحف السيارة جاء الخبر التالي: "ضمن دوره الفعال في خدمة وتوعية المجتمع: سايتك يفتح أبوابه للزوار الراغبين في مشاهدة ظاهرة الكسوفالكلي للشمس.. اليوم"[1]!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   نحن المسلمون نختلف عن القوم اختلافاً كبيراً، فجميع ممارساتنا الدنيوية مرتبطة بالشريعة الربانية. لا يمكن أن يوجد شئ في هذه الدنيا إلا وللشريعة فيه حكم وجوباً أو استحباباً أو تحريماً أو كراهةً أو جوازاً. ومن العجب أن أحد الإخوة الدعاة عندما ذكرت له أنني استفتيت في مسألة من المسائل قال لي: هذه المسألة لا تحتاج إلى فتوى! وهذا كلام غير صحيح البتة، فكل شئ مهما كان صغيراً أو كبيراً مهماً أو غير مهمٍ لابد أن يكون للشريعة فيه حكماً.&lt;br /&gt;   ونختلف أيضاً عن الكفار في نظرتنا للحياة وما فيها من سماء وكواكب وجبال وبحار وأن الله – جل وعلا – هو الذي خلقها وهو المصرف لها المدبر لشؤنها، لا يقع شئ في الكون إلا بإذنه لا راد لقضاءه وحكمه ((إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ)) (الأعراف: 54) فالله وحده سبحانه القادر على تحريك هذه الكوكب وتصريفها فعندما يقدر سبحانه الكسوف يجعل القمر في مكان بين الشمس والأرض وكذلك الخسوف يجعل – سبحانه وتعالى – الأرض في مكان بين الشمس والقمر ولا أحد غير الله يستطيع أن يحدث كسوفاً ولا خسوفاً وإنما غاية ما يستطيعه الإنسان بتعليم الله له أن يعرف متى يحصلان. وهذا دليل على وحدانية الله – جل وعلا – وقدرته.&lt;br /&gt;   لو افترضنا أن مجموعة من الباحثين أو من غيرهم أرادوا إحداث كسوف أو خسوف في وقت لم يقدره الله – جل وعلا – فأنَّى لهم ذلك لعجز البشر المخلوقين وقدرة الخالق – جل وعلا – وحده. وفي موضوع مشابه لهذا ومتعلق به امتن الله على عباده في كتابه بتعاقب الليل والنهار الذين لا قوام للناس دونهما وبين أنه لا أحد غيره سبحانه يستطيع أن يأتي بأحد منهما ((قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ ¤ قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ)) (القصص: 71-72).&lt;br /&gt;   إن الكسوف والخسوف آيتان من آيات الله تعالى يخوف بهما عبادة فعن ‏ ‏أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه ‏ ‏قال ‏قال رسول الله ‏‏صلى الله عليه وسلم: ((‏إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله يخوف الله بهما عبادهوإنهما لا ينكسفان لموت أحد من الناس فإذا رأيتم منها شيئا فصلوا وادعوا الله حتىيكشف ما بكم)).[2] رواه مسلم. فالمسلم دائم الخوف من ربه لا يأمن من مكر الله ولا يقنط من رحمته وكما قال غير واحد من السلف: الخوف والرجاء بالنسبة للمؤمن كجناحي طائر إذا اختل أحدهما سقط الطائر وإن اعتدلا طار وارتفع.&lt;br /&gt;    وقد جاء ذكر الخسوف مرة واحدة في كتاب الله تعالى في سورة القيامة عندما ذكر الله جل وعلا القيامة وأهوالها ومقدماتها قال تعالى: ((فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ ¤ وَخَسَفَ الْقَمَرُ ¤ وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ¤ يَقُولُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ)) (القيامة: 7-10).&lt;br /&gt;   وقد كان من شدة خوف النبي صلى الله عليه وسلم من ربه جل وعلا أنه خرج مسرعاً خائفاً وجلاً عندما كسفت الشمس حتى أنه أخذ درع إحدى نساءه ظناً منه أنه رداءه كما جاء في صحيح مسلم من حديث ‏ ‏أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما ‏ ‏قالت: ((‏كسفت الشمس على عهد النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ففزع فأخطأ بدرعحتى ‏ ‏أدرك ‏ ‏بردائه بعد ذلك))[3] الحديث.&lt;br /&gt;‏   وقد نقل النووي رحمه الله تعالى سبب فزعه صلى الله عليه وسلم فقال: قال القاضي يحتمل أن يكون معناه الفزع الذي هو الخوف كما في الرواية الأخرى (يخشى أن تكون الساعة) ويحتمل أن يكون معناه الفزع الذي هو المبادرة إلى الشيء (فأخطأ بدرع حتى أدرك بردائه) معناه أنه لشدة سرعته واهتمامه بذلك أراد أن يأخذ رداءه فأخذ درع بعض أهل البيت سهوا , ولم يعلم ذلك لاشتغال قلبه بأمر الكسوف , فلما علم أهل البيت أنه ترك رداءه لحقه به إنسان. ‏أ. هـ.[4]&lt;br /&gt;   فالواجب على المسلم أن يقتدي بنبيه صلى الله عليه وسلم وأن يخاف ويوجل عند حلول هذه الظواهر الكونية كالكسوف والخسوف والأعاصير والفيضانات وغيرها، فنبينا صلى الله عليه وسلم جر رداءه[5] فزعاً عندما كسفت الشمس وهرع إلى الصلاة والتضرع لله ودعاءه، وكان إذا رأى الريح أو الغيم أقبل وأدبر خشية أن يكون عذاباً كما روى مسلم عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها‏ عائشة قالت: ((‏كانرسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إذا كان يوم الريح والغيم عرف ذلك في وجههوأقبل وأدبر فإذا مطرت سر به وذهب عنه ذلك قالت ‏ ‏عائشة ‏ ‏فسألته فقال ‏‏إنيخشيت أن يكون عذابا سلط على أمتي ويقول إذا رأى المطر رحمة))[6].&lt;br /&gt;   كثير من المسلمين في عصر التقدم العلمي وتأخر الإنسان لا يقيمون رأساً لهذه الآيات التي يخوف الله بها عباده لينيبوا إليه ويتذكروا، بل وصل الحال بكثير من المسلمين أن يواقعوا المعاصي أثناء حدوث هذه الحوادث العظيمة من خلال مشاهدة الفضائيات أو الإنترنت أو التسكع في الأسواق وقليلٌ هم الذين يتأسون برسولهم صلى الله عليه وسلم ويهرعون للصلاة والذكر والدعاء.&lt;br /&gt;   رحم الله الحسن البصري إذ قال: المؤمن يعمل بالطاعات، وهو مشفق وجل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن.  وأصدق منه قول الباري عز وجل: ((أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ ¤ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ ¤ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ)) (الأعراف: 97-99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 جريدة الرياض، العدد 14648، في 29 رجب 1429 هـ.&lt;br /&gt;[2] صحيح مسلم، كتاب الكسوف، ذكر النداء بصلاة الكسوف الصلاة جامعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] صحيح مسلم، كتاب الكسوف، باب ما عرض على النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف.&lt;br /&gt;[4] شرح صحيح مسلم للنووي، كتاب الكسوف، باب ما عرض على النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف.&lt;br /&gt;[5] صحيح البخاري، كتاب الجمعة، باب الصلاة في كسوف الشمس.&lt;br /&gt;[6] صحيح مسلم، صلاة الإستسقاء، التعوذ عند رؤية الريح والغيم والفرح بالمطر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-7992434784634579008?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/7992434784634579008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_09.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7992434784634579008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7992434784634579008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post_09.html' title='الكسوف والخسوف ... تقدَم العلم وتأخَر الإنسان'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-7376872480610342494</id><published>2011-12-05T22:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T23:06:40.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatawa Muharram'/><title type='text'>فتاوى المحرم</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;فتاوى &amp;gt; فتاوى المحرم&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=151&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;التهنئة بالسنة الميلادية أو الهجرية أو مولد الرسول&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=152&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;ما يعرف في اليمن بنتيجة بيت الفقيه&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=153&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;إصلاح المرأة شعرها أثناء أيام عشر عاشوراء&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=154&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حديث من اغتسل يوم عاشوراء لم يمرض ذلك العام&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=155&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;صيام يوم عاشوراء&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=156&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;سباحة الرجال والنساء ثم مصافحتهم بعد السباحة يوم العاشر من محرم&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=157&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حكم تحري ليلة عاشوراء&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=158&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حكم الاعتماد على التقويم في صيام عاشوراء&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=159&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;صوم التاسع مع العاشر أفضل من صوم الحادي عشر مع العاشر&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=160&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;الذبح في العاشر من محرم&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=161&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حكم إفراد يوم الجمعة بصيام&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=162&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;من بدع الجنائز&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=163&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;بدعة جاهلية في شهر المحرم&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=164&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;نذر أن يذبح ذبيحة في وقت معين ويوزعها على المحتاجين&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=165&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;الصيد في رمضان والأشهر الحرم&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=166&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حكمة تعدد زوجات الرسول صلى الله عليه وسلم&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=167&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;حكم صيام محرم وشعبان وعشر ذي الحجة&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=168&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;المقصود بالهجرة وشروطها&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=169&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;القراءة على ماء زمزم وإعطاؤه لآخر تحقيقا لغرض&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href="http://www.alifta.com/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&amp;amp;PageID=170&amp;amp;PageNo=1&amp;amp;BookID=12"&gt;من دخل المسجد والجماعة في التشهد هل ينتظر أو يدخل مع الجماعة&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.alifta.com/"&gt;http://www.alifta.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-7376872480610342494?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/7376872480610342494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7376872480610342494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7376872480610342494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/12/blog-post.html' title='فتاوى المحرم'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5960710787892648435</id><published>2011-11-27T18:12:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T18:14:38.745-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>حكم التهنئة بالعام الهجري</title><content type='html'>حكم التهنئة بالعام الهجري&lt;br /&gt;السؤال&lt;br /&gt;ما حكم التهنئة بالعام الهجري الجديد؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب&lt;br /&gt;التهنئة بالعام الهجري الجديد من المباحات، وأفضل ما يقال في شأنها أن من هنأك ترد عليه بكلام طيب من جنس كلامه، ولا تبدأ أحداً بها.&lt;br /&gt;وهذا بعينه ما روي عن أحمد في التهنئة بالعيد أنه من هنأه رد عليه، وإلا لم يبتدئه، ولا أعلم في التهنئة بالعيد شيئاً يثبت.&lt;br /&gt;وقد قال أصحابنا من الحنابلة: لا بأس بقوله لغيره: تقبل الله منا ومنك، فالجواب: أي لا بأس بتهنئة الناس بعضهم بعضاً بما هو مستفيض بينهم، وقد يستدل لهذا من حيث العموم بمشروعية سجود الشكر، ومشروعية التعزية، وتبشير النبي –صلى الله عليه وسلم- بقدوم رمضان، انظر ما رواه النسائي (2106)، وتهنئة طلحة بن عبيد الله لكعب بن مالك، وبحضرة النبي –صلى الله عليه وسلم- ولم ينكر عليه، انظر ما رواه البخاري (4418) ومسلم (2769).&lt;br /&gt;قال ابن تيمية –رحمه الله-: قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره.&lt;br /&gt;وذكر الحافظ ابن حجر مشروعيته، وثمة آثار عديدة في مثل ذلك.&lt;br /&gt;قال أحمد: لا أبتدئ به، فإن ابتدأني أحد أجبته.&lt;br /&gt;وذلك لأن جواب التحية واجب؛ لقوله –تعالى-:"وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها"الآية [النساء:86].&lt;br /&gt;ولم يرد في مثل ذلك نهي، والله –تعالى- أعلم.&lt;br /&gt;ولا يدخل مثل هذا في باب البدع؛ لأنه من محاسن العادات وطيب الأخلاق، ولا يقصد به محض التعبد، هذا ما يظهر لي، والله أعلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سلمان بن فهد العودة&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;السؤال&lt;br /&gt;ما حكم المباركة بمناسبة العام الهجري؟ بذكر: (كل عام وأنت بخير، كل سنة وأنتم طيبون، أو غيرها من العبارات).&lt;br /&gt;أفتونا مأجورين. وجزاكم الله خيراً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب&lt;br /&gt;الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد..&lt;br /&gt;فلا يظهر المنع من إيراد هذه الألفاظ على سبيل الدعاء، وتكون من باب الدعاء، إذا نصب فيها لفظ "كل"، وقد ذكر الدكتور بكر بن عبد الله أبو زيد في كتابه (معجم المناهى اللفظية) ص (459) أن رفع "كل" في كل عام وأنتم بخير" لحن لا يتأدَّى به المعنى المراد من إنشاء الدعاء للمخاطب، وإنما يتأدى به الدعاء إذا فُتحت اللام من "كل"، ولذا فعلى الداعي به عدم اللحن- والله أعلم- انتهى.&lt;br /&gt;وذكر الشيخ: ابن عثيمين – رحمه الله – في المجموع الثمين (2/226): أن قول "كل عام وأنتم بخير" جائز إذا قُصِدَ به الدعاء بالخير، - وصلى الله علي نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; د. رشيد بن حسن الألمعي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السؤال&lt;br /&gt;ما حكم التهنئة بالعام الهجري الجديد؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب&lt;br /&gt;الأصل في التهاني –والله أعلم- أنها من باب العادات، ولكن الأولى هنا –أعني في التهنئة بالعام الجديد- ألاّ يبدأ بها الإنسان؛ لأن هذا ليس من السنة، وليست الغبطة بكثرة السنين، بل الغبطة بما أمضاه العبد منها في طاعة مولاه، فكثرة السنين خير لمن أمضاه في طاعة ربه، شر لمن أمضاها في معصية الله والتمرد على طاعته، وشر الناس من طال عمره وساء عمله –كما يقول شيخنا ابن عثيمين –رحمه الله تعالى- في ديوان خطبه ص (702)-.&lt;br /&gt;ولكن لو هُنِّئ الإنسان، فلا ينبغي له أن ينكر، بل ينبغي أن يجعل الرد بالدعاء، كأن يقول: جعل الله هذا العام عام عز ونصر للأمة الإسلامية، ونحو هذه الدعوات الطيبة والله تعالى أعلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عمر بن عبد الله المقبل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السؤال:&lt;br /&gt;ما حكم التهنئة بمناسبة العام الهجري الجديد بقول كل عام وأنتم بخير أو بالدعاء بالبركة وكأن يرسل رسالة يدعو فيها للمرسل إليه بالخير والبركة في عامه الجديد ؟.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الجواب:&lt;br /&gt;الحمد لله&lt;br /&gt;سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية وماذا يرد على المهنئ ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأجاب رحمه الله :&lt;br /&gt;إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه ولا تبتديء أحداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير وجعله عام خير وبركه ، لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل اعلموا أن السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. انتهى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المصدر إجابة السؤال رقم 835 من اسطوانة موسوعة اللقاء الشهري والباب المفتوح الإصدار الأول اللقاء الشهري لفضيلته من إصدارات مكتب الدعوة و الإرشاد بعنيزة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال الشيخ عبد الكريم الخضير في التهنئة بدخول العام الهجري :&lt;br /&gt;الدعاء للمسلم بدعاء مطلق لا يتعبد الشخص بلفظه في المناسبات كالأعياد لا بأس به لا سيما إذا كان المقصود من هذه التهنئة التودّد ، وإظهار السرور والبشر في وجه المسلم . قال الإمام أحمد رحمه الله : لا ابتدئ بالتهنئة فإن ابتدأني أحد أجبته لأن جواب التحية واجب وأما الابتداء بالتهنئة فليس سنة مأمورا بها ولا هو أيضا مما نهي عنه .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المصدر : الإسلام اليوم والإسلام سؤال وجواب&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5960710787892648435?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5960710787892648435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5960710787892648435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5960710787892648435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post_27.html' title='حكم التهنئة بالعام الهجري'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5386652593406017153</id><published>2011-11-23T19:50:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T19:51:28.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>فضل شهر الله المحرم وصيام عاشوراء</title><content type='html'>الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد خاتم الأنبياء وسيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن شهر الله المحرّم شهر عظيم مبارك، وهو أول شهور السنة الهجرية وأحد الأشهر الحُرُم التي قال الله فيها:{إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} [التوبة:36].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن النبي صلى الله عليه وسلم: «.. السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ» [رواه البخاري 2958] والمحرم سمي بذلك لكونه شهراً محرماً وتأكيداً لتحريمه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقوله تعالى: {فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} أي: في هذه الأشهر المحرمة لأنها آكد وأبلغ في الإثم من غيرها.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;وعن ابن عباس في قوله تعالى: {فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} في كلهن ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراماً وعظّم حرماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم والعمل الصالح والأجر أعظم. وقال قتادة في قوله: {فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ}: "إن الظّلم في الأشهر الحرم أعظم خطيئة ووزراً من الظلم فيما سواها. وإن كان الظلم على كل حال عظيماً، ولكن الله يعظّم من أمره ما يشاء، وقال: إن الله اصطفى صفايا من خلقه: اصطفى من الملائكة رسلاً ومن الناس رسلاً، واصطفى من الكلام ذكره، واصطفى من الأرض المساجد، واصطفى من الشهور رمضان والأشهر الحرم، واصطفى من الأيام يوم الجمعة، واصطفى من الليالي ليلة القدر، فعظموا ما عظّم الله، فإنما تُعَظّم الأمور بما عظمها الله به عند أهل الفهم وأهل العقل". (انتهى ملخّصا من تفسير ابن كثير رحمه الله: تفسير سورة التوبة آية 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فضل الإكثار من صيام النافلة في شهر محرّم:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ» [رواه مسلم 1982].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قوله: «شهر الله» إضافة الشّهر إلى الله إضافة تعظيم، قال القاري: الظاهر أن المراد جميع شهر المحرّم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولكن قد ثبت أنّ النبي لم يصم شهراً كاملاً قطّ غير رمضان فيُحمل هذا الحديث على الترغيب في الإكثار من الصّيام في شهر محرم لا صومه كله.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد ثبت إكثار النبي صلى الله عليه وسلم من الصوم في شعبان، ولعلّ لم يوح إليه بفضل المحرّم إلا في آخر الحياة قبل التمكّن من صومه.. (شرح النووي على صحيح مسلم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله يصطفي ما يشاء من الزمان والمكان:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال العِزُّ بن عبدِالسَّلام رحمه الله: وتفضيل الأماكن والأزمان ضربان: أحدهما: دُنيويٌّ.. والضرب الثاني: تفضيل ديني راجعٌ إلى الله يجود على عباده فيها بتفضيل أجر العاملين، كتفضيل صوم سائر الشهور، وكذلك يوم عاشوراء.. ففضلها راجعٌ إلى جود الله وإحسانه إلى عباده فيها.. (قواعد الأحكام 38/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عاشوراء في التاريخ:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء فقال: «مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى، قال: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ» [رواه البخاري 1865].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قوله: «هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ» في رواية مسلم: «هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه وغرّق فرعون وقومه».قوله: «فصامه موسى»زاد مسلم في روايته: «شكراً لله تعالى فنحن نصومه»وفي رواية للبخاري: «ونحن نصومه تعظيماً له». ورواه الإمام أحمد بزيادة: «وهو اليوم الذي استوت فيه السفينة على الجودي فصامه نوح شكراً».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قوله: «وأمر بصيامه» وفي رواية للبخاري أيضا: «فقال لأصحابه: أنتم أحق بموسى منهم فصوموا».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصيام عاشوراء كان معروفاً حتى على أيّام الجاهلية قبل البعثة النبويّة، فقد ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: «إن أهل الجاهلية كانوا يصومونه».. قال القرطبي: "لعل قريشاً كانوا يستندون في صومه إلى شرع من مضى كإبراهيم عليه السّلام. وقد ثبت أيضا أنّ النبي صلى الله عليه وسلم كان يصومه بمكة قبل أن يهاجر إلى المدينة، فلما هاجر إلى المدينة وجد اليهود يحتفلون به فسألهم عن السبب فأجابوه كما تقدّم في الحديث، وأمر بمخالفتهم في اتّخاذه عيدا كما جاء في حديث أبي موسى قال: «كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا» وفي رواية مسلم: «كان يوم عاشوراء تعظمه اليهود تتخذه عيدا» وفي رواية له أيضا: «كان أهل خيبر (اليهود) يتخذونه عيدا، ويلبسون نساءهم فيه حليهم وشارتهم». ققال النبي صلى الله عليه وسلم: «فَصُومُوهُ أَنْتُمْ» [رواه البخاري].&lt;br /&gt;وظاهر هذا أن الباعث على الأمر بصومه محبة مخالفة اليهود حتى يصام ما يفطرون فيه، لأن يوم العيد لا يصام". (انتهى ملخّصا من كلام الحافظ ابن حجر رحمه الله في فتح الباري شرح صحيح البخاري).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فضل صيام عاشوراء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: «مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ» [رواه البخاري 1867] ومعنى "يتحرى" أي يقصد صومه لتحصيل ثوابه والرغبة فيه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «صيام يوم عاشوراء، إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله» [رواه مسلم 1976] وهذا من فضل الله علينا أن أعطانا بصيام يوم واحد تكفير ذنوب سنة كاملة، والله ذو الفضل العظيم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أي يوم هو عاشوراء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال النووي رحمه الله: "عاشوراءُ وتاسوعاءُ اسمان ممدودان، هذا هو المشهور في كتب اللغة. قال أصحابنا: عاشوراء هو اليوم العاشر من المحرَّم، وتاسوعاء هو اليوم التّاسع منه.. وبه قال جُمْهُورُ العلماء.. وهو ظاهر الأحاديث ومقتضى إطلاق اللفظ، وهو المعروف عند أهل اللغة". (المجموع).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"وهو اسم إسلامي لا يعرف في الجاهلية". (كشاف القناع ج2 صوم المحرم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال ابن قدامة رحمه الله: عاشوراء هو اليوم العاشر من المحرم. وهذا قول سعيد بن المسيب والحسن، لما روى ابنُ عبّاس، قال: «أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصوم يوم عاشوراء العاشر من المحرم» [رواه الترمذي. وقال: حديث حسن صحيح].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;استحباب صيام تاسوعاء مع عاشوراء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;روى عبدالله بن عباس رضي الله عنهما قال: «حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ". قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» [رواه مسلم 1916].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشافعي وأصحابه وأحمد وإسحاق وآخرون: "يستحب صوم التاسع والعاشر جميعاً; لأن النبي صلى الله عليه وسلم صام العاشر، ونوى صيام التاسع".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعلى هذا فصيام عاشوراء على مراتب: أدناها أن يصام وحده، وفوقه أن يصام التاسع معه، وكلّما كثر الصيام في محرّم كان أفضل وأطيب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكمة من استحباب صيام تاسوعاء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال النووي رحمه الله: "ذكر العلماء من أصحابنا وغيرهم في حكمة استحباب صوم تاسوعاء أوجهاً:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَحَدُهَا: أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثَّانِي: أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ، كَمَا نَهَى أَنْ يُصَامَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ، ذَكَرَهُمَا الْخَطَّابِيُّ وَآخَرُونَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثَّالِثَ: الاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلالِ، وَوُقُوعِ غَلَطٍ، فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الأَمْرِ". انتهى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأقوى هذه الأوجه هو مخالفة أهل الكتاب، قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: "نَهَى صلى الله عليه وسلم عَنْ التَّشَبُّهِ بِأَهْلِ الْكِتَابِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ مِثْلُ قَوْلِهِ في عَاشُورَاءَ: «لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ»". (الفتاوى الكبرى ج6 سد الذرائع المفضية إلى المحارم).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال ابن حجر رحمه الله في تعليقه على حديث: «لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع» ما همّ به من صوم التاسع يُحتمل معناه أن لا يقتصر عليه بل يُضيفه إلى اليوم العاشر إما احتياطاً له وإما مخالفة لليهود والنصارى وهو الأرجح وبه يُشعر بعض روايات مسلم".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حكم إفراد عاشوراء بالصيام:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال شيخ الإسلام: "صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَلا يُكْرَهُ إفْرَادُهُ بِالصَّوْمِ.". (الفتاوى الكبرى ج5). وفي تحفة المحتاج لابن حجر الهيتمي: "وعاشوراء لا بأس بإفراده.." (ج3 باب صوم التطوع).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُصام عاشوراء ولو كان يوم سبت أو جمعة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ورد النهي عن إفراد الجمعة بالصوم، والنهي عن صوم يوم السبت إلا في فريضة ولكن تزول الكراهة إذا صامهما بضمّّ يوم أو إذا وافق عادة مشروعة كصوم يوم وإفطار يوم أو نذراً أو قضاءً أو صوماً طلبه الشارع كعرفة وعاشوراء.. (تحفة المحتاج ج3 باب صوم التطوع، مشكل الآثار ج2: باب صوم يوم السبت).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال البهوتي رحمه الله: "وَيُكْرَهُ تَعَمُّدُ إفْرَادِ يَوْمِ السَّبْتِ بِصَوْمٍ لِحَدِيثِ عَبْدِاللَّهِ بْنِ بِشْرٍ عَنْ أُخْتِهِ: «لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إلّا فِيمَا اُفْتُرِضَ عَلَيْكُمْ» [رَوَاهُ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ: عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ] وَلأَنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ فَفِي إفْرَادِهِ تَشَبُّهٌ بِهِمْ.. (إلا أَنْ يُوَافِقَ) يَوْمُ الْجُمُعَةِ أَوْ السَّبْتِ (عَادَةً) كَأَنْ وَافَقَ يَوْمَ عَرَفَةَ أَوْ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَكَانَ عَادَتَهُ صَوْمُهُمَا فَلا كَرَاهَةَ; لأَنَّ الْعَادَةَ لَهَا تَأْثِيرٌ فِي ذَلِكَ". (كشاف القناع ج2: باب صوم التطوع).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما العمل إذا اشتبه أول الشهر؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ أَحْمَدُ: "فَإِنْ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ أَوَّلُ الشَّهْرِ صَامَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ. وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ لِيَتَيَقَّنَ صَوْمَ التَّاسِعِ وَالْعَاشِرِ". (المغني لابن قدامة ج3 الصيام - صيام عاشوراء).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمن لم يعرف دخول هلال محرّم وأراد الاحتياط للعاشر بنى على إكمال ذي الحجة ثلاثين كما هي القاعدة ثم صام التاسع والعاشر، ومن أراد الاحتياط للتاسع أيضاً صام الثامن والتاسع والعاشر (فلو كان ذو الحجة ناقصاً يكون قد أصاب تاسوعاء وعاشوراء يقيناً). وحيث أنّ صيام عاشوراء مستحبّ ليس بواجب فلا يُؤمر النّاس بتحرّي هلال شهر محرم كما يؤمرون بتحرّي هلال رمضان وشوال.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صيام عاشوراء ماذا يكفّر؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الإمام النووي رحمه الله: "يُكَفِّرُ كُلَّ الذُّنُوبِ الصَّغَائِرِ، وَتَقْدِيرُهُ يَغْفِرُ ذُنُوبَهُ كُلَّهَا إلا الْكَبَائِرَ. ثم قال رحمه الله: صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ، وَيَوْمُ عَاشُورَاءَ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَإِذَا وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ... كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَذْكُورَاتِ صَالِحٌ لِلتَّكْفِيرِ، فَإِنْ وَجَدَ مَا يُكَفِّرُهُ مِنْ الصَّغَائِرِ كَفَّرَهُ، وَإِنْ لَمْ يُصَادِفْ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً كُتِبَتْ بِهِ حَسَنَاتٌ، وَرُفِعَتْ لَهُ بِهِ دَرَجَاتٌ وَإِنْ صَادَفَ كَبِيرَةً أَوْ كَبَائِرَ وَلَمْ يُصَادِفْ صَغَائِرَ، رَجَوْنَا أَنْ تُخَفِّفَ مِنْ الْكَبَائِرِ". (المجموع شرح المهذب ج6 صوم يوم عرفة).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: "وَتَكْفِيرُ الطَّهَارَةِ، وَالصَّلَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَعَرَفَةَ، وَعَاشُورَاءَ لِلصَّغَائِرِ فَقَطْ". (الفتاوى الكبرى ج5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عدم الاغترار بثواب الصيام:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَغْتَرُّ بَعْضُ الْمَغْرُورِينَ بِالاعْتِمَادِ عَلَى مِثْلِ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَوْ يَوْمِ عَرَفَةَ، حَتَّى يَقُولَ بَعْضُهُمْ: صَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ ذُنُوبَ الْعَامِ كُلِّهَا، وَيَبْقَى صَوْمُ عَرَفَةَ زِيَادَةٌ فِي الأَجْرِ. قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ: "لَمْ يَدْرِ هَذَا الْمُغْتَرُّ أَنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ أَعْظَمُ وَأَجَلُّ مِنْ صِيَامِ يَوْمِ عَرَفَةَ وَيَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَهِيَ إنَّمَا تُكَفِّرُ مَا بَيْنَهُمَا إذَا اُجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ، فَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ، وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ لا يَقْوَيَانِ عَلَى تَكْفِيرِ الصَّغَائِرِ إلَّا مَعَ انْضِمَامِ تَرْكِ الْكَبَائِرِ إلَيْهَا، فَيَقْوَى مَجْمُوعُ الأَمْرَيْنِ عَلَى تَكْفِيرِ الصَّغَائِرِ. وَمِنْ الْمَغْرُورِينَ مَنْ يَظُنُّ أَنَّ طَاعَاتِهِ أَكْثَرُ مِنْ مَعَاصِيهِ، لاَنَّهُ لا يُحَاسِبُ نَفْسَهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ، وَلا يَتَفَقَّدُ ذُنُوبَهُ، وَإِذَا عَمِلَ طَاعَةً حَفِظَهَا وَاعْتَدَّ بِهَا، كَاَلَّذِي يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ بِلِسَانِهِ أَوْ يُسَبِّحُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ، ثُمّ يَغْتَابُ الْمُسْلِمِينَ وَيُمَزِّقُ أَعْرَاضَهُمْ، وَيَتَكَلَّمُ بِمَا لا يَرْضَاهُ اللَّهُ طُولَ نَهَارِهِ، فَهَذَا أَبَدًا يَتَأَمَّلُ فِي فَضَائِلِ التَّسْبِيحَاتِ وَالتَّهْلِيلاتِ وَلا يَلْتَفِتُ إلَى مَا وَرَدَ مِنْ عُقُوبَةِ الْمُغْتَابِينَ وَالْكَذَّابِينَ وَالنَّمَّامِينَ، إلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ آفَاتِ اللِّسَانِ، وَذَلِكَ مَحْضُ غُرُورٍ". (الموسوعة الفقهية ج31: غرور).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صيام عاشوراء وعليه قضاء من رمضان:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ التَّطَوُّعِ بِالصَّوْمِ قَبْلَ قَضَاءِ رَمَضَانَ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إلَى جَوَازِ التَّطَوُّعِ بِالصَّوْمِ قَبْلَ قَضَاءِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ كَرَاهَةٍ، لِكَوْنِ الْقَضَاءِ لا يَجِبُ عَلَى الْفَوْرِ، وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إلَى الْجَوَازِ مَعَ الْكَرَاهَةِ، لِمَا يَلْزَمُ مِنْ تَأْخِيرِ الْوَاجِبِ، قَالَ الدُّسُوقِيُّ: يُكْرَهُ التَّطَوُّعُ بِالصَّوْمِ لِمَنْ عَلَيْهِ صَوْمٌ وَاجِبٌ، كَالْمَنْذُورِ وَالْقَضَاءِ وَالْكَفَّارَةِ، سَوَاءٌ كَانَ صَوْمُ التَّطَوُّعِ الَّذِي قَدَّمَهُ عَلَى الصَّوْمِ الْوَاجِبِ غَيْرَ مُؤَكَّدٍ أَوْ كَانَ مُؤَكَّدًا كَعَاشُورَاءَ وَتَاسِعِ ذِي الْحِجَّةِ عَلَى الرَّاجِحِ، وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إلَى حُرْمَةِ التَّطَوُّعِ بِالصَّوْمِ قَبْلَ قَضَاءِ رَمَضَانَ، وَعَدَمِ صِحَّةِ التَّطَوُّعِ حِينَئِذٍ وَلَوْ اتَّسَعَ الْوَقْتُ لِلْقَضَاءِ، وَلا بُدَّ مِنْ أَنْ يَبْدَأَ بِالْفَرْضِ حَتَّى يُقْضِيَهُ. (الموسوعة الفقهية ج28: صوم التطوع).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فعلى المسلم أن يبادر إلى القضاء بعد رمضان ليتمكن من صيام عرفة وعاشوراء دون حرج، ولو صام عرفة وعاشوراء بنيّة القضاء من الليل أجزَأه ذلك في قضاء الفريضة، وفضل الله عظيم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بدع عاشوراء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُئِلَ شَيْخُ الإسلام ابن تيمية رحمه الله عَمَّا يَفْعَلُهُ النَّاسُ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ مِنْ الْكُحْلِ، وَالاغْتِسَالِ، وَالْحِنَّاءِ وَالْمُصَافَحَةِ، وَطَبْخِ الْحُبُوبِ وَإِظْهَارِ السُّرُورِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ.. هَلْ لِذَلِكَ أَصْلٌ؟ أَمْ لا؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْجَوَابُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَمْ يَرِدْ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَلا عَنْ أَصْحَابِهِ، وَلا اسْتَحَبَّ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ لا الأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ وَلا غَيْرِهِمْ، وَلا رَوَى أَهْلُ الْكُتُبِ الْمُعْتَمَدَةِ فِي ذَلِكَ شَيْئًا، لا عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَلا الصَّحَابَةِ، وَلا التَّابِعِينَ، لا صَحِيحًا وَلا ضَعِيفًا، وَلَكِنْ رَوَى بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ فِي ذَلِكَ أَحَادِيثَ مِثْلَ مَا رَوَوْا أَنَّ مَنْ اكْتَحَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَرْمَدْ مِنْ ذَلِكَ الْعَامِ، وَمَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمْرَضْ ذَلِكَ الْعَامِ، وَأَمْثَالِ ذَلِكَ.. وَرَوَوْا فِي حَدِيثٍ مَوْضُوعٍ مَكْذُوبٍ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: «أَنَّهُ مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ السَّنَةِ». وَرِوَايَةُ هَذَا كُلِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَذِبٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثم ذكر رحمه الله ملخصا لما مرّ بأول هذه الأمة من الفتن والأحداث ومقتل الحسين رضي الله عنه وماذا فعلت الطوائف بسبب ذلك فقال:&lt;br /&gt;"فَصَارَتْ طَائِفَةٌ جَاهِلَةٌ ظَالِمَةٌ: إمَّا مُلْحِدَةٌ مُنَافِقَةٌ، وَإِمَّا ضَالَّةٌ غَاوِيَةٌ، تُظْهِرُ مُوَالاتَهُ وَمُوَالاةَ أَهْلِ بَيْتِهِ، تَتَّخِذُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ يَوْمَ مَأْتَمٍ وَحُزْنٍ وَنِيَاحَةٍ، وَتُظْهِرُ فِيهِ شِعَارَ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ لَطْمِ الْخُدُودِ، وَشَقِّ الْجُيُوبِ، وَالتَّعَزِّي بِعَزَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ.. وَإِنْشَادِ قَصَائِدِ الْحُزْنِ، وَرِوَايَةِ الأَخْبَارِ الَّتِي فِيهَا كَذِبٌ كَثِيرٌ وَالصِّدْقُ فِيهَا لَيْسَ فِيهِ إلَّا تَجْدِيدُ الْحُزْنِ، وَالتَّعَصُّبُ، وَإِثَارَةُ الشَّحْنَاءِ وَالْحَرْبِ، وَإِلْقَاءُ الْفِتَنِ بَيْنَ أَهْلِ الإسلام، وَالتَّوَسُّلُ بِذَلِكَ إلَى سَبِّ السَّابِقِينَ الأَوَّلِينَ.. وَشَرُّ هَؤُلاءِ وَضَرَرُهُمْ عَلَى أَهْلِ الإسلام لا يُحْصِيهِ الرَّجُلُ الْفَصِيحُ فِي الْكَلامِ. فَعَارَضَ هَؤُلاءِ قَوْمٌ إمَّا مِنْ النَّوَاصِبِ الْمُتَعَصِّبِينَ عَلَى الْحُسَيْنِ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، وَإِمَّا مِنْ الْجُهَّالِ الَّذِينَ قَابَلُوا الْفَاسِدَ بِالْفَاسِدِ، وَالْكَذِبَ بِالْكَذِبِ، وَالشَّرَّ بِالشَّرِّ، وَالْبِدْعَةَ بِالْبِدْعَةِ، فَوَضَعُوا الأثَارَ فِي شَعَائِرِ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَالاكْتِحَالِ وَالاخْتِضَابِ، وَتَوْسِيعِ النَّفَقَاتِ عَلَى الْعِيَالِ، وَطَبْخِ الأَطْعِمَةِ الْخَارِجَةِ عَنْ الْعَادَةِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا يُفْعَلُ فِي الأَعْيَادِ وَالْمَوَاسِمِ، فَصَارَ هَؤُلاءِ يَتَّخِذُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مَوْسِمًا كَمَوَاسِمِ الأَعْيَادِ وَالأَفْرَاحِ، وَأُولَئِكَ يَتَّخِذُونَهُ مَأْتَمًا يُقِيمُونَ فِيهِ الأَحْزَانَ وَالأَتْرَاحَ، وَكِلا الطَّائِفَتَيْنِ مُخْطِئَةٌ خَارِجَةٌ عَنْ السُّنَّةِ.." (الفتاوى الكبرى لابن تيمية).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وذكر ابن الحاج رحمه الله من بدع عاشوراء تعمد إخراج الزكاة فيه تأخيراً أو تقديماً، وتخصيصه بذبح الدجاج واستعمال الحنّاء للنساء. (المدخل ج1 يوم عاشوراء).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نسأل الله أن يجعلنا من أهل سنة نبيه الكريم، وأن يحيينا على الإسلام ويميتنا على الإيمان، وأن يوفقنا لما يحب ويرضى. ونسأله أن يُعيننا على ذكره وشكره وحسن عبادته، وأن يتقبل منا ويجعلنا من المتقين، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5386652593406017153?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5386652593406017153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5386652593406017153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5386652593406017153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post_23.html' title='فضل شهر الله المحرم وصيام عاشوراء'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-6168942877503640623</id><published>2011-11-23T19:40:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T19:42:35.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>فضل الشهر المحرم</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;م&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;لخص الخطبة&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- فضل الصيام في شهر المحرّم وفضل صيام عاشوراء ومخالفة اليهود في صومه بأن يُصام ويُصامَ يومٌ قبله 2- الحث على الاجتهاد في الصيام في هذا الشهر والتزوّد من الخير واستحضار نصر الله لأوليائه كما نصر موسى عليه السلام على فرعون وقومه في يوم عاشوراء 3- الحث على المداومة على الأعمال الصالحة لأن الأعمال بالخواتيم 4- الحساب الشرعي العربي مبنيٌ على الشهور الهلالية وأن عمر رضي الله عنه أرّخ بالهجرة وجعل المحرّم أول شهور السنة 5- الحث على تقوى الله والحرص على طاعته&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ا&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;لخطبة الأولى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أيها الإخوة: أنتم في شهر الله المحرم أحد الأشهر الأربعة الحرم وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب، وهذا الشهر فيه من الفضائل ما ليس في غيره ومن ذلك فضل الصيام فيه فعن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) ومن خصائص هذا الشهر أن فيه فضيلة صيام عاشوراء وهو العاشر من محرم ففي الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان عاشوراء يوماً تصومه قريش في الجاهلية وكان النبي يصومه فلما قدم المدينة صامه وأمر بصيامه فلما نزلت فريضة شهر رمضان كان رمضان هو الذي يصومه فترك يوم عاشوراء فمن شاء صامه ومن شاء أفطره) وفي الصحيحين عن ابن عباس قال: لما قدم رسول الله المدينة فوجد اليهود صياماً يوم عاشوراء فقال لهم رسول الله: ((ما هذا اليوم الذي تصومونه؟ قالوا:هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه وأغرق فرعون وقومه فصامه موسى شكراً فنحن نصومه، فقال رسول الله : فنحن أحق وأولى بموسى منكم فصامه رسول الله وأمر بصيامه)) وعن سلمة بن الأكوع أن النبي : ((أمر رجلاً من أسلم أن أذن في الناس من أكل فليصم بقية يومه ومن لم يكن أكل فليصم فإن اليوم يوم عاشوراء)) وعن أبي قتادة أن رجلاً سأل النبي عن صيام عاشوراء فقال: ((احتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله)) [مسلم]. وعن ابن عباس قال: قال رسول الله : ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع مع العاشر يعني عاشوراء)) [مسلم]، مخالفة لليهود، فاجتهد أيها المسلم في صيام التاسع مع العاشر وإن لم تفعل فصم العاشر في هذا الشهر الحرام واجتهد فيه بصيام غير عاشوراء كالإثنين والخميس وأيام البيض وهي الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر وتزود من الخيرات لتقدم لنفسك زاداً تجده غداً أمامك والله يقول: فمن يعمل مثقال ذرة خير يره .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    تزود من الدنيـا فإنك لا تدري إذا              جن عليك الليل هل تعيش إلى الفجر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    فكم من فتى يمسي ويصبح لاهياً           وقد نسجت أكفانه وهو لا يــدري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وكم ساكن عند الصبـاح بقصره         وعند المساء قد كان من ساكني القبر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;واعلموا يا عباد الله أن شهركم هذا شهر نصر وعز لنبي الله موسى وقومه على فرعون الطاغية المتجبر على رغم كثرة عددهم وعدتهم وخيلائهم فإن الله ينصر أولياءه الداعين إليه ولا يخذلهم ويجيب رجاءهم قال تعالى: إنا لننصر رسلنا والذين آمنوا في الحياة الدنيا ويوم يقوم الأشهاد فتفطن أيها المسلم في هذا الشهر وأنت تصلي وتصوم لله وتسارع في الخيرات صائماً مخلصاً تفطن أنك منصور وأن الله راض عنك يحفظك ويؤيدك واستشعر عندما تكون في طاعة ربك فإن الله يحبك وسيجزيك أحسن الجزاء لأن الله لا يوفق لطاعته إلا من يحب ولا يهدي إليه إلا من ينيب، فكم حرم من الخلق من حرم من نعمة الصلاة والزكاة والصيام والحج وأنت فرض الله عليك بتوفيقه فوهبك هذا الخير من العبادات التي أنت فيها وتأتي إليها مسرعاً حريصاً على مرضاة ربك فافرح بهذا الخير واحرص عليه ولا تتهاون فيه وخف عليه من الحبوط والرد والنقصان وخف من سوء الخاتمة واحرص على حسن الختام فإن الأعمال بالخواتيم، قال رسول الله : ((فوالذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها، وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها)) متفق عليه، وقال تعالى: ونضع الموازين القسط ليوم القيامه فلا تظلم نفسُ شيئاً وإن كان مثقال حبة من خردل أتينا بها وكفى بنا حاسبين نفعني الله وإياكم بهدي كتابه وإتباع سنة نبيه أقول ما تسمعون وأستغفر الله لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;الخطبة الثانية&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله على إحسانه ونشكره على جوده وامتنانه وأشهد أن لا إله إلا الله تعظيماً لشأنه وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، عباد الله إن من رحمة الله أن جعل الحساب الشرعي العربي مبنياً على الشهور الهلالية لأن لها علامة حسية يفهمها الخاص والعام وهي رؤية الهلال في المغرب بعد غروب الشمس فمتى رؤي الهلال فقد دخل الشهر المستقبل وانتهي الشهر الماضي فابتداء التوقيت اليومي من غروب الشمس لامن زوالها فأول الشهر يدخل بغروب الشمس، ولقد كان ابتداء التاريخ الإسلامي منذ عهد أمير المؤمنين عمر بن الخطاب حيث جمع الناس سنة ست عشرة أو سبع عشرة من الهجرة فاستشارهم من أين يبدأ التاريخ فقال بعضهم: يبدأ من مولد النبي وقال بعضهم: يبدأ من بعثته وقيل: يبدأ من هجرته وقيل: من وفاته، ولكنه رجح أن يبدأ من الهجرة لأن الله فرق بها بين الحق والباطل فجعلوا مبتدأ تاريخ السنين في الإسلام سنة الهجرة لأنها هي التي كان فيها قيام كيان مستقل للمسلمين وفيها تكوين أول بلد إسلامي يحكمه المسلمون، ثم شاور عمر الصحابة من أي شهر يبدأون السنة فقال بعضهم: من ربيع الأول لأنه الشهر الذي قدم فيه النبي مهاجراً إلى المدينة وقال بعضهم: من رمضان، واتفق رأي عمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم على ترجيح البداءة بالمحرم لأنه شهر حرام ويلي ذي الحجة ويلي الشهر الذي بايع فيه النبي الأنصار على الهجرة، فكان أولى الشهور بالأولوية شهر المحرم، عباد الله إن علينا أن نشكر الله على ما يسره لنا من هذا الحساب البسيط الميسر في معرفة التاريخ اليومي الذي يبدأ من الهجرة (هجرة النبي من مكة إلى المدينة) وأن علينا جميعاً فرادى وأمة مسلمة أن نكون أمة متميزة بأخلاقها ورأيها ومعاملاتها تميزاً عن سائر الأمم الكافرة غير المهتدية بهدي الإسلام الطاهر النقي لنكون أمة عدل وخير وأمة صدق مع الله في كل تصرفاتنا ليحصل لنا صلاح أحوالنا مع أنفسنا فنعيش الرضى والطمأنينة والسكينة وإنشراح الصدر وقرة العين بالإيمان الصادق ويحصل لنا صلاح أحوالنا مع الناس جميعاً، لأن من أصلح ما بينه وبين الله أصلح الله ما بينه وبين الناس، ومن توكل على الله كفاه ويحصل لنا النصر على الأعداء المقبوحين المرذولين فتعيش الأمة حياة العزة والإباء ويتحقق قول الله: كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله فإن الخيرية والرفعة والسؤدد والتوفيق من الله يحصل بالإيمان الصادق والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها، فجددوا أيها الإخوة المسلمون إيمانكم في بداية عامكم هذا وتوبوا إلى ربكم وصلوا قلوبكم فيه تفوزوا بجنته ورضوانه في الدنيا والآخرة فإن الله يحب المستجيبين لأمره وينصرهم ويرحمهم ويشرح صدورهم ويقوي قلوبهم بالتوكل عليه قال تعالى: وبشر المخبتين الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم والصابرين على ما أصابهم والمقيمي الصلاة ومما رزقناهم ينفقون .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-6168942877503640623?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/6168942877503640623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/6168942877503640623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/6168942877503640623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/11/blog-post.html' title='فضل الشهر المحرم'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-8561026930282366172</id><published>2011-10-27T22:28:00.001-07:00</published><updated>2011-11-02T23:26:02.156-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bodatahttp://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>REGISTRASI ALUMNI</title><content type='html'>Marhaban, Selamat datang di Registrasi Alumni. Suatu kebanggaan bagi STIBA atas kesediaan Alumni untuk tetap setia mengikuti perkembangan &lt;a href="http://www.stibamks.net/"&gt;STIBA&lt;/a&gt;. Kami sangat berterima kasih apabila Alumni berkenan mendaftar atau memperbaharui data pribadi yang terdapat dalam situs sederhana ini. Silahkan mendaftar dengan mengisi kolom di bawah ini dan dkirimkan sementara ke email (alumni.stiba.mks@gmail.com).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;BIODATA ALUMNI &lt;a href="http://www.stibamks.net/"&gt;STIBA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N a m a   :  ....................................................................&lt;br /&gt;Tempat/Tgl. Lahir  :  ....................................................................&lt;br /&gt;Status   :  ....................................................................&lt;br /&gt;Alamat                                :  ....................................................................&lt;br /&gt;HP/Tlp                                : ......................................................................&lt;br /&gt;Email                                 : .....................................................................&lt;br /&gt;Angkatan                           : .......................................................................&lt;br /&gt;Nama teman satu kelas dulu yang masyhur sekarang : .................................................&lt;br /&gt;Riwayat Pendidikan : ................................................................................................&lt;br /&gt;Pekerjaan/Aktiftas sekarang : ...................................................................................&lt;br /&gt;............................, .......................1432 H&lt;br /&gt;                                                2011M&lt;br /&gt;TTD Yang menulis biodata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[.................................................................]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" href="http://alumnistiba-mks.blogspot.com/p/input-biodata-alumni.html"&gt;KLIK disini.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-8561026930282366172?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/8561026930282366172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/registrasi-alumni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8561026930282366172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8561026930282366172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/registrasi-alumni.html' title='REGISTRASI ALUMNI'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5354325333223104243</id><published>2011-10-27T22:05:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T22:06:14.302-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>ما خص الله - عز وجل - أُمة محمد ( صلى الله عليه وسلم ) به عن سائر الأُمم التي قبلهم</title><content type='html'>خصائص النبي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  إن الله - عَزَّ وجَلَّ - خصَّ هذه الأمة المسلمةَ بخصائصَ عظيمةٍ وجليلةٍ عن سائرِ الأُمم، وإنَّ الله أفردَها وميزَّها عن بقيةِ الأُممِ، فالمتأمِّلُ لهذه الأمةِ, وما خَصَّها اللهُ - عَزَّ وجَلَّ - به من الخصائصِ يجد العَجَبَ العُجَابَ؛ لما حباه اللهُ لهذه الأمة عن غيرِها فكانت من أفضلِ الأُممِ، وكان رسولهُا أفضلَ الرُّسلِ, ودينُها أحسنَ الأديانِ، فهي أمةٌ مخصوصةٌ ومصطفاه، وإننا في هذا السياق سنذكر ما تيسَّر ذكرُهُ من الخصائص التي خصَّها الله - عَزَّ وجَلَّ - لهذه الأمة عن غيرِها من الأُممِ السَّابقةِ، وإليك هذه الخصائصَ:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 - اختصاصها بالخيرية:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قالَ اللهُ - عَزَّ وجَلَّ -: {كنتم خير أمةٍ أخرجت للناس} آل عمران 110.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن بَهْزِ بنِ حَكِيمٍ عن أبيه عن جَدِّه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (نُكمل يوم القيامة سبعين أمة نحن آخرها وخيرُها) رواه ابن ماجه (4288), وصححه الألباني في "صحيح سنن ابن ماجه" (2/2426/1433) رقم 4287.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 - اختصاصها بأنها لا تجُمع على ضلالة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن ابن عَبَّاسٍ - رَضيَ اللهُ عنهُ - مرفوعاً: أنَّ رسولَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (لا يجمع الله أمتي على ضلالة أبداً, ويدُ اللهِ على الجماعةِ) الحاكم في المستدرك (1/116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن ابن عمر مرفوعاً: (لا يجمعُ اللهُ هذه الأمةَ على ضلالةٍ، ويدُ اللهِ مع الجماعةِ، وعليكم بالسَّوادِ الأعظمِ, ومَنْ شَذَّ شَذَّ في النَّارِ) أخرجه الحاكم (1/115).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد ثبت عن أبي مسعود أنه قال: ( عليكم بالجماعة فإنه الله لا يجمع أمةَ مُحمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - على ضلالة) أخرجه ابن أبي عاصم في كتاب السنة (1/41 - 42) بسندٍ جيدٍ قاله الألبانيُّ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 - اختصاصها أنها أول الأمم دخولاً الجَنَّة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (أول زمرة تلج الجَنَّة صورتهم على صورة القمر ليلة البدر، لا يبصقون فيها، ولا يتمخطون، ولا يتغوطون، آنيتهم فيها الذّهب، أمشاطهم من الذهب والفضة، ومجامرهم الألوة، ورشحهم المسك، ولكل واحدٍ منهم زوجتان يُرى مخ سوقهما من وراء اللحم من الحسن، لا اختلاف بينهم ولا تباغض، قلوبهم قلب واحدٌ، يسبحون الله بكرةً وعشياً) البُخاريُّ - الفتح (6/367) رقم الحديث (3245) كتاب بدء الخلق, باب ما جاء في صفة الجَنَّة وأنها مخلوقة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (نحن الآخرون الأولون يوم القيامة، ونحن أول من يدخل الجَنَّة، بيد أنهم أوتوا الكتاب من قبلنا وأوتيناه من بعدهم، فاختلفوا فهدانا الله لما اختلفوا فيه من الحق، فهذا يومهم الذي اختلفوا فيه هدانا الله له (قال يوم الجمعة) فاليوم لنا، وغداً لليهود، وبعد غدٍ للنّصارى) صحيح مسلم (2/585 - 586) رقم (855), كتاب الجمعة, باب هداية هذه الأمة ليوم الجمعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 - اختصاصها بالوسطية والشهادة على النَّاس:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال تعالى: {وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاس} (143) سورة البقرة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي سعيدٍ - رضي الله عنه - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (يجيء نوحُ وأمته، فيقول الله - تعالى-: هل بلغت؟ فيقول: نعم، أي ربِّ!! فيقول لأمته: هل بلّغكم؟ فيقولون: لا، ما جاءنا من نبيّ!! فيقولُ لنوح: من شهد لك؟ فيقول: مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - وأمته، فنشهد أنه قد بلغ، وهو قوله - جَلَّ ذكره -: (وكذلك جعلناكم أمةً وسطاً لتكونوا شهداء على النَّاس)(143: البقرة)، البُخاريُّ – الفتح (6/427) رقم (3339) كتاب الأنبياء قول الله : (ولقد أرسلنا نوحاً...) الآية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 - اختصاصها بأنها أكثر الأمم دخولاً الجَنَّة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله بن مسعود - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: (كنا مع النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - في قبة فقال: أترضون أن تكونوا رُبع أهل الجَنَّة؟ قلنا: نعم، قال: أترضون أن تكونوا شطر أهل الجَنَّة؟ قلنا: نعم، قال: والذي نفس مُحمَّد بيده إني لأرجو  أن تكونوا شطر أهل الجَنَّة، وذلك أن الجَنَّة لا يدخُلها إلا نفسٌ مسلمة، وما أنتم في أهل الشرك إلا كالشعرة البيضاء في جلد الثور الأسود، أو كالشعرة السوداء في جلد الثور الأحمر) البُخاريّ – الفتح (11/385) رقم (6528) كتاب الرقاق باب الحشر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن سليمان بن بريدة عن أبيه عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (أهل الجَنَّة عشرون ومئة صف؛ ثمانون منها من هذه الأمة، وأربعون من سائر الأمم) رواه ابن ماجه (2/1433 - 1434) و تحفة الأحوذي (7/254 - 255) وهو صحيح لطرقه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 - اختصاصها أن مرض الطاعون شهادة لها:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة - رَضيَ اللهُ عنهُا - زوجِ النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قالت: سألتُ رسولَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - عن الطاعون، فأخبرني أنه عذابٌ يبعثه اللهُ على من يشاء، وأن الله جعله رحمة للمؤمنين، ليس من أحدٍ يقع الطاعون فيمكث في بلده صابراً محتسباً يعلم أنه لا يُصيبه إلا ما كتب اللهُ له إلا كان له مثل أجر شهيد. البُخاريُّ - الفتح (6/593) رقم (3474) كتاب الأنبياء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أنس بن مالك - رَضيَ اللهُ عنهُ - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (الطاعون شهادة لكل مسلم) البُخاريّ مع الفتح رقم (2830) كتاب الأنبياء، باب الشهادة سبع سوى القتل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: (بينما رجل يمشي بطريق وجد غصن شوكٍ على الطريق فأخَّره، فشكر الله له، فغفر له) ثم قال: (الشهداء خمسة: المطعون، والمبطون، والغريق، وصاحب الهدم، والشهيد في سبيل الله) البُخاريُّ – الفتح (652 - 653) كتاب الأذان ( 2/ 163) باب فضل التهجير إلى الظهر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 - اختصاصها بأن صفوفها كصفوف الملائكة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن حذيفة - رَضيَ اللهُ عنهُ - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (فُضِّلنا على النَّاس بثلاث: جعلت صفوفنا كصفوف الملائكة، وجعلت لنا الأرض مسجداً وتربتها طهوراً، وأعطيت آخر سورة البقرة فهن من كنز تحت العرش) صحيح مسلم (1/371) رقم (522) كتاب المساجد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 - اختصاصها بأن سبعين ألفاً منها يدخلون الجَنَّة بغير حساب:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عمران بن حصين - رَضيَ اللهُ عنه - قال: (لا رقية إلا من عين أو حُمةٍ) فذكرته لسعيد بن جبير فقال: حدثنا ابن عَبَّاسٍ قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - : (عُرضت عليّ الأمم، فجعل النَّبيّ صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ والأنبياء يمرون معهم الرهط، والنَّبيّ ليس معه أحد، حَتَّى رُفع لي سواد عظيم، قلت: ما هذا؟ أمتي هذه؟ قيل: بل هذا موسى وقومه، قيل: انظر إلى الأفق، فإذا سواد يملأ الأفق!! ثم قيل لي: انظر هاهنا وهاهنا - في آفاق السماء - فإذا سواد قد ملأ الأفق قيل: هذه أمتك، ويدخل الجَنَّة من هؤلاء سبعون ألفاً بغير حساب...) الحديث. البُخاريُّ – الفتح (10/164) رقم (5705) كتاب الطب باب من اكتوى أو كوى غيره , وفضل من لم يكتو.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن سهل بن سعد - رَضيَ اللهُ عنهُ - أن رسول الله - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (ليدخُلنَّ الجَنَّة من أمتي سبعون ألفاً، أو سبعمائة ألفٍ - لا يدري أبو حازم أيهما قال - متماسكون، آخذُ بعضهم بعضاً، لا يدخل أولهم حَتَّى يدخل آخرهم، ووجوههم على صورة القمر ليلة البدر) صحيح مسلم :(1/198 - 199) رقم (219) كتاب الأيمان, باب موالاة المؤمنين, ومقاطعة غيرهم, والبراء منهم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 - اختصاصها بأنها كالغيث لا يدري أوله خير أم آخره:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: ( مثل أمتي مثل المطر لا يُدرى أوله خير أم آخره) أخرجه التِّرمذيُّ، وقال: حسن (2869)، وقال الشيخ الألباني - في المشكاة -: صحيح لطرقه (المشكاة 6277).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 - اختصاصها بصلاة العشاء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن معاذ بن جبل - رضي الله عنه - قال: أبقينا النَّبيّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - في صلاة العَتَمَة فأخرى حَتَّى ظنَّ الظان أنه ليس بخارج والقائل منّا يقول: صلّى، فإنّا لكذلك حَتَّى خرج النَّبيُّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - ، فقالوا له كما قالوا، فقال: (أَعتِموا بهذه الصلاة، فإنكم قد فُضِّلتُم بها على سائر الأمم، ولم تُصلِّها أمةٌ قبلكم) صححه الشيخ الألباني في "صحيح أبي داود" (1/85) رقم (421).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 - اختصاصها بأن الله جعل لها الأرض مسجداً وطهوراً:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد الله - رَضيَ اللهُ عنهما - قال: (أُعطيتُ خمساً لم يُعطهن أحدٌ قبلي: نُصرتُ بالرعب مسيرة شهر، وجُعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً، فأيما رجلٍ من أمتي أدركته الصلاة فليصلِّ..) الحديث, البُخاريُّ - الفتح (11/519) رقم (335) كتاب التيمم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي رواية أخرى عن ابن عمر - رضي الله عنهما -: أن رسول الله - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - عام غزوة تبوك قام يصلي، فاجتمع وراءه رجال من أصحابه يحرسونه، حَتَّى إذا صلى انصرف إليهم فقال لهم: (لقد أعطيت خمساً ما أعْطيهنّ أحد قبلي - وذكر منها -: وجعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً...) الحديث. مسند أحمد مع شرح أحمد شاكر (12/25 - 26) رقم (7068) وقال: إسناده صحيح.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 - اختصاصها أن الله جعل لها التيمم عند عدم الماء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خصَّ اللهِ - عَزَّ وجَلَّ - هذه الأمة بهذا الأمر، وإنْ دل فإنما يدل على تفضيل الله لهذه الأمة على من سبقها؛ لأنه لم يُشرع في حقهم التيمم، وهذا يدل على سعة رحمة الله بهذه الأمة، وأنه ما شرع لهم إلا الخير والبركة واليُسر، ولم يشدد عليهم كما شدد على بني إسرائيل وغيرهم من الأمم السابقة المتمردة كما قال - سبحانه -: {يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} الآية. راجع القول الأحمد في خصائص أمة مُحمَّد.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي ذر - رَضيَ اللهُ عنهُ - مرفوعاً فيه ذكر طهور المسلم: (إن الصَّعيد الطيب وضوء المسلم، وإن لم يجد الماء عشر سنين، فإذا وجد الماء فليَمسَّه بشرته فإن ذلك خير) رواه أبو داود رقم (332)، وقال حسن صحيح كتاب الطهارة، وقال الشيخ الألباني في صحيح أبي دواود (صحيح) والله أعلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 - اختصاصُها بأنها تأتي يوم القيامة وهُمْ غرٌّ من السجود مُحجَّلُون من الوضوء:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (ترد عليّ أمتي الحوض، وأنا أذود النَّاس عنه كما يذود الرّجل إبل الرّجل عن إبله) قالوا: يا نبي الله! أتعرفنا؟ قال: ( نعم، لكم سيما ليست لأحدٍ غيركم، تردون عليّ غرّاً محجَّلين من آثار الوضوء...) الحديث. صحيح مسلم (1/217) رقم (247) كتاب الطهارة باب استحباب إطالة الغرة والتحجيل في الوضوء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكذلك حديث: (ما من أحدٍ مِنْ أُمَّتي إلا وأنا أعرفه يومَ القيامة)، قالوا: كيف تعرفهم يا رسول الله في كثرة الخلائق؟ قال: (أرأيت لو دخلت صبرة فيها خيل دُهم بُهم، وفيها فرس أغر مجمل، أما كنت تعرفه منها؟ قال: بلى، قال: فإن أمتي يومئذٍ غر من السجود مُحجَّلُون من الوضوء) أخرجه أحمد بسند صحيح, والتِّرمذيُّ, وهو مخرَّجٌ في "السلسلة الصحيحة", وراجع: "صفة صلاة النَّبيِّ" للألباني ص149.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 - اختصاصها بأنَّ عيسى - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - يُصلِّي وراء ولي من هذه الأمة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد الله - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: سمعتُ رسولَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - يقولُ: (لا تزال طائفةٌ من أمتي يقاتلون على الحق ظاهرين إلى يوم القيامة، قال فينزل عيسى ابن مريم - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - فيقول أميرهم: تعال صَلِّ لنا!! فيقولُ: لا إن بعضكم على بعضٍ أمراءٌ تكرمة الله هذه الأمة) صحيح مسلم ( 3/ 1524) رقم  1037 كتاب الإمارة باب قوله - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّم - لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 - اختصاصها بيوم الجمعة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن حذيفة - رضي الله عنه - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (أضل الله عن الجمعة من كان قبلنا، فكان لليهود يوم السبت، وكان للنصارى يوم الأحد، فجاء الله بنا فهدانا الله ليوم الجمعة، فجعل الجمعة والسبت والأحد، وكذلك هم تبعٌ لنا يوم القيامة، ونحن الآخرون من أهل الدُّنيا والأولون يوم القيامة، المقضيُّ لهم قبل الخلائق) راجع : كتاب"صحيح الترغيب والترهيب" (ص701) للشيخ الألباني.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - أنه سمَع رسولَ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - يقول: (نحن الآخرون السابقون يوم القيامة، بيد أنهم أوتوا الكتاب من قبلنا، ثمَّ هذا يومهم الذي فرض عليهم فاختلفوا فيه فهدانا الله، فالنَّاس لنا فيه تبعُ: اليهود غداً، والنصارى بعدَ غدٍ) البُخاريُّ - الفتح (2/412) رقم (876) كتاب الجمعة باب فرض الجمعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 - اختصاصها بأن الله أحلَّ لها الغنائم:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: ( أُعطيت خمساً لم يُعطهن أحد من الأنبياء: نصرت بالرعب مسيرة شهر، وجعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً، فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصلِّ، وأحلت لي الغنائم ولم تحلّ لأحد قبلي، وأُعطيت الشفاعة، وكان النَّبيّ يبُعث إلى قومه خاصَّة وبُعثت إلى النَّاس عامة) البُخاريُّ - الفتح (1/519), رقم الحديث 335 كتاب التيمم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قال النَّبيُّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (غزا نبيٌّ من الأنبياء فقال لقومه: لا يتبعني رجل ملك بضع امرأةً وهو يريد أن يبني بها ولمّا يبنِ بها، ولا أحد بنى بيوتاً ولم يرفع سقوفها، ولا آخر اشترى غنماً أو خلفات وهو ينتظر ولدها، فغزا فدنا من القرية صلاة العصر أو قريباً من ذلك فقال للشمس: إنَّك مأمورة وأنا مأمور، اللهم احبسها علينا، فحُبست حَتَّى فتح الله عليهم، فجمع الغنائم، فجاءت يعني النار لتأكلها فلم تطعمها، فقال: إن فيكم غلولاً فليبايعني من كل قبيلة رجل، فلزقت يد رجل بيده، فقال: فيكم الغلول، فجاءُوا برأس بقرة من الذهب فوضعها، فجاءت النار فأكلتها، ثم أحل الله لنا الغنائم، رأى ضعفنا وعجزنا فأحلَّها لنا) البُخاريُّ - الفتح (6/254) رقم (3124) كتاب الخمس, باب قول النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: أحلت لكم الغنائم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 - اختصاصها بأن الله أحلَّ لها بعضَ الأطعمة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فعن ابن عمر - رَضيَ اللهُ عنهما - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (أُحلت لنا ميتتان ودمان: فأما الميتتان فالحوت والجراد، وأما الدمان فالكبد والطحال) رواه أحمدُ (2/92) وابن ماجه (3314) وأورده الألباني في السلسلة الصحيحة رقم (1118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 - اختصاصها بأن قُبض رسولها - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قبلها:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي موسى - رضي الله عنه - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (إن الله - عَزَّ وجَلَّ - إذا أراد رحمة أمةٍ من عباده قبض نبيها قبلها، فجعله لها فرطاً (أي المتقدم إلى الماء ليهيء السقى)، وسلفاً بين يديها، وإذا أراد هلكة أمةٍ عذَّبها ونبيها حيّ، فأهلكها وهو ينظرْ، فأقرَّ عينهُ بهلكتها حين كذبوه وعصوا أمره) صحيح مسلم رقم (2288) (4/1792) كتاب الفضائل باب إذا أراد الله رحمة أمة قبض نبيها قبلها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  وهذا من خصائص أمة مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -، فإنه ما من نبي من الأنبياء إلا رأى عذاب قومه بعينه، أو حصل لهم عذاب وهو حي بين ظهرانيهم ابتداء من نوح - عليه السلام - وقد دعا على قومه، فاستجاب الله له فأهلكهم جميعاً حَتَّى ابنه، وكذلك قوم لوط حَتَّى امرأته كانت من الغابرين، وقوم شعيب أخذتهم الرجفة، وقد ثبت في الأحاديث الصحيحة عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - أن كل نبي تعجل دعوته على قومه في الدُّنيا إلا النَّبيّ مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قد خبأ دعوته لأمته إلى يوم القيامة، وغيرها من الأحاديث التي تدل على هذه الخصيصة من خصائص أمة مُحمَّد. أ.هـ. نقلاً من "القول الأحمد في خصائص أمة مُحمَّد" بتصرف (85 - 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 - اختصاصها بكثرة أنواع الشهادة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  امتن الله على هذه الأمة بأن جعل أنواع الشهداء فيها كثير بعد أن كان الشهيد في الأمم السابقة هو الذي استشهد في المعركة فقط، ويدل على ذلك ما رواه مسلم عن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنه - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (ما تعدون الشهيد فيكم؟) قالوا: يا رسول الله! من قتل في سبيل الله فهو شهيد!! قال: (إنَّ شهداء أمتي إذاً لقليل)!! قالوا: فمن هم يا رسول الله؟! قال: (من قُتل في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في سبيل الله فهو شهيد، ومن مات في الطاعون فهو شهيد، ومن مات في البطن فهو شهيد، وفي لفظ (والغريق شهيد) صحيح مسلم (3/1521) رقم (1915) كتاب الإمارة باب بيان الشهداء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي هذا الحديث قرينه تدل على أن الأمم السابقة لم يعطهم الله - جل وعلا - أنواع الشهادة التي مرت خلا القتل في سبيل الله، والقرينة هي كلمة (أمتي) فهي مشعرة باختصاص هذه الأمة بهذه الأنواع من الشهادات. القول الأحمد ص95.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 - اختصاصها بأنها أمة أقل عملاً وأكثر أجراً:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عمر - رَضيَ اللهُ عنهُما - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (مثلكم ومثلُ أهل الكتابين كمثل رجل استأجر أُجراءَ فقال: مَن يعمل لي من غدوة إلى نصف النَّهار على قيراطٍ؟ فعملت اليهود، ثم قال: من يعمل لي من نصف النّهار إلى صلاة العصر على قيراطٍ؟ فعملت النصارى، ثم قال من يعمل لي من العصر إلى أن تغيب الشمسُ على قيراطين؟ فأنتم هم، فغضبت اليهود والنصارى فقالوا: ما لنا أكثر عملاً وأقل عطاءً؟ قال: هل نقصتكم من حقكم؟ قالوا: لا، قال: فذلك فضلى أوتيه من أشاء) البُخاريُّ – الفتح ( 4/ 521)  (2268) كتاب الإجارة باب الإجارة إلى نصف النهار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن ذلك حديث البراء - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: ( أتى النَّبيُّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - رجلٌ مقنَّع بالحديد فقال: يا رسول الله أقاتل أو أسلم؟ قال: أسلم، ثم قاتل!! فأسلم ثمّ قاتل فقُتل، فقالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: عمل قليلاً وأجر كثيراً) البُخاريُّ مع الفتح رقم (2808) كتاب الجهاد والسير ( 6/ 30 ) باب عمل صالح قبل القتال.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 - اختصاصها بأنهم شهداء الله في الأرض:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  وهذه خاصية عظيمة انفردت بها أمة مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - من دون الأمم بفضل ربها - سبحانه وتعالى -. القول الأحمد (ص127).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ويوضح هذه الخاصية حديث عبد العزيز بن صهيب قال: سمعتُ أنس بن مالك - رَضيَ اللهُ عنهُ - يقول: (مرُّوا بجنازة فأثنوا عليها خيراً فقال النَّبيُّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: وجبتْ!!، ثم مرُّوا بجنازة فأثنوا عليها شراً فقال: وجبتْ!! فقال عمر بن الخطاب - رَضيَ اللهُ عنه -: ما وجبت؟، قال: هذا أثنيتم عليه خيراً فوجبتْ له الجَنَّة، وهذا أثنيتم عليه شراً فوجبت له النار، أنتم شهداء الله في الأرض) البُخاريُّ - الفتح (1367)، كتاب الجنائز  ( 3 : 270 ) باب ثناء النَّاس على الميت.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 - اختصاصها بالعذر بالإكراه:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  العذر بالإكراه من خصائص أمة مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -، فقد وضع الله - سبحانه وتعالى - عن هذه الأمة ما أُكرهت وأُجبرت على فعله، وأسقط عنها - جلَّ وعلا - الإثمَ والحرج بذلك، فلم يؤاخذها على الفعل. القول الأحمد (ص133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  يشهد لهذا حديث ابن عَبَّاسٍ - رَضيَ اللهُ عنهُما - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان، وما استكرهوا عليه) صحيح ابن ماجه رقم (2045) (1/348) وقال الألباني: صحيح.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أبي هُرَيْرة - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (إنَّ الله تجاوز لأمتي عمّا توسوس به صدورُها ما لم تعمل به، أو تتكلم به، وما استُكرهوا عليه) صحيح ابن ماجه رقم (2044) المصدر السابق.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 - اختصاصها بأنها أول الأمم إجازة على الصراط:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  وقد أكرم الله هذه الأمة بأن تمر على الصراط قبل الأمم جميعاً، وفي الحديث الطويل عن أبي هُرَيْرة - رضي الله عنه -: (... ويضرب الصراط بين ظهري جهنم فأكون أنا وأمتي أوّل من يجيز، ولا يتكلم يومئذٍ إلا الرسل... الحديث) صحيح مسلم رقم (182) (1/163 - 164) كتاب الإيمان.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 - اختصاصها بأنها أول من تحاسب:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ومما خصَّ اللهُ - سبحانه وتعالى - أُمَّةَ مُحمَّد - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - وفضَّلها به على غيرِها من الأُممِ أنَّ الله - جَلَّ وعَلا - جعلها أول مَن يُحاسبُها ويُقدِّمها على غيرِها على الرغمِ مِن أنها آخرُ الأُممِ التي أخرجَها اللهُ للنَّاسِ. القول الأحمد ص185.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويدلُّ على ذلكَ حديثُ ابنِ عَبَّاسٍ - رَضيَ اللهُ عنهُما - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (نحن آخرُ الأمم، وأول مَن يُحاسب، يُقال: أين الأمة الأميةُ ونبيها؟ فنحن الآخرون الأولون) صحيح ابن ماجه للألباني رقم (4290) وقال: صحيح، وانظر:" السلسلة الصحيحة" (2374).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 - اختصاصها بأن الكافر فداء للمسلم يوم القيامة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ومما أكرم اللهُ - جَلَّ وعَلَا - به هذه الأمةَ وخصَّها يومَ القيامةَ أنْ جعلَ كلَّ كافرٍ فداءً لكلِّ مُسلمٍ من النَّارِ. القول الأحمد (209).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فعن أنسِ بن مالكٍ - رضي الله عنه - قالَ: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (إنَّ هذه الأمة مرحومةٌ، عذابها بأيديها، فإذا كان يوم القيامةِ دُفِعَ إلى كلِّ رجلٍ من المسلمين رجلٌ من المشركين فيُقالُ: هذا فِداؤك من النَّارِ) صحيح ابن ماجه رقم (4292) وقال الألباني :صحيح. انظر السلسلة الصحيحة رقم (959 و 1381).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 - اختصاصها بالسلام والتأمين:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ومن خصائص هذه الأمة أنْ خصّها اللهُ - جَلَّ وعَلَا - بخصيصتين: السلام, والتأمين؛ من دون الأمم. القول الأحمد (ص35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فعن عائشة - رَضيَ اللهُ عنهُا - عن النَّبيِّ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ - قال: (ما حسدتكم اليهودُ على شيءٍ ما حسدتكم على السَّلامِ والتأمين) صحيح ابن ماجه رقم (856)، والسلسلة الصحيحة رقم (691).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 - اختصاصها بأنها أمةٌ محفوظةٌ من الهلاكِ والاستئصالِ:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فعن ثوبان - رَضيَ اللهُ عنهُ - قال: قالَ رسولُ اللهِ - صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ -: (إنَّ الله زَوَى لي الأرضَ فرأيتُ مشارقها ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكُها ما زُوي لي منها، وأُعطيت الكنزين الأحمر والأبيض, وإني سألت ربي لأمتي أن لا يُهلكها بسنةٍ عامةٍ، وأن لا يُسلِّط عليهم عدواً من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإنَّ ربي قال: يا مُحمَّدُ إني إذا قضيتُ قضاءً فإنَّهُ لا يُردُّ، وإني أعطيتُك لأمتك أنْ لا أهلكهم بسنةٍ عامةٍ, وأنْ لا أسلطَ عليهم عدواً مِن سوى أنفسِهم يستبيحُ بيضتَهم ولو اجتمعَ عليهم مَن بأقطارِها حَتَّى يكونَ بعضُهم يُهلك بعضاً، ويسبي بعضُهم بعضاً) رواه مسلم رقم (2889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والحمدُ للهِ ربِّ العالمينَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5354325333223104243?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5354325333223104243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5354325333223104243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5354325333223104243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_27.html' title='ما خص الله - عز وجل - أُمة محمد ( صلى الله عليه وسلم ) به عن سائر الأُمم التي قبلهم'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-6911862044828855768</id><published>2011-10-15T20:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T20:04:43.407-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>الأيام العشر من ذي الحجة</title><content type='html'>ملخص الخطبة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- الله يصطفى ما يشاء ويختار من خلقه. 2- بركة الطاعة وفوائدها. 3- فضائل عشر ذي الحجة. 4- فضل يوم عرفة. 5- فضل يوم النحر. 6- أعمال يندب لها في عشر ذي الحجة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الخطبة الأولى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فيا أيها المسلمون، اتقوا الله الذي يخلق ما يشاء ويختار، خلق السماوات واختار منها السابعة، وخلق الجنات واختار منها الفردوس، وخلق الملائكة واختار منهم جبريل وميكائيل وإسرافيل، وخلق البشر واختار منهم المؤمنين، واختار من المؤمنين الأنبياء، واختار من الأنبياء الرسل، واختار من الرسل أولي العزم، واختار من أولي العزم الخليلين، واختار من الخليلين محمدا صلى الله عليه وسلم وعليهم أجمعين، وخلق الأرض واختار منها مكة، وخلق الأيام واختار من أشهرها شهر رمضان، ومن أيامها يوم الجمعة، ومن لياليها ليلة القدر، ومن ساعاتها ساعة الجمعة، ومن عشرها عشر ذي الحجة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والمسلم يعيش مباركاً في العمل وفي الزمن، وأعظم البركة في العمل الطاعةُ؛ إذ هي بركة على أهلها كما يقول تعالى: مَن جَاء بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا [الأنعام:160]، وكما يقول صلى الله عليه وسلم: ((إن الله كتب الحسنات والسيئات، ثم بين ذلك، فمن همَّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة، ومن همَّ بحسنة فعملها كتبها الله عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، ومن همَّ بسيئة فلم يعلمها كتبها الله عنده حسنة كاملة، ومن همَّ بسيئة فعملها كتبها الله سيئة واحدة، ولا يهلك على الله إلا هالك)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا يدل على أن الطاعة بركة في القول؛ إذ الكلمة الواحدة من الطاعة بعشر حسنات يكتب الله بها رضوانه، فيحفظ بها عبده حتى يُدخله الجنة، ويرضى عليه في الجنة فلا يسخط عليه أبداً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة بركة في العمل؛ إذ الصلاة بعشر صلوات كما في الحديث القدسي: ((أمضيت فريضتي وخففت عن عبادي)) فهي خمس في الفعل وخمسون في الأجر والثواب. وصوم رمضان بعشرة أشهر كما في الحديث: ((رمضان بعشرة أشهر، وست شوال بشهرين))، ((والصدقة بسبعمائة ضعف))، ((والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة طهرة من الذنوب، فالصلاة طهرة من الذنوب كما في الحديث: ((مثل الصلوات الخمس كمثل نهر غمر على باب أحدكم يغتسل منه خمس مرات في اليوم والليلة، هل يبقى عليه من الدرن شيء؟!)). والصوم طهرة من الآثام كما في الحديث: ((جاءني جبريل فقال: من أدرك رمضان فلم يغفر له أبعده الله، قل: آمين، فقلت: آمين))، ومن صامه وقامه وقام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه. و((الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار)). و((من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة بركة في التعامل؛ إذ بالتعامل الحسن يدرك الإنسان درجة الصائم القائم، ويجاور الرسول صلى الله عليه وسلم، ويحظى ببيت في أعلى الجنة، ويدخل الجنة، ويكمل إيمانه، ويثقل ميزانه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأعظم الزمن بركة، عشر ذي الحجة؛ إذ لها مكانة عظيمة عند الله تعالى، تدل على محبته لها وتعظيمه لها، فهي عشر مباركات كثيرة الحسنات، قليلة السيئات، عالية الدرجات، متنوعة الطاعات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمن فضائلها: أن الله تعالى أقسم بها فقال: وَلَيالٍ عَشْرٍ [الفجر:2]، ولا يقسم تعالى إلا بعظيم، ومما يدل على ذلك أن الله لا يقسم إلا بأعظم المخلوقات، كالسماوات والأرض والشمس والقمر والنجوم والرياح، ولا يقسم إلا بأعظم الأزمان، كالفجر والعصر والضحى والليل والنهار والعشر، ولا يقسم إلا بأعظم الأمكنة، كالقسم بمكة، وله أن يقسم من خلقه بما يشاء، ولا يجوز لخلقه أن يقسموا إلا به، فالقسم بها يدل على عظمتها ورفعة مكانتها وتعظيم الله لها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن الله تعالى قرنها بأفضل الأوقات، والقرين بالمقارن يقتدي، فقد قرنها بالفجر وبالشفع والوتر وبالليل. أما اقترانها بالفجر فلأنه الذي بحلوله تعود الحياة إلى الأبدان بعد الموت، وتعود الأنوار بعد الظلمة، والحركة بعد السكون، والقوة بعد الضعف، وتجتمع فيه الملائكة، وهو أقرب الأوقات إلى النزول الإلهي في الثلث الأخير من الليل، وبه يُعرف أهل الإيمان من أهل النفاق. وقرنها بالشفع والوتر لأنهما العددان المكوِّنان للمخلوقات، فما من مخلوق إلا وهو شفع أو وتر، وحتى العشر فيها شفع وهو النحر، وفيها وتر وهو عرفة. وقرنها بالليل لفضله، فقد قُدم على النهار، وذكر في القرآن أكثر من النهار، إذ ذكر اثنتين وسبعين مرة، والنهار سبعا وخمسين مرة، وهو أفضل وقت لنفل الصلاة، وهو أقرب إلى الإخلاص لأنه زمن خلوة وانفراد، وهو أقرب إلى مراقبة الرب تعالى إذ لا يراه ولا يسمعه ولا يعلم بحاله إلا الله، وهو أقرب إلى إجابة الدعاء وإلى إعطاء السؤال ومغفرة الذنوب إذ يقول الرب في آخره: ((هل من داعٍ فأجيبه، وهل من سائل فأعطيه، وهل من مستغفر فأغفر له))، مُيِّز به أهل الجنة في قوله تعالى: كَانُواْ قَلِيلاً مّن ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ [الذاريات:17]، وفي قوله: تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ [السجدة:16]، وميِّز به عباد الرحمن في قوله: وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَىٰ ٱلأرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الجَـٰهِلُونَ قَالُواْ سَلاَماً وَالَّذِينَ يِبِيتُونَ لِرَبّهِمْ سُجَّداً وَقِيَـٰماً [الفرقان:63، 64]، قال بعض السلف: "لولا الليل ما أحببت العيش أبدا"، وقال آخر: "لم يبق من لـذة الـدنيا إلا قيام اللـيل وصلاة الجماعة وصحبة الصالحين".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن الله تعالى أكمل فيها الدين؛ إذ تجتمع فيها العبادات كلها، وبكمال الدين يكمل أهله، ويكمل عمله، ويكمل أجره، ويعيشون الحياة الكاملة التي يجدون فيها الوقاية من السيئات، والتلذذ بالطاعات، ومحبة المخلوقات، وبكمال الدين تنتصر السنة، وتنهزم البدعة، ويقوى الإيمان، ويموت النفاق، وبكمال الدين ينتصر الإنسان على نفسه الأمارة بالسوء لتكون نفساً مطمئنة تعبد الله كما أراد، وتقتدي بالأنبياء، وتصاحب الصالحين، وتتخلق بالأخلاق الحسنة، وبكمال الدين ينتصر الإنسان على شيطانه الذي شط ومال به عن الصراط المستقيم، وينتصر على الهوى والشهوات. وقد كمل الدين حتى تركنا الرسول صلى الله عليه وسلم على المحجة البيضاء، ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها إلا هالك شقي. وقد حسدنا اليهود على هذا الكمال، قال حبر من أحبار اليهود لعمر رضي الله عنه: آية في كتابكم، لو نزلت علينا معشر اليهود اتخذنا ذلك اليوم الذي نزلت فيه عيداً ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلأسْلاَمَ دِيناً [المائدة:3]، قال عمر: (إني أعلم متى نزلت، وأين نزلت. نزلت يوم عرفة في يوم جمعة).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكمال الدين يدل على كمال الأمة وخيريتها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن الله أتم فيها النعمة؛ إذ تنعم الأرواح بشتى أنواع الطاعات القولية والفعلية والتعاملية، ومن تمام النعمة أن الله فتح قلوب العباد للإسلام، فدخل الناس في دين الله أفواجاً، إذ كان عددهم عند تمام النعمة أكثر من مائة ألف. ومن تمام النعمة أن الله أظهر الإسلام على جميع الأديان؛ إذ كان في الجزيرة أديان متنوعة منها: اليهودية، والنصرانية، والمجوسية، والوثنية، والنفاق، فأبيدت بالإسلام، وظهر عليها الإسلام، قال تعالى: هُوَ ٱلَّذِى أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى ٱلدّينِ كُلّهِ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيداً [الفتح:28]، ومن تمام النعمة منع الكفار من دخول الحرم واختصاص المسلمين بذلك، فتوحدت صفوف المسلمين حتى أصبحوا كالجسد الواحد، ووحدوا معبودهم، وتوحد دينهم، وتوحدت كلمتهم، وتوحد طريقهم، ويا لها من نعمة عظيمة أن ترى أهل الإيمان ظاهرين وأهل الكفر مهزومين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن العبادات تجتمع فيها ولا تجتمع في غيرها، فهي أيام الكمال، ففيها الصلوات كما في غيرها، وفيها الصدقة لمن حال عليه الحول فيها، وفيها الصوم لمن أراد التطوع، أو لم يجد الهدي، وفيها الحج إلى البيت الحرام ولا يكون في غيرها، وفيها الذكر والتلبية والدعاء الذي تدل على التوحيد، واجتماع العبادات فيها شرف لها لا يضاهيها فيه غيرها ولا يساويها سواها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أنها أفضل أيام الدنيا على الإطلاق، دقائقها وساعاتها وأيامها وأسبوعها، فهي أحب الأيام إلى الله تعالى، والعمل الصالح فيها أحب إلى الله تعالى، فهي موسم للربح، وهي طريق للنجاة، وهي ميدان السبق إلى الخيرات، لقوله صلى الله عليه وسلم: ((ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله تعالى من هذه الأيام)) يعني أيام العشر، قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ((ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء))، وهذا يدل على أن العمل في أيام العشر أفضل من الجهاد بالنفس، وأفضل من الجهاد بالمال، وأفضل من الجهاد بهما والعودة بهما أو بأحدهما، لأنه لا يفضل العمل فيها إلا من خرج بنفسه وماله ولم يرجع لا بالنفس ولا بالمال، وقد روي عن أنس بن مالك أنه قال: (كان يقال في أيام العشر: بكل يوم ألف يوم، ويوم عرفة بعشرة آلاف يوم)، يعني في الفضل، وروي عن الأوزاعي قال: بلغني أن العمل في يوم من أيام العشر كقدر غزوة في سبيل الله، يصام نهارها ويحرس ليلها، إلا أن يختص امرؤ بالشهادة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن فيها يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة، وهو يوم معروف بالفضل وكثرة الأجر وغفران الذنب، فهو يوم مجيد، يعرف أهله بالتوحيد، إذ يقولون: لا إله إلا الله، وقد قال صلى الله عليه وسلم: ((وخير ما قلت أنا والنبيون قبلي: لا إله إلا الله))، ويعرف الإنسان ضعف نفسه إذ يكثر من الدعاء ويلح على الله في الدعاء، وفي الحديث: ((خير الدعاء دعاء يوم عرفة))، ويعرف إخوانه المسلمين الذين اجتمعوا من كل مكان في صعيد واحد، ويعرف عدوه الذي ما رئي أصغر ولا أحقر منه في مثل يوم عرفة، ويعرف كثرة مغفرة الله في هذا اليوم لكثرة أسباب المغفرة من توحيد الله ودعائه وحفظ جوارحه وصيامه لغير الحاج، وهو يوم الحج الأعظم، قال صلى الله عليه وسلم: ((الحج عرفة))، وصومه تطوعاً يكفر ذنوب سنتين: سنة ماضية وسنة مقبلة، وما علمت هذا الفضل لغيره فكأنه حفظ للماضي والمستقبل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها: أن فيها يوم النحر، وهو اليوم العاشر من ذي الحجة، وهو أفضل الأيام كما في الحديث: ((أفضل الأيام يوم النحر))، وفيه معظم أعمال النسك من رمي الجمرة وحلق الرأس وذبح الهدي والطواف والسعي وصلاة العيد وذبح الأضحية واجتماع المسلمين في صلاة العيد وتهنئة بعضهم بعضاً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفضائل العشر كثيرة لا ينبغي للمسلم أن يضيِّعها، بل ينبغي أن يغتنمها، وأن يسابق إلى الخيرات فيها، وأن يشغلها بالعمل الصالح.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الأعمال المشروعة فيها: الذكر، يقول تعالى: لّيَشْهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُواْ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِى أَيَّامٍ مَّعْلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مّن بَهِيمَةِ ٱلاْنْعَامِ [الحج:28]، وروى الإمام أحمد عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد))، قال الشيخ أحمد شاكر (7/224): "وإسناده صحيح"، وكان أبو هريرة وابن عمر ـ وهما أكثر الصحابة رواية للحديث وأكثر اتباعاً للسنة ـ إذا دخلت عشر ذي الحجة يخرجان إلى السوق يكبران كل على حدته، فإذا سمعهم الناس تذكروا التكبير فكبروا كل واحد على حدته، وهذا التكبير المطلق، ويُكثر مع التكبير من التسبيح والتهليل والتحميد والذكر، ويكثر من قراءة القرآن فإنه أفضل الذكر، وفيه الهدى والرحمة والبركة والعظمة والتأثير والشفاء، وليعلم المسلم بأن الذكر هو أحب الكلام إلى الله تعالى، وهو سبب النجاة في الدنيا والآخرة، وهو سبب الفلاح، وحفظ لصاحبه من الكفر ومن الشيطان ومن النار، به يذكر العبد عند الله، ويصلي الله وملائكته على الذاكر، وهو أقوى سلاح، وهو خير الأعمال وأزكاها وأرفعها في الدرجات، وخير من النفقة، به يضاعف الله الأجر، ويغفر الوزر، ويثقل الميزان، ومجالسه هي مجالس الملائكة ومجالس الرسل ومجالس المغفرة والجنة والإيمان والسعادة والرحمة والسكينة، وفضائله كثيرة، قرنه الله بالصلاة فقال: فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ [النساء:103]، وقرنه بالجمعة فقال: فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلأَرْضِ وَٱبْتَغُواْ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ [الجمعة:10]، وقرنه بالصوم فقال: وَلِتُكْمِلُواْ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ [البقرة:185]، وقرنه بالحج فقال: فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَـٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءابَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا [البقرة:200]، وقرنه بالجهاد فقال: يَـٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءامَنُواْ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَٱثْبُتُواْ وَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ [الأنفال:45]، ولا يتقيد بزمن ولا حال، أمر الله بـه على جميع الأحوال فقال: فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَـٰماً وَقُعُوداً وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ [النساء:103].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويكثر من نوافل الصلوات بعد الفرائض، كالرواتب التي قبل الفرائض وبعدها، وهي اثنتا عشرة ركعة، أربع قبل الظهر، وركعتان بعدها، وركعتان بعد المغرب، وركعتان بعد العشاء، وركعتان قبل الفجر. ويواظب على النوافل المقيدة، مثل أربع قبل الظهر، وأربع بعدها، وأربع قبل العصر، وركعتان قبل المغرب، وصلاة الليل، وهي إحدى عشرة ركعة كما في السنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكان يواظب عليها ويقضيها وقت الضحى لو نام عنها، وصلاة الضحى ركعتان أو أكثر، فالمحافظة على النوافل سبب من أسباب محبة الله، ومن نال محبة الله حفظه وأجاب دعاءه، وأعاذه ورفع مقامه، لأنها تكمل النقص وتجبر الكسر وتسد الخلل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويكثر من الصدقة في العشر، إذ الصدقة فيها أفضل من الصدقة في رمضان، وما أكثر حاجات الناس في العشر من النفقة والاستعداد للحج وللعيد وطلب الأضحية ونحوها، وبالصدقة ينال الإنسان البر ويضاعف له الأجر ويظله الله في ظله يوم القيامة، ويفتح بها أبواب الخير ويغلق بها أبواب الشر، ويفتح فيها باب من أبواب الجنة، ويحبه الله ويحبه الخلق، ويكون بها رحيماً رفيقاً، ويزكي ماله ونفسه، ويغفر ذنبـه، ويتحرر من عبـودية الـدرهم والديـنار، ويحفـظه الله في نـفسـه ومـاله وولده ودنياه وآخرته.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويكثر من الصيام في أيام العشر، ولو صام التسعة الأيام لكان ذلك مشروعاً، لأن الصيام من العمل الصالح، ولأنه ثبت في الحديث أنه كان يصوم يوم عاشوراء، وتسع ذي الحجة، وثلاثة أيام من الشهر، وما ورد عن عائشة أنه ما صام العشر فالمراد إخبار عائشة عن حاله عندها، وهو عندها ليلة من تسع، ولربما ترك الشيء خشية أن يُفرض على أمته، ولربما تركه لعذر من مرض أو سفر أو جهاد أو نحوه، وإذا تعارض حديثان أحدهما مُثبت والآخر نافي فإننا نقدم المثبت على النافي، لأن عنده زيادة علم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وينبغي للمسلم أن يسابق في هذه العشر بكل عمل صالح، ويكثر من الدعاء والاستغفار، ويتقرب إلى الله بكل قربة، وينبغي للمسلم إذا دخلت عليه العشر وهو يريد أن يضحي فلا يأخذ من شعره ولا بشرته شيئاً، وأما من يُضحَّى عنه فلو أمسك لكان حسناً باعتباره يضحي في الأصل بأضحية وليّه، وإن لم يمسك فلا حرج عليه.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-6911862044828855768?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/6911862044828855768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_5636.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/6911862044828855768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/6911862044828855768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_5636.html' title='الأيام العشر من ذي الحجة'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5924076350858788600</id><published>2011-10-15T19:38:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T19:40:48.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>فضل عشر ذي الحجة</title><content type='html'>ملخص الخطبة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- الله يخلق ما يشاء ويختار. 2- بركة الطاعة. 3- الزمن المبارك. 4- فضائل عشر ذي الحجة. 5- ما يشرع من الأعمال في هذه العشر.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الخطبة الأولى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما بعد: فيا أيها المسلمون، اتقوا الله الذي يخلق ما يشاء ويختار، خلق السماوات واختار منها السابعة، وخلق الجنات واختار منها الفردوس، وخلق الملائكة واختار منهم جبريل وميكائيل وإسرافيل، وخلق البشر واختار منهم المؤمنين، واختار من المؤمنين الأنبياء، واختار من الأنبياء الرسل، واختار من الرسل أولي العزم، واختار من أولي العزم الخليلين، واختار من الخليلين محمدا صلى الله وسلم عليه وعليهم أجمعين، وخلق الأرض واختار منها مكة، وخلق الأيام واختار من أشهرها شهر رمضان، ومن أيامها يوم الجمعة، ومن لياليها ليلة القدر، ومن ساعاتها ساعة الجمعة، ومن عشرها عشر ذي الحجة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والمسلم يعيش مباركًا في العمل وفي الزمن، وأعظم البركة في العمل الطاعةُ؛ إذ هي بركة على أهلها كما يقول تعالى: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا [الأنعام:160]، وكما يقول : ((إن الله كتب الحسنات والسيئات، ثم بين ذلك، فمن همَّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة، ومن همَّ بحسنة فعملها كتبها الله عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، ومن همَّ بسيئة فلم يعلمها كتبها الله عنده حسنة كاملة، ومن همَّ بسيئة فعملها كتبها الله سيئة واحدة، ولا يهلك على الله إلا هالك)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا يدل على أن الطاعة بركة في القول؛ إذ الكلمة الواحدة من الطاعة بعشر حسنات يكتب الله بها رضوانه، فيحفظ بها عبده حتى يُدخله الجنة، ويرضى عليه في الجنة فلا يسخط عليه أبدًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة بركة في العمل؛ إذ الصلاة بعشر صلوات كما في الحديث القدسي: ((أمضيت فريضتي وخففت عن عبادي))، فهي خمس في الفعل وخمسون في الأجر والثواب. وصوم رمضان بعشرة أشهر كما في الحديث: ((رمضان بعشرة أشهر، وست شوال بشهرين))، ((والصدقة بسبعمائة ضعف))، ((والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة طهرة من الذنوب، فالصلاة طهرة من الذنوب كما في الحديث: ((مثل الصلوات الخمس كمثل نهر غمر على باب أحدكم يغتسل منه خمس مرات في اليوم والليلة، هل يبقى عليه من الدرن شيء؟!)). والصوم طهرة من الآثام كما في الحديث: ((جاءني جبريل فقال: من أدرك رمضان فلم يغفر له أبعده الله، قل: آمين، فقلت: آمين))، ومن صامه وقامه وقام ليلة القدر إيمانًا واحتسابًا غفر له ما تقدم من ذنبه. و((الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار))، و((من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع من ذنوبه كيوم ولدته أمه)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والطاعة بركة في التعامل؛ إذ بالتعامل الحسن يدرك الإنسان درجة الصائم القائم، ويجاور الرسول ، ويحظى ببيت في أعلى الجنة، ويدخل الجنة، ويكمل إيمانه، ويثقل ميزانه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأعظم الزمن بركة عشر ذي الحجة، والتي تستقبلونها إن شاء الله هذه الأيام؛ إذ لها مكانة عظيمة عند الله تعالى تدل على محبته لها وتعظيمه لها، فهي عشر مباركات كثيرة الحسنات قليلة السيئات عالية الدرجات متنوعة الطاعات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فمن فضائلها أن الله تعالى أقسم بها فقال: وَلَيالٍ عَشْرٍ [الفجر:2]، ولا يقسم تعالى إلا بعظيم، ومما يدل على ذلك أن الله لا يقسم إلا بأعظم المخلوقات كالسماوات والأرض والشمس والقمر والنجوم والرياح، ولا يقسم إلا بأعظم الأزمان كالفجر والعصر والضحى والليل والنهار والعشر، ولا يقسم إلا بأعظم الأمكنة كالقسم بمكة، وله أن يقسم من خلقه بما يشاء، ولا يجوز لخلقه أن يقسموا إلا به، فالقسم بها يدل على عظمتها ورفعة مكانتها وتعظيم الله لها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن الله تعالى قرنها بأفضل الأوقات، والقرين بالمقارن يقتدي، فقد قرنها بالفجر وبالشفع والوتر وبالليل. أما اقترانها بالفجر فلأنه الذي بحلوله تعود الحياة إلى الأبدان بعد الموت، وتعود الأنوار بعد الظلمة، والحركة بعد السكون، والقوة بعد الضعف، وتجتمع فيه الملائكة، وهو أقرب الأوقات إلى النزول الإلهي في الثلث الأخير من الليل، وبه يُعرف أهل الإيمان من أهل النفاق. وقرنها بالشفع والوتر لأنهما العددان المكوِّنان للمخلوقات، فما من مخلوق إلا وهو شفع أو وتر، وحتى العشر فيها شفع وهو النحر، وفيها وتر وهو عرفة. وقرنها بالليل لفضله، فقد قُدّم على النهار، وذكر في القرآن أكثر من النهار، إذ ذكر اثنتين وسبعين مرة، والنهار سبعا وخمسين مرة، وهو أفضل وقت لنفل الصلاة، وهو أقرب إلى الإخلاص لأنه زمن خلوة وانفراد، وهو أقرب إلى مراقبة الرب تعالى إذ لا يراه ولا يسمعه ولا يعلم بحاله إلا الله، وهو أقرب إلى إجابة الدعاء وإلى إعطاء السؤال ومغفرة الذنوب إذ يقول الرب في آخره: هل من داعٍ فأجيبه، وهل من سائل فأعطيه، وهل من مستغفر فأغفر له. مُيِّز به أهل الجنة في قوله تعالى: كَانُوا قَلِيلاً مِنْ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ [الذاريات:17]، وفي قوله سبحانه: تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ [السجدة:16]، وميِّز به عباد الرحمن في قوله: وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمْ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا [الفرقان:63، 64]، قال بعض السلف: "لولا الليل ما أحببت العيش أبدا"، وقال آخر: "لم يبق من لـذة الـدنيا إلا قيام اللـيل وصلاة الجماعة وصحبة الصالحين".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن الله تعالى أكمل فيها الدين؛ إذ تجتمع فيها العبادات كلها، وبكمال الدين يكمل أهله، ويكمل عمله، ويكمل أجره، ويعيشون الحياة الكاملة التي يجدون فيها الوقاية من السيئات والتلذذ بالطاعات ومحبة المخلوقات، وبكمال الدين تنتصر السنة وتنهزم البدعة ويقوى الإيمان ويموت النفاق، وبكمال الدين ينتصر الإنسان على نفسه الأمارة بالسوء لتكون نفسًا مطمئنة تعبد الله كما أراد، وتقتدي بالأنبياء، وتصاحب الصالحين، وتتخلق بالأخلاق الحسنة، وبكمال الدين ينتصر الإنسان على شيطانه الذي شطّ ومال به عن الصراط المستقيم، وينتصر على الهوى والشهوات. وقد كمل الدين حتى تركنا الرسول على المحجة البيضاء، ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها إلا هالك شقي. وقد حسدنا اليهود على هذا الكمال، قال حبر من أحبار اليهود لعمر رضي الله عنه: آية في كتابكم، لو نزلت علينا ـ معشر اليهود ـ اتخذنا ذلك اليوم الذي نزلت فيه عيدًا: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِينًا [المائدة:3]، قال عمر: (إني أعلم متى نزلت، وأين نزلت. نزلت يوم عرفة في يوم جمعة). وكمال الدين يدل على كمال الأمة وخيريتها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن الله أتم فيها النعمة؛ إذ تنعم الأرواح بشتى أنواع الطاعات القولية والفعلية والتعاملية، ومن تمام النعمة أن الله فتح قلوب العباد للإسلام، فدخل الناس في دين الله أفواجًا، إذ كان عددهم عند تمام النعمة أكثر من مائة ألف. ومن تمام النعمة أن الله أظهر الإسلام على جميع الأديان؛ إذ كان في الجزيرة أديان متنوعة، منها اليهودية والنصرانية والمجوسية والوثنية والنفاق، فأبيدت بالإسلام، وظهر عليها الإسلام، قال تعالى: هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا [الفتح:28]. ومن تمام النعمة منع الكفار من دخول الحرم واختصاص المسلمين بذلك، فتوحدت صفوف المسلمين حتى أصبحوا كالجسد الواحد، ووحدوا معبودهم، وتوحد دينهم، وتوحدت كلمتهم، وتوحد طريقهم، ويا لها من نعمة عظيمة أن ترى أهل الإيمان ظاهرين وأهل الكفر مهزومين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن العبادات تجتمع فيها ولا تجتمع في غيرها، فهي أيام الكمال، ففيها الصلوات كما في غيرها، وفيها الصدقة لمن حال عليه الحول فيها، وفيها الصوم لمن أراد التطوع، أو لم يجد الهدي، وفيها الحج إلى البيت الحرام ولا يكون في غيرها، وفيها الذكر والتلبية والدعاء الذي تدل على التوحيد، واجتماع العبادات فيها شرف لها لا يضاهيها فيه غيرها ولا يساويها سواها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أنها أفضل أيام الدنيا على الإطلاق، دقائقها وساعاتها وأيامها وأسبوعها، فهي أحب الأيام إلى الله تعالى، والعمل الصالح فيها أحب إلى الله تعالى، فهي موسم للربح، وهي طريق للنجاة، وهي ميدان السبق إلى الخيرات، لقوله : ((ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله تعالى من هذه الأيام)) يعني أيام العشر، قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟! قال: ((ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء))، وهذا يدل على أن العمل في أيام العشر أفضل من الجهاد بالنفس، وأفضل من الجهاد بالمال، وأفضل من الجهاد بهما والعودة بهما أو بأحدهما، لأنه لا يفضل العمل فيها إلا من خرج بنفسه وماله ولم يرجع لا بالنفس ولا بالمال، وقد روي عن أنس بن مالك أنه قال: كان يقال في أيام العشر: بكل يوم ألف يوم، ويوم عرفة بعشرة آلاف يوم، يعني في الفضل، وروي عن الأوزاعي قال: بلغني أن العمل في يوم من أيام العشر كقدر غزوة في سبيل الله، يصام نهارها ويحرس ليلها، إلا أن يختص امرؤ بالشهادة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن فيها يوم عرفة، وهو اليوم التاسع من ذي الحجة، وهو يوم معروف بالفضل وكثرة الأجر وغفران الذنب، فهو يوم مجيد، يعرف أهله بالتوحيد، إذ يقولون: لا إله إلا الله، وقد قال : ((وخير ما قلت أنا والنبيون قبلي: لا إله إلا الله))، ويعرف الإنسان ضعف نفسه إذ يكثر من الدعاء ويلح على الله في الدعاء، وفي الحديث: ((خير الدعاء دعاء يوم عرفة))، ويعرف إخوانه المسلمين الذين اجتمعوا من كل مكان في صعيد واحد، ويعرف عدوّه الذي ما رئي أصغر ولا أحقر منه في مثل يوم عرفة، ويعرف كثرة مغفرة الله في هذا اليوم لكثرة أسباب المغفرة من توحيد الله ودعائه وحفظ جوارحه وصيامه لغير الحاج، وهو يوم الحج الأعظم، قال : ((الحج عرفة))، وصومه تطوعًا يكفر ذنوب سنتين: سنة ماضية وسنة مقبلة، وما علمت هذا الفضل لغيره فكأنه حفظ للماضي والمستقبل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائلها أن فيها يوم النحر، وهو اليوم العاشر من ذي الحجة، وهو أفضل الأيام كما في الحديث: ((أفضل الأيام يوم النحر))، وفيه معظم أعمال النسك من رمي الجمرة وحلق الرأس وذبح الهدي والطواف والسعي وصلاة العيد وذبح الأضحية واجتماع المسلمين في صلاة العيد وتهنئة بعضهم بعضًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفضائل العشر كثيرة لا ينبغي للمسلم أن يضيِّعها، بل ينبغي أن يغتنمها، وأن يسابق إلى الخيرات فيها، وأن يشغلها بالعمل الصالح.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الأعمال المشروعة فيها الذكر، يقول تعالى: لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ [الحج:28]، وروى الإمام أحمد عن ابن عمر أن النبي قال: ((ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكان أبو هريرة وابن عمر ـ وهما أكثر الصحابة رواية للحديث وأكثر اتباعًا للسنة ـ إذا دخلت عشر ذي الحجة يخرجان إلى السوق يكبران كلّ على حدته، فإذا سمعهم الناس تذكروا التكبير فكبروا كل واحد على حدته، وهذا التكبير المطلق، ويُكثر مع التكبير من التسبيح والتهليل والتحميد والذكر، ويكثر من قراءة القرآن فإنه أفضل الذكر، وفيه الهدى والرحمة والبركة والعظمة والتأثير والشفاء، وليعلم المسلم بأن الذكر هو أحب الكلام إلى الله تعالى، وهو سبب النجاة في الدنيا والآخرة، وهو سبب الفلاح، وحفظ لصاحبه من الكفر ومن الشيطان ومن النار، به يذكَر العبد عند الله، ويصلي الله وملائكته على الذاكر، وهو أقوى سلاح، وهو خير الأعمال وأزكاها وأرفعها في الدرجات، وخير من النفقة، به يضاعف الله الأجر، ويغفر الوزر، ويثقل الميزان، ومجالسه هي مجالس الملائكة ومجالس الرسل ومجالس المغفرة والجنة والإيمان والسعادة والرحمة والسكينة، وفضائله كثيرة، قرنه الله بالصلاة فقال: فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ [النساء:103]، وقرنه بالجمعة فقال: فَإِذَا قُضِيَتْ الصَّلاةُ فَانتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ [الجمعة:10]، وقرنه بالصوم فقال: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ [البقرة:185]، وقرنه بالحج فقال: فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا [البقرة:200]، وقرنه بالجهاد فقال: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ [الأنفال:45]، ولا يتقيد بزمن ولا حال، أمر الله بـه على جميع الأحوال فقال: فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ [النساء:103].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وينبغي للمسلم أن يسابق في هذه العشر بكل عمل صالح، ويكثر من الدعاء والاستغفار، ويتقرب إلى الله بكل قربة، فدونكم الفضائل فاغتنموها، وإياكم والتواني والكسل، ولنعلم أن لله جل وعلا نفحات في أيامه، فلنهتبل الفرصة ولنستكثر من الحسنات، عل الله جل وعلا أن يعفو عن زلاتنا وسيئاتنا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم وفقنا لأرشد الأقوال والأفعال لا يوفق لأرشدها إلا أنت، اللهم جنبنا سيئ الأقوال والأفعال والأهواء والأدواء لا يجنبنا سيئها إلا أنت، اللهم اهدنا وسددنا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإيَّاكم بما فيه من الآيَات والذكر الحكيم، ونفعَنا بهدي سيد المرسلين وبقَوله القويم، أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من ذلك ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;الخطبة الثانية&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادةَ مستيقنٍ بها في جنانه، ومقرٍّ بها بلسانه، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدًا عبد الله ورسوله المبلغُ للوحيين: سنته وقرآنه، صلى الله وسلم وبارك عليه، وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإن من أفضل الأعمال في هذه الأيام ـ يا عباد الله ـ الإهلال بالحج والتقرب إلى الله جل وعلا به، والتقرب إلى الله بصوم عرفة لمن لم يحج، وفضل الأضاحي، ولعل الله جل وعلا ييسر لنا الكلام عن فضلها في الجمعة القادمة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الأعمال في هذه العشر الإكثار من نوافل الصلوات بعد الفرائض، كالرواتب التي قبل الفرائض وبعدها، وهي اثنتا عشرة ركعة: أربع قبل الظهر، وركعتان بعدها، وركعتان بعد المغرب، وركعتان بعد العشاء، وركعتان قبل الفجر. ويواظب على النوافل المقيدة، مثل أربع قبل الظهر، وأربع بعدها، وأربع قبل العصر، وركعتان قبل المغرب، وصلاة الليل، وهي إحدى عشرة ركعة كما في السنة عن رسول الله ، وكان يواظب عليها ويقضيها وقت الضحى لو نام عنها، وصلاة الضحى ركعتان أو أكثر، فالمحافظة على النوافل سبب من أسباب محبة الله، ومن نال محبة الله حفظه وأجاب دعاءه، وأعاذه ورفع مقامه، لأنها تكمل النقص وتجبر الكسر وتسد الخلل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويكثر من الصدقة في العشر، إذ الصدقة فيها أفضل من الصدقة في رمضان، وما أكثر حاجات الناس في العشر من النفقة والاستعداد للحج وللعيد وطلب الأضحية ونحوها، وبالصدقة ينال الإنسان البر ويضاعف له الأجر ويظله الله في ظله يوم القيامة، ويفتح بها أبواب الخير ويغلق بها أبواب الشر، ويفتح فيها بابا من أبواب الجنة، ويحبه الله ويحبه الخلق، ويكون بها رحيمًا رفيقًا، ويزكي ماله ونفسه، ويغفر ذنبـه، ويتحرر من عبـودية الـدرهم والديـنار، ويحفـظه الله في نـفسـه ومـاله وولده ودنياه وآخرته.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويكثر من الصيام في أيام العشر، ولو صام التسعة الأيام لكان ذلك مشروعًا، لأن الصيام من العمل الصالح، ولأنه ثبت في الحديث أنه كان يصوم يوم عاشوراء، وتسع ذي الحجة، وثلاثة أيام من الشهر، وما ورد عن عائشة أنه ما صام العشر فالمراد إخبار عائشة عن حاله عندها، وهو عندها ليلة من تسع، ولربما ترك الشيء خشية أن يُفرض على أمته، ولربما تركه لعذر من مرض أو سفر أو جهاد أو نحوه، وإذا تعارض حديثان أحدهما مُثبت والآخر نافي فإننا نقدم المثبت على النافي، لأن عنده زيادة علم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وينبغي للمسلم إذا دخلت عليه العشر وهو يريد أن يضحي أن لا يأخذ من شعره ولا بشرته شيئًا، فمن أراد منكم أن يضحي فثبت دخول شهر ذي الحجة فإنه لا يحلّ له أن يأخذ من شعره ولا من بشرته ولا من أظفاره شيئا، هكذا جاء الحديث عن رسول الله ، إذا دخل العشر وأراد الإنسان أن يضحي فلا يأخذن من هذه الأمور الثلاثة شيئا الشعر والظفر والبشرة يعني الجلد، وأما من يضحّى عنه وهم أهل البيت فلا حرج عليهم أن يأخذوا شيئا من ذلك لأن النبي إنما نهى من أراد أن يضحي وأهل البيت يضحى عنهم ولا يضحّون، ولهذا لا نعلم أن النبي كان ينهى أهله أن يأخذوا شيئا من ذلك مع أنهم كانوا يضحى عنهم، فقد كان رسول الله يضحي بأضحيتين: إحداهما عنه وعن أهل بيته، والثانية عن أمته جميعا، فجزاه الله عنا خيرا، وجعلنا من أتباعه ظاهرا وباطنا، وحشرنا في زمرته، وسقانا من حوضه، وجمعنا به في جنات النعيم، إنه هو الكريم الوهاب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأكثروا من الصلاة والسلام علي نبيكم محمد ، أكثروا من الصلاة عليه في كل وقت فإنه أعظم الناس حقا عليكم، أكثروا من الصلاة عليه فإنكم بذلك أمرتم، أكثروا من الصلاة عليه فإنكم تنالون بذلك أجرا عظيما، فإن من صلى عليه مرة واحدة صلى الله عليه بها عشره.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد، اللهم ارزقنا محبته واتباعه ظاهرا وباطنا، اللهم توفنا على ملته، اللهم احشرنا في زمرته، اللهم اسقنا من حوضه، اللهم أدخلنا في شفاعته، اللهم اجمعنا به في جنات النعيم مع الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، اللهم ارض عن خلفائه الراشدين: أبي بكر وعمر وعثمان وعلي أفضل أتباع المرسلين، اللهم ارض عن الصحابة أجمعين، وعن التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين، اللهم ارض عنا معهم وأصلح أحوالنا كما أصلحت أحوالهم يا رب العالمين.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5924076350858788600?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5924076350858788600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_6867.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5924076350858788600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5924076350858788600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_6867.html' title='فضل عشر ذي الحجة'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-2213194106810791969</id><published>2011-10-06T17:28:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T17:34:08.030-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>الحج فضله وآثاره</title><content type='html'>ملخص الخطبة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- الحج خامس أركان الإسلام. 2- أدلة وجوب الحج. 3- فضل عبادة الحج. 4- آثار الحج على المسلمين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الخطبة الأولى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما بعد: الحج أحد أركان الإسلام ومبانيه العظام ودعائمه الخمس، وفرض من فروضه دل عليه الكتاب والسنة والإجماع والمعقول، وهو فرض عين على المكلف المستطيع مرة واحدة في العمر، ومن أنكر ذلك فقد كفر إلا إذا كان حديث عهد بالإسلام أو نشأ في بادية بعيدة عن العلم وأهله.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;الأدلة من الكتاب:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- قال تعالى: إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ ٱللَّهِ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ [البقرة:158].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- وقال تعالى: وَأَتِمُّواْ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا ٱسْتَيْسَرَ مِنَ ٱلْهَدْىِ [البقرة:196].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- وقال تعالى: وَللَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَـٰعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱلله غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ [آل عمران:97].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- وقال تعالى: وَأَذّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَىٰ كُلّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلّ فَجّ عَميِقٍ لّيَشْهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُواْ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِى أَيَّامٍ مَّعْلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مّن بَهِيمَةِ ٱلاْنْعَامِ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ ٱلْبَائِسَ ٱلْفَقِيرَ [الحج:27، 28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذه الآيات صريحة في إيجاب الحج حيث قال تعالى: وَللَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ وكلمة عَلَى إيجاب، وقال تعالى: وَمَن كَفَرَ أي ومن كفر بوجوب الحج، وقال تعالى: وَأَذّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجّ أي ادعهم ونادهم إلى حج البيت وقيل أعلمهم أن الله فرض عليهم الحج بدليل قوله تعالى: يَأْتُوكَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن العربي بعد سياقه للآية: "وَللَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ [آل البيت:97]. قال علماؤنا: هذا من أوكد ألفاظ الوجوب عند العرب إذ قال العربي لفلان: عليّ كذا، فقد وكده وأوجبه، قال علماؤنا: فذكر الله الحج بأبلغ ألفاظ الوجوب تأكيداً لحقه وتعظيماً لحرمته وتقوية لفرضه ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الأدلة من السنة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- ما رواه عبد الله بن عمر رضي الله عنهما، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((بني الإسلام على خمس: شهادة ألا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وحج بيت الله الحرام لمن استطاع إلى ذلك سبيلا)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه قال: خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا))، فقال رجل: أكل عام يا رسول الله؟ فسكت حتى قالها ثلاثاً، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لو قلت: نعم، لوجبت ولما استطعتم))، ثم قال: ((ذروني ما تركتكم فإنما هلك من كان قبلكم بكثرة سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم، فإذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم وإذا نهيتكم عن شيء فدعوه)) مسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذه النصوص من السنة تدل دلالة قاطعة على وجوب الحج مرة واحدة في العمر، وأنه ركن من أركان الإسلام ومبانيه العظام التي لا يتم إسلام امرئ إلا به متى تحققت فيه شروط الوجوب وانتفت عنه موانع الأداء، فحري بالمسلم أن يبادر لإبراء ذمته وأداء ما عليه قبل أن تقول نفس: يا حسرتي على ما فرطت في جنب الله، وقبل أن يندم، ولات ساعة مندم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولقد أفاض القرآن والسنة في فضل الحج ووردت فيه النصوص الكثيرة التي ذكرنا طرفاً منها فيما سبق ونذكر هنا ما لم نذكره هناك مما يختص في فضل الحج فنقول:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- الحج يهدم ما قبله:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عمرو بن العاص رضي الله عنه قال: (.. فلما جعل الله الإسلام في قلبي أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: إبسط يمينك لأبايعك فبسط يمينه، قال: فقبضت يدي، قال: مالك يا عمرو؟ قال: قلت أردت أن أشترط، قال: تشترط بماذا؟ قلت: أن يغفر لي، قال: أما علمت أن الإسلام يهدم ما كان قبله وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها وأن الحج يهدم ما كان قبله ...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- الحاج يعود بعد حجه كيوم ولدته أمه:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من حج هذا البيت فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- الحج أفضل الأعمال بعد الإيمان والجهاد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سئل النبي صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: ((إيمان بالله ورسوله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((ثم جهاد في سبيل الله))، قيل: ثم ماذا؟ قال: ((ثم حج مبرور)) البخاري.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- الحج أفضل الجهاد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت يا رسول الله: نرى الجهاد أفضل الأعمال أفلا نجاهد؟ قال: ((لا لكن أفضل الجهاد حج مبرور)) البخاري.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فضائل الحج أن الحجاج والعمار وفد الله إن سألوه أعطاهم، وإن دعوه أجابهم، وإن استغفروه غفر لهم، ونفقتهم في سبيل الله، وهي مخلوفة عليهم، وهم معانون في أداء النسك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخيراً فإن الله يباهي بالحجاج ملائكته في صعيد عرفات ويتجلى لهم ويقول: انصرفوا مغفوراً لكم، إنه لفضل عظيم ونعمة كبرى أن ينصرف الحاج من هذا الموقف العظيم مغفوراً له وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء اللهم إنا نسألك من فضلك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحج هجرة إلى الله تعالى، استجابة لدعوته، وموسم دوري يلتقي فيه المسلمون كل عام على أصفى العلاقات وأتقاها، ليشهدوا منافع لهم على أكرم بقعة شرفها الله.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعبادات الإسلام وشعائره تهدف كلها إلى خير المسلمين في الدنيا والآخرة، ومن هنا كان الحج عبادة يتقرب بها المسلمون إلى خالقهم، فتصفو نفوسهم ويلتقون على المودة يربط بينهم الإيمان رغم تباعد الأقطار واختلاف الديار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والمتأمل في نصوص الكتاب والسنة الخاصة بالحج إذا جمع معها ما يلمسه في الواقع المشاهد خلال أداء فريضة الحج تتجلى له الأهداف التالية:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- الحج امتثال لأوامر الله واستجابة لندائه:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحج امتثال لأوامر الله واستجابة لتعاليمه تتجلى فيه الطاعة الخالصة والإسلام الحق وصدق الله العظيم: وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ [لقمان:22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- الحج فيه تأسٍ بأبينا إبراهيم عليه السلام:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لقد أمر الله أبانا إبراهيم عليه السلام أن يؤذن في الناس بالحج وكتب الله لمن شاء من عباده أن يلبوا هذا النداء رجالاً أو ركباناً، ففي الحج اقتداء بالصالحين وتأسي بمن أمرنا الله أن نتأسى بهم ونجعلهم قدوة حسنة لنا، يقول تعالى: قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى إِبْرٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ [الممتحنة:4]، إلى قوله تعالى: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لّمَن كَانَ يَرْجُو ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلأَخِرَ.. [الممتحنة:6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- الحج فيه ارتباط بمهبط الوحي:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحج رحلة إلى الديار المقدسة مهبط الوحي ومتنزل التشريع، وكلما ارتبط المسلم بهذه البقاع الطاهرة كلما كان أقرب إلى الاقتداء بالرعيل الأول، الذين جاهدوا في سبيل الله وبلغوا شرعه إلى أنحاء المعمورة، وشتان بين مسلم يرتبط قلبه بمهابط الوحي ومنازل التشريع ومسلم يتعلق قلبه هنا أو هناك خلف عرض زائل أو قزم يتطاول، فكما أن الفرق شاسع بين الوسيلتين فكذلك في النتيجة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- في الحج إعلان عملي لمبدأ المساواة بين الناس:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تتجلى المساواة بأسمى صورها الواقعية في الحج، وذلك في صعيد عرفات حينما يقف الناس موقفاً واحداً لا تفاضل بينهم في أي عرض من أعراض الدنيا الزائلة بل التفاضل والفوز والفلاح بالتقى، يقول الحق تبارك وتعالى مؤكداً هذا المنهج السامي في الإسلام إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ ٱللَّهِ أَتْقَـٰكُمْ [الحجرات:13]، ويقول تعالى: سَوَاء ٱلْعَـٰكِفُ فِيهِ وَٱلْبَادِ [الحج:25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- في الحج تذكرة بيوم لقاء الله:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحج يذكر المسلم بيوم لقاء الله وذلك إذا تجرد الحاج من ثيابه ولبى محرماً ووقف بصعيد عرفات، ورأى كثرة الناس ولباسهم واحد ويشبه الأكفان، فهنا تجول بالخاطر مواقف سيتعرض لها المسلم بعد وفاته فيدعوه ذلك للاستعداد لها وأخذ الزاد قبل لقاء الله.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6- في الحج توثيق لمبدأ التعارف والتعاون:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يقول الحق تبارك وتعالى: وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلْبرِ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلإِثْمِ وَٱلْعُدْوَانِ [المائدة:2]، ويتجلى تحقيق هذا المبدأ السامي في الحج حيث تتوثق الصلات ويقوى التعارف ويتم التشاور ويحصل تبادل الآراء، والتجارب والخبرات للسعي قدماً في النهوض بالأمة ورسم الطريق الأمثل لها لتتبوأ مكانتها القيادية على مر العصور والأجيال.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7- في الحج جمع للناس على مبدأ التوحيد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في الحج تتجلى صورة التوحيد لدى المسلمين، فهم أولاء يتوافدون على الديار المقدسة ويجتمعون في أماكن محددة ويناجون رباً واحداً ملبين للنداء مذعنين للأمر منضوين تحت اللواء، يرفعون كلمة التوحيد ويعتصمون بالحبل المتين وصدق الله العظيم: إِنَّ هَـٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَاْ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ [الأنبياء:92].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8- الحج مؤتمر سنوي للمسلمين:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخيراً فالحج مؤتمر سنوي عام للمسلمين يتدارسون فيه شئونهم وتجتمع فيه كلمتهم ويحنو فيه غنيهم على فقيرهم وتظهر فيه الوحدة الكبرى للمسلمين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والذي أدى فريضة الحج في السنوات الأخيرة يلمس هذه الأهداف ماثلة للعيان فكم من أموال بذلت في سبيل الله وكم من تجارب تمت الاستفادة منها وكم من لقاءات جانبية تداول فيها المجتمعون ما يهم المسلمين في حاضرهم ومستقبلهم، وإذا كان هذا تحقق فعلاً بفضل من الله فإننا نأمل المزيد وندعو المسلمين لاستثمار هذا المؤتمر السنوي ليحصل الخير الوفير لأمة الإسلام في جميع ديار المسلمين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فرض الله سبحانه وتعالى العبادات على عباده امتحاناً لطاعتهم وإظهاراً لعبوديتهم وشكرهم وتحقيقاً لمصالحهم في الدنيا والآخرة وقد أشار سبحانه وتعالى في محكم كتابه إلى طرف من هذه المصالح والمنافع، فعند ذكر الحج مثلاً أشار إلى منافعه العظيمة التي يشهدها الحجاج يقول تعالى: لّيَشْهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُواْ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِى أَيَّامٍ مَّعْلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مّن بَهِيمَةِ ٱلاْنْعَامِ فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ ٱلْبَائِسَ ٱلْفَقِيرَ [الحج:28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن عباس في تفسير هذه الآية: (منافع الدنيا والآخرة، أما منافع الآخرة فرضوان الله تعالى، وأما منافع الدنيا فما يصيبون من منافع البدن والذبائح والتجارات ...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولكي تتضح الصورة لنا حول آثار الحج سنتحدث عنه من جانبين:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أحدهما: آثار الحج في حياة الأمة الإسلامية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثاني: آثار الحج فيمن أدى فريضته.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آثار الحج في حياة الأمة الإسلامية:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;للحج آثار عظيمة على المجتمع المسلم في عقيدته ووحدته واقتصاده وجميع شئون حياته ومن أبرز آثاره في حياة الأمة الإسلامية ما يأتي:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- وصل حاضر الأمة بماضيها:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج الظاهرة أنه يصل حاضر الأمة الإسلامية بماضيها ويربط الجيل الحاضر بالجيل الأول، وتاريخ البيت العتيق ضارب في أعماق الزمن منذ أن دعا أبونا إبراهيم عليه السلام وأرسل نداءه الخالد على مر الزمن إلى أن يرث الله الأرض ومن عليها وَأَذّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجّ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- سقوط الشعارات الزائفة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج سقوط الشعارات الزائفة التي تجعل التفاضل بين الناس حسب أجناسهم وألوانهم ومكانتهم في الدنيا. ففي الحج تذوب تلك الفوارق، بل تسقط فتتحقق المساواة بين المسلمين رغم اختلاف أجناسهم وألوانهم وتباين ألسنتهم وتباعد بلادهم، الجميع من آدم وآدم من تراب إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ ٱللَّهِ أَتْقَـٰكُمْ [الحجرات:13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- توحيد كلمة المسلمين:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج في حياة أمة الإسلام توحيد كلمة المسلمين وجمع شملهم تحت راية التوحيد، شعارهم المعلن هو التلبية ـ لبيك اللهم لبيك ـ وما ذاقت الأمة ما ذاقت من ويلات وحروب واستعمار وتخلف إلا بسبب تفرقها وتمزقها، والحج فرصة، وأيما فرصة للم الشمل وتوحيد الصف والوقوف بوجه العدو تحقيقاً لأمر الله وَٱعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ [آل عمران:103].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- تبادل المنافع التجارية والتجارب الاقتصادية:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج في حياة الأمة الإسلامية تبادل التجارب والخبرات في المجال الاقتصادي وتنويع المنتوجات حسب العرض والطلب في السوق المالية في ديار الإسلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا شك أن هذا التجمع الكبير فرصة لبحث أوجه النقص لدى بعض البلاد الإسلامية ليتم التكامل مع بعض البلاد الأخرى، وهذا من المنافع التي أمرنا الله أن نشهدها في الحج، وقد أشار خير الأمة وترجمان القرآن إلى هذا المعنى في تفسيره للمنافع في الآية.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آثار الحج فيمن أدى فريضته:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- تجديد ذكر الله:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج في حياة المسلم الذي يؤدي فريضته أنه يقوي صلة المحبة بينه وبين خالقه، وذلك عن طريق شعار الحج المعلن ـ لبيك اللهم لبيك ـ، فيها يجدد المسلم ذكر الله في مواقع ومواقف متعددة، يصحب ذلك خشوع وخضوع للخالق البارئ سبحانه وتعالى، والمسلم بهذه التلبية يطرح كل شواغل الحياة وصوارفها التي تمنعه من القرب من خالقه طاعة وامتثالاً وخشوعاً وخضوعاً وتذللاً وإجلالاً ـ لبيك اللهم، لبيك لا شريك لك لبيك ـ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- في أداء مناسك الحج يذكر المسلم اليوم الآخر:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحج مظهر مصغر ليوم الحشر والعرض على الله. ولذا تفيض في نفس الحاج بواعث الشوق للقاء الله ويدفعه للعمل الصالح وينشط في مجالات الخير وتنهزم بواعث المعصية في نفسه ويبقى ذكر الموت وما بعده بين عينيه، وفي هذا من الآثار العظيمة على السلوك والأخلاق ما يلمسه كل حاج مع نفسه ومع الآخرين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- نيل رضوان الله ومغفرته:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج في حياة المسلم الحاج أنه يرجع إلى بلده بإذن الله نقياً من الذنوب؛ لأنه تعرض لمغفرة الله ورضوانه ووقف مع من وقف في بابه يدعو ويرجو راغباً راهباً، وقد وعد الله من حج ولم يرفث ولم يفسق بالمغفرة والرضوان جاء ذلك على لسان رسول الله صلى الله عليه وسلم في الحديث الذي يرويه أبو هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4- يتعلم الحاج دروس التضحية والبذل:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج على المسلم الذي يؤدي هذه الفريضة أنه يتعلم دروساً في البذل والتضحية، ولذا كان الحج باباً من أبواب الجهاد، أليس الحاج يترك وطنه وأهله وأحبابه؟ أليس الحاج يبذل المال قربة لله؟ أليس الحاج يجهد نفسه ويخلع ثيابه ويتجرد من كل شيء طاعة لله وامتثالاً لأمره، وهذا لون من ألوان الجهاد بالمال والجهد والوقت.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5- الحج تدريب عملي للحاج على الصبر والطاعة:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من آثار الحج في حياة المسلم الذي يؤدي هذه الفريضة أنه يتدرب عملياً على الصبر بكل أنواعه: الصبر على مشقة الطاعة والصبر عما حرم الله والصبر على ما يصيب الحاج من المشقة والجهد والعنت وفقد المال وبعد الأهل والأحباب، وبهذا يتهيأ المسلم لمنازلة الأعداء وهو قوي الجانب ثابت الجنان لا يدخل الخوف إلى قلبه ولا يتسرب الهلع إلى نفسه لأن الإخلاص ملأ عليه سمعه وبصره فلا يصدر عنه إلا السمع والطاعة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6- الحج نقطة تحول في حياة الحاج:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يزداد به خيراً وتقوى وصلاحاً، ولذا أشار القرآن الكريم إلى أنه ينبغي للحاج ألا ينسى مواقفه الضارعة في الحج وأن يستمر في تعلقه بربه وإنابته له. بقوله تعالى: فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَـٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءابَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا... [البقرة:200].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والحاج الذي يبقى أثر الحج في نفسه ويعود منه وقد تحسن حاله واستقام أمره وأقبل على طاعة ربه، هو الذي يرجى أن يقبل حجه، فالله لا يقبل العمل إلا من المتقين إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ [المائدة:27].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أيها المسلمون، الذين لم يعزموا على الحج هذا العام سواء ممن حج أو لم يحج سأقرأ عليكم حديثاً واحداً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، عسى أن يحرك الهمم، والذي تردد لعله يعزم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يقول عليه الصلاة والسلام في الحديث الصحيح: ((أما خروجك من بيتك تؤم البيت الحرام فإن لك بكل وطأة تطؤها راحلتك يكتب الله لك بها حسنة ويمحو عنك بها سيئة، وأما وقوفك بعرفة فإن الله عز وجل ينزل إلى السماء الدنيا فيباهي بهم الملائكة فيقول: هؤلاء عبادي جاؤوني شعثاً غبراً من كل فج عميق يرجون رحمتي ويخافون عذابي ولم يروني، فكيف لو رأوني، فلو كان عليك مثل رمل عالج أو مثل أيام الدنيا أو مثل قطر السماء ذنوباً غسلها الله عنك، وأما رميك الجمار فإنه مدخور لك، وأما حلقك رأسك فإن لك بكل شعرة تسقط حسنة. فإذا طفت بالبيت خرجت من ذنوبك كيوم ولدتك أمك)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم يسر على الحجاج حجهم...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-2213194106810791969?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/2213194106810791969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_8608.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2213194106810791969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2213194106810791969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_8608.html' title='الحج فضله وآثاره'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-7673213220946551701</id><published>2011-10-06T17:22:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T17:24:12.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>ذي القعدة</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;صلح الحديبية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان في ذي القعدة من سنة 6هـ، وفيها خرج رسول الله- صلى الله عليه وسلم- في ما يقرب من ألف وأربعمائة من الصحابة الكرام قاصدين مكةَ لأداء العمرة، فلما علم المشركون بذلك جمعوا أحابيشهم وخرجوا من مكةَ ليصدوا رسول الله وأصحابه عن العمرة من ذلك العام، فرجع رسول الله بعد أن صالحوه على أن يأتي العام القادم، ولا يُقيم أكثر من ثلاثة أيام، وعلى هدنة تكون بينهم وبينه صلى الله عليه وسلم لمدة عشر سنين، وعلى أن يردَّ رسول الله من قصده من الكفار مسلمًا، وألا يردُّوا هم من قصدهم من المسلمين كافرًا.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعلى الرغم من جور المعاهدة إلا أن رسول الله قَبِلَها وقد حدث قبل الصلح أمر بيعة الرضوان، بعدما أُشيع أن عثمان قُتل، وكان رسول الله قد بعثه إلى قريش يُعلِمُهم أنه ما جاء لقتال أحد، وإنما جاء معتمرًا، وقد أثنى الله على المؤمنين وأنزل فيهم قرآنًا ﴿لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا﴾ (الفتح: 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عمرة القضاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكانت في العام السابع من الهجرة؛ حيث خرج رسول الله من المدينة معتمرًا، وسار حتى بلغ مكةَ فاعتمر وطاف بالبيت، وتحلَّل من عمرته، وتزوَّج بعد إحلاله بأم المؤمنين ميمونة بنت الحارث الهلالية رضي الله عنها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حجة الوداع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكان مبتدأ خروج الرسول الله- صلى الله عليه وسلم- من المدينة لأداء حجة الوداع في ذي القعدة من العام العاشر للهجرة، وكان ذلك مع جمعٍ من المسلمين كثير، صلَّى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم العصر بذي الحليفة ركعتَين وبات بها، وأتاه آتٍ من ربه عز وجل في وادي العقيق يأمره أن يقول في حجته هذه: "حجٌّ في عمرة"، ومعنى هذا أن الله يأمره أن يُقرن الحج مع العمرة، فأصبح فأخبر الناس بذلك.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;معركة الفِرَاض&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بدأت هذه المعركة في شهر رمضان من عام 12هـ ووضعت أوزارها في شهر ذي القعدة من العام نفسه. وفي هذه الموقعة تمَّ تحالفٌ ثلاثيٌّ بغيضٌ بين مشركي العرب والروم النصارى والفرس المجوس ضد المسلمين، وانتصر فيها المسلمون بقيادة خالد بن الوليد- رضي الله عنه- على هذا التحالف الشرّ، والفِرَاض هي تخوم الشام والعراق والجزيرة من الجنوب الشرقي.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد قُتل من جيوش التحالف الرومي الفارسي العربي يومئذٍ مائة ألف قتيل، بإجماع المؤرِّخين؛ يقول ياقوت الحموي في معجم البلدان: "واجتمعت عليه الروم والعرب والفرس، فأوقع بهم وقعة عظيمة، قُتل فيها مائة ألف!!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فتح بيسان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تقع مدينة بيسان في القسم الشمالي من فلسطين في الزاوية الجنوبية الشرقية منه، وفي ذي القعدة سنة عام 13هـ= 634م فتُحت بيسان من قبل المسلمين على يد القائدين شرحبيل بن حسنة وعمرو بن العاص رضي الله عنهما.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-7673213220946551701?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/7673213220946551701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_06.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7673213220946551701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7673213220946551701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/10/blog-post_06.html' title='ذي القعدة'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-8571403801792146901</id><published>2011-09-08T02:01:00.002-07:00</published><updated>2011-09-08T02:02:34.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>شهر شوال</title><content type='html'>الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خير الخلق أجمعين محمد صلى الله عليه وسلم تسليماً كثيراً&lt;br /&gt;وبعد : لئن انقضى شهر رمضان وولى فإن المؤمن يظل صيامه متواصلاً لا ينقطع . وبمجرد ما ينقضي شهر الصيام تأتينا أيام شوال وفيها يتأكد صيام ستة أيام منها وقد ورد في فضلها الحديث المشهور الذي خرّجه الإمام مسلم من حديث أبي أيوب الأنصاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال} من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر}&lt;br /&gt;وصح عند النسائي وابن ماجه من حديث ثوبان مرفوعاً من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة من جاء بالحسنة فله عشرا مثلها&lt;br /&gt;و إنما كان هذا الأجر العظيم لصائم الست لما فيه من المشقة حيث أن المسلم يواصل صيام الست بعد خروجه من صوم شهر كامل .&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;قال الإمام المناوي} خص شوال لأنه زمن يستدعي الرغبة فيه إلى الطعام لوقوعه عقب الصوم فالصوم حينئذ أشق وثوابه أكثر}&lt;br /&gt;وتستحب المبادرة إلى صيام الست من شوال بحيث يبدأ بها من اليوم الثاني من الشهر وهذا ما ذهب إليه الشافعي و أبو حنيفة&lt;br /&gt;ولا حرج في عدم المبادرة فلو أخرها أوسط الشهر أو أواخره فلا بأس وهو ما ذهب إليه الإمام أحمد ولكن يحذر الإنسان من التسويف من غير حاجة حتى إذا أزف الشهر على الأفول فإذا به بتحسر حيث بقيت له عدة أيام لم يصمها فيفوته الأجر المذكور في الحديث.&lt;br /&gt;وقد سرد طائفة من الصحابة والتابعين إلا يوم الفطر والأضحى وأخرج الإمام أبو يعلى بإسناد جيد عن أسامه رضي الله عنه قال } كنت أصوم شهراً من السنة فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم أين أنت من شوال حتى يأتي على آخرة }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي معاودة الصيام بعد رمضان فوائد عديدة :-&lt;br /&gt;منها أن صيام ستة أيام من شوال بعد رمضان يستكمل بها أجر صيام الدهر كله&lt;br /&gt;منها أن صيام شوال وشعبان كصلاة السنن الرواتب قبل الصلاة المفروضة وبعدها، نكمل بذلك ما حصل من خلل ونقص فإن الفرائض تجبر بالنوافل يوم القيامة ، وكان عمر بن العزيز يقول : من لم يجد ما يتصدق به فليصم، والمعنى أن من لم يجد ما يخرجه صدقة الفطر فليصم فإن الصيام يقوم مقام الإطعام في التكفير للسيئات.&lt;br /&gt;ومنها أن معاودة الصيام بعد رمضان علامة على قبول صيام رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم . ثواب الحسنة حسنة بعدها  .&lt;br /&gt;ومنها أن فيه شكراً لنعمة الإتمام ، ومن حق الشكر الصوم، وكان بعض السلف إذا وفق لقيام ليلة من الليالي أصبح صائماً ويجعل صيامه شكرا للتوفيق للقيام .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا أنت لم تزدد على كل نعمة *** لموليكها شكراً فلست بشاكر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أن أعمال رمضان لا تنقطع والطاعة بعدها دليل على عدم استثقال الصيام، وقد كان من هديه عليه الصلاة والسلام أنه يقضي ما يفوته من الأوراد والسنن حتى أنه قضى مرة اعتكاف رمضان فاعتكف في شوال .&lt;br /&gt;ما أحسن الحسنة بعد السيئة تمحها ، وأحسن منها الحسنة بعد الحسنة تتلوها .&lt;br /&gt;وإن من توفيق الله للعبد إعانته على طاعات بعد طاعة .&lt;br /&gt;فاللهم وفقنا لطاعتك واهدنا لسلوك سبيلك واصرف عنا ما يعيقنا من القيام بواجب شكرك يا ذا الجلال والإكرام .&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-8571403801792146901?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/8571403801792146901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/blog-post_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8571403801792146901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/8571403801792146901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/blog-post_08.html' title='شهر شوال'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-2112223428162391189</id><published>2011-09-08T02:01:00.001-07:00</published><updated>2011-09-08T02:01:38.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>أحاديث شوالية غير صحيحة منتشرة في بعض المنتديات</title><content type='html'>الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أخي المسلم : حرصا مني على تعميم الفائدة ، و دفاعا عن سنة نبينا صلى الله عليه وسلم ، و نظرا لاشتهار بعض الأحاديث الضعيفة الخاصة بشهر شوال ، رأيت كتابة جملة من هذه الأحاديث مع ذكر المصادر التي حكمت بعدم صحتها حتى لا ينسب إلى السنة ما ليس منها وهذه الأحاديث هي :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1) حديث : (( من صام رمضان ، وشوالا ، والأربعاء ، والخميس ، والجمعة ؛ دخل الجنة ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب الجامع الصغير للسيوطي حديث رقم 8778 ، و كتاب مجمع الزوائد للهيثمي حديث رقم 5147 ، و كتاب الفيض القدير للمناوي 8778 ، و كتاب سلسلة الضعيفة للألباني حديث رقم 4612&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) حديث : (( من صام رمضان، وأتبعه ستا من شوال؛ خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب مجمع الزوائد للهيثمي 2 / 184 ، و كتاب نصب الراية للزيلعي حديث رقم 18 ، و كتاب فيض القدير للمناوي حديث رقم 8778 ، و كتاب السلسلة الضعيفة للألباني حديث رقم 5 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) حديث : (( أن النبي صلى الله عليه وسلم تزوج أم سلمة في شوال، وجمعها إليه في شوال ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب تهذيب الكمال للمزي 18 / 297 ، و كتاب الإصابة لأبن حجر 5 / 29 ، وكتاب مصباح الزجاجة للكناني 2 / 119 ، و كتاب ضعيف سنن ابن ماجه للألباني حديث رقم 432&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) حديث : (( من صام رمضان، و ستا من شوال، و الأربعاء و الخميس، دخل الجنة ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب الجامع الصغير للسيوطي حديث رقم 8778 ، و كتاب ضعيف الجامع للألباني حديث رقم 5650&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) حديث : ((‏ أن ‏ ‏أسامة بن زيد ‏ ‏كان يصوم ‏ ‏أشهر الحرم ‏ ‏فقال له رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏صم شوالا فترك ‏ ‏أشهر الحرم ثم ‏ ‏لم يزل يصوم شوالا حتى مات ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب مصباح الزجاجة للكناني 2 / 78 ، و كتاب ضعيف ابن ماجه للألباني حديث رقم 381&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) حديث : (( ‏أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يعتمر إلا ثلاثاً، إحداهن في شوال، واثنتين في ذي القعدة ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب التمهيد لأبن عبد البر 22 / 289 ، و كتاب تهذيب سنن أبي داود لأبن القيم حديث رقم 1994 ، و كتاب عون المعبود للآبادي حديث رقم 1995 ،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) حديث : (( يكون في رمضان صوت، وفي شوال معمعة، وفي ذي القعدة تتحارب القبائل، وفي ذي الحجة يلتهب الحاج، وفي المحرم ينادي مناد من السماء: ألا! إن صفوة الله تعالى من خلقه فلان فاسمعوا له وأطيعوا ... ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب ميزان الاعتدال للذهبي 4 / 428 ، و كتاب الضعفاء للعقيلي 3 / 52 ، و كتاب المستدرك للحاكم حديث رقم 288 ، و مجمع الزوائد للهيثمي حديث رقم 12373 ، و كتاب المنار المنيف 1 / 110 ، و كتاب كشف الخفاء للعجلوني 2 / 569 ، و كتاب اللآلئ المصنوعة للسيوطي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) حديث : (( الحج أشهر معلومات قال : شوال وذو القعدة وذو الحجة ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب تفسير ابن كثير 1 / 237 ، و كتاب مجمع الزوائد للهيثمي 3 / 218 ، و كتاب المراسيل لأبي داود حديث رقم 1584 ، و كتاب نصب الراية للزيلعي 3 / 122 ،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) حديث : (( يا حميراء لا تقولي رمضان فإنه إسم من أسماء اللّه تعالى ولكن قولي شهر رمضان فإن رمضان أرمض فيه ذنوب عباده فغفرها قالت عائشة فقلت يا رسول اللّه شوال فقال شوال شالت لهم ذنوبهم فذهبت ))&lt;br /&gt;أنظر : كتاب اللآلئ المصنوعة للسيوطي 2 / 83&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ـــــــــــــــــــــــــــــ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذه الأحاديث بهذه الألفاظ غير صحيحة ، ومن باب النصيحة للأمة تم بيانها ، وفي الأحاديث الصحيحة ما يغـني عن الضعيف .&lt;br /&gt;و الله أعلم و الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على سيد المرسلين و على آله و صحبه أجمعين .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-2112223428162391189?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/2112223428162391189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2112223428162391189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2112223428162391189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/blog-post.html' title='أحاديث شوالية غير صحيحة منتشرة في بعض المنتديات'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-372397588644002666</id><published>2011-09-08T01:59:00.000-07:00</published><updated>2011-09-08T02:00:53.553-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>"10" وسائل للمداومة على العمل الصالح بعد رمضان</title><content type='html'>بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"10" وسائل للمداومة على العمل الصالح بعد رمضان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وماذا بعد رمضان ؟ كنت في رمضان في إقبال على الله ..أُكثر من النوافل ..أشعر بلذة العبادة .. وأكثر من قراءة القرآن الكريم .. لا أُفرط في صلاة الجماعة .. منُقطعا عن مشاهدة ما حرم الله .. ولكن بعد رمضان فقدت لذة العبادة التي أجدها في رمضان ولا أجد في ذلك الحرص على العبادة .. فكثيرا ما تفوتني صلاة الفجر مع الجماعة ... وانقطعت عن كثير من النوافل وقراءة القرآن .. وووووووو ....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    فهل لهذه المشكلة من حل أو علاج ؟!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    إليك أخي "10" وسائل للمداومة على العمل الصالح بعد رمضان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1- أولاً وقبل كل شي طلب العون من الله – عز وجل - على الهداية والثبات وقد أثنى الله على دعاء الراسخين في العلم " رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2- الإكثار من مُجالسة الصالحين والحرص على مجالس الذكر العامة كالمحاضرات والخاصة كالزيارات .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3- التعرف على سير الصالحين من خلال القراءة للكتب أو استماع الأشرطة وخاصة الاهتمام بسير الصحابة فإنها تبعث في النفس الهمة والعزيمة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    4- الإكثار من سماع الأشرطة الإسلامية المؤثرة كالخطب والمواعظ وزيارة التسجيلات الإسلامية بين وقت وآخر .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    5- الحرص على الفرائض كالصلوات الخمس وقضاء رمضان فان في الفرائض خير عظيم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    6- الحرص على النوافل ولو القليل المُحبب للنفس فان أحب الأعمال إلى الله &lt; أدومه وإن قل &gt; كما قال صلى الله عليه وسلم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7- البدء بحفظ كتاب الله والمداومة على تلاوته وأن تقرأ ما تحفظ في الصلوات والنوافل .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    8- الإكثار من ذكر الله والاستغفار فإنه عمل يسير ونفعه كبير يزيد الإيمان ويُقوي القلب .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    9- البعد كل البعد عن مفسدات القلب من أصحاب السوء و أجهزة التلفاز والدش والاستماع للغناء والطرب والنظر في المجلات الخليعة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    10- وأخيرا أوصيك أخي الحبيب بالتوبة العاجلة .. التوبة النصوح التي ليس فيها رجوع بإذن الله فإن الله يفرح بعبده إذا تاب أشد الفرح .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    أخي المبارك لا تكن من أولئك القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان لقد قال فيهم السلف " بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان " وداعاً أيها الحبيب إلى رمضان آخر وأنت في صحة وعافية واستقامة على دين الله إن شاء الله . &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-372397588644002666?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/372397588644002666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/372397588644002666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/372397588644002666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/09/10.html' title='&quot;10&quot; وسائل للمداومة على العمل الصالح بعد رمضان'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-5703662016492201328</id><published>2011-08-26T23:32:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T23:33:34.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>العيد في الإسلام آداب وأحكام</title><content type='html'>لقد منَّ الله على أمة الإسلام إذ جعلها ( خير أمة أخرجت للناس ) والإسلام هو دين الله العظيم الذي ارتضاه للبشرية , ليصلح به كل شأن من شؤون حياتها على مرِّ الزمن وتقلب الدهر ( ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير )&lt;br /&gt;ومن رحمة الله بهذه الأمة أن جعل لهم يومين في كل عام ينظرون فيهما مصالحهم العامة ويؤكدون فيهما أسباب المودة والمحبة .&lt;br /&gt;عن أنس رضي الله عنه قال : ( قدم النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ ولأهل المدينة يومان يلعبون فيهما في الجاهلية (1)( فقال : قدمت عليكم , ولكم يومان تلعبون فيهما في الجاهلية , وقدأبدلكم الله بهما خيرا منهما : يوم النحر ويوم الفطر (2) ).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;قال الشيخ أحمد عبد الرحمن البنا :&lt;br /&gt;أي : لأن يومي الفطر والنحر بتشريع الله تعالى واختياره لخلقه ، ولأنهما يعقبان أداء ركنين عظيمين من أركان الإسلام وهما الحج والصيام ، وفيهما يغفر الله للحجاج والصائمين , وينشر رحمته على جميع خلقه الطائعين , أما النيروز والمهرجان , فانهما باختيار حكماء ذاك الزمان لما فيهما من اعتدال الزمن والهواء ونحو ذلك من المزايا الزائلة , فالفرق بين المزيتين ظاهر لمن تأمل ذلك . أه (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العيد:&lt;br /&gt;" هو كل يوم فيه جمع يعتاده الناس ويعودون إليه . قال ابن الأعرابي : سميَّ العيد عيداً لأنه يعود كل سنة بفرح مجدد ". (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الغسل قبل العيد:&lt;br /&gt;يستحب الغسل للعيد&lt;br /&gt;قال ابن رجب : " وقد نص أحمد على استحبابه وحكى ابن عبد البر الإجماع عليه " (5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن زاذان قال : " سأل رجل علياً ــ رضي الله عنه ــ عن الغسل ؟ فقال : أغتسل كل يوم إن شئت ؟ فقال : لا، الغسل الذي هو الغسل ؟ قال : يوم الجمعة ويوم عرفة , ويوم النحر ويوم الفطر "(6). ومما يدل على ذلك قوله : ــ صلى الله عليه وسلم ــ "إن هذا يوم جعله الله عيدا للمسلمين فمن جاء إلى الجمعة فليغتسل " (7)&lt;br /&gt;فدل أن العيد يغتسل له .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه الله : " وكان يغتسل للعيدين , صحّ الحديث فيه وفيه حديثان&lt;br /&gt;ضعيفان ". (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما وقت الغسل :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فانه يبدأ على الراجح من طلوع فجر يوم العيد , لأنه بالفجر يدخل اليوم , وأفضل&lt;br /&gt;أوقاته عند الخروج إلى الصلاة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن نافع أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المصلى "(9)&lt;br /&gt;وعن السائب بن يزيد : " أنه كان يغتسل قبل أن يخرج إلى المصلى " (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالصحيح أن وقت ا لغسل يبدأ من طلوع فجر يوم العيد , وبه قال الشافعية وهو المصحِّح عند الحنابلة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;التجمل للعيد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الإمام بن القيم رحمه الله : " وكان يلبس للخروج إليهما أجمل ثيابه "(11) .&lt;br /&gt;عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : " أخذ عمر جبّة ً من إستبرق تباع في السوق ، فأخذها , فأتى رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ فقال : يا رسول الله ابتع هذه ، تجمّل بها للعيد والوفود ... إلخ " (12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن رجب معقباً : " وقد دلّ هذا الحديث على التجمل للعيد وأنه كان معتاداً بينهم " ( 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;متى يأكل في العيدين ؟ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن بريدة رضي الله عنه قال : " كان النبي ـــ صلى الله عليه وسلم ـــ لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ,ولا يطعم يوم الأضحى حتى يصلي . " (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أين يصلي العيد؟ :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السنة الصلاة في المصلى والمشي لها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي سعيد رضي الله عنه قال :كان رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يخرج يوم الفطر و الأضحى إلى المصلى , فأول شيء يبدأ به الصلاة ..." (15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه الله : " كان ــ صلى الله عليه وسلم ــ يصلي العيدين في المصلى ... وهديه كان فعلهما في المصلى دائماً " (16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما المشي :&lt;br /&gt;فقال علي رضي الله عنه : " من السنة أن تخرج إلى العيد ماشياً" (17)&lt;br /&gt;ومن السنة أن يكبر في الطريق ففي السلسلة الصحيحة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج في العيدين مع الفضل بن عباس وعبدالله بن عباس وعلي وجعفر والحسن والحسين ... رافعاً صوته بالتهليل والتكبير "(18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الذهاب والإياب إلى المصلى :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر رضي الله عنه قال : " كان النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ إذا كان يوم عيد خالف الطريق "(19)&lt;br /&gt;قال الإمام ابن القيم رحمه الله : " وكان ــ صلى الله عليه وسلم ــ يخالف الطريق يوم العيد ، فيذهب في طريق ويرجع في آخر ، فقيل ليسلم على أهل الطريقين , وقيل لينال بركته الفريقان , وقيل : ليقضي حاجة من له حاجة منهما , وقيل :ليظهر شعائر الاسلام في سائر الفجاج والطرق , وقيل : ليغيظ المنافقين برؤيتهم عزة الإسلام وأهله ...وقيل لتكثر شهادة البقاع ... وقيل ــ وهو الأصح ــ : إنه لذلك كله ولغيره من الحكم التي لا يخلو فعله عنها " (20).&lt;br /&gt;قال النووي رحمه الله بعد أن ذكر الأقوال : وإذا لم يعلم السبب استحب التأسي قطعاً والله أعلم "( 21) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصلاة قبل صلاة العيد وبعدها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس رضي الله عنهما : أن النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ صلى يوم الفطر ركعتين ، لم يصل قبلها ولا بعدها " (22)&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه :" ولم يكن هو ولا أصحابه يصلون إذا انتهوا إلى المصلى شيئا قبل الصلاة ولا بعدها " (23)&lt;br /&gt;قال الحافظ ابن حجر رحمه الله : "والحاصل أن صلاة العيد لم يثبت لها سنة قبلها ولا بعدها خلافاً لمن قاسها على الجمعة" (24)&lt;br /&gt;ولكن ثبت عن أبي سعيد أنه قال : " كان لا يصلي قبل العيد شيئا فإذا رجع إلى منزله صلى ركعتين " (25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صلاة العيد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولا: حكمها:&lt;br /&gt;الراجح من أقوال أهل العلم أنها واجبة على الأعيان من الرجال والنساء والعبيد ، ويرخص للمريض والمسافر والبدو الرحل في عدم شهودها .&lt;br /&gt;قال شيخ الإسلام رحمه الله : " ولهذا رجحنا أن صلاة العيد واجبة على الأعيان كقول أبي حنيفة وغيره وهو أحد أقوال الشافعي وأحد القولين في مذهب أحمد . وقول من قال : لا تجب , في غاية البعد , فإنها من أعظم شعائر الإسلام والناس يجتمعون لها أعظم من الجمعة , وقد شرع فيها التكبير , وقول من قال : هي فرض كفاية لا ينضبط , فإنه لو حضرها في المصر العظيم أربعون رجلا لم يحصل المقصود، وإنما يحصل بحضور المسلمين كلهم كما في الجمعة " .أه (26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الأدلة على وجوبها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1ــ أنها من أعظم شعائر الإسلام ,ولذلك لازم النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ فعلها منذ شرعت وكذلك خلفاؤه والمسلمون بعده ولم يعرف قط دار إسلام يترك فيها صلاة العيد .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2ــ الأمر بالخروج لها حتى إنه أمر بإخراج النساء جميعاً حتى الحيض وذوات الخدور .&lt;br /&gt;عن أم عطية رضي الله عنها قالت : أمرنا رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ أن نخرج في الفطر والأضحى العواتق والحُيض وذوات الخدور ، فأما الحيض فيعتزلن الصلاة ويشهدن الخير ودعوة المسلمين قلت : يا رسول الله أحدنا لا يكون&lt;br /&gt;لها جلباب ، قال : لتلبسها أختها من جلبابها " (27)&lt;br /&gt;وفي لفظ : " كنا نؤمر بالخروج في العيدين والمخبأة والبكر " (28)&lt;br /&gt;وفي صحيح الجامع: " وجب الخروج على كل ذات نطاقين في العيدين " (29)&lt;br /&gt;وهذا يدل على توكيد ذلك مع أنه قال في الجمعة والجماعة : " وبيوتهن خير لهن " (30)&lt;br /&gt;وقال أبو بكر الصديق ــ رضي الله عنه ــ :" حق على كل ذات نطاق الخروج إلى العيدين "(31)&lt;br /&gt;قال البخاري رحمه الله :" وكذلك النساء ومن كان في البيوت لقول النبي ـ صلى الله عليه وسلم ــ هذا عيدنا أهل الإسلام " (32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فائدة :&lt;br /&gt;قال العلماء : وجوب الخروج على النساء ما لم يكن فتنة أو مشقة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3ــ ما ثبت عن رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ أن العيد إذا وقع في يوم الجمعة أسقط الجمعة (33) , والجمعة واجبة ولا يسقطها إلا واجب . والله أعلم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً: وقتها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه الله :" وكان ــ صلى الله عليه وسلم ــ " يؤخرصلاة عيد الفطر ويعجل الأضحى, وكان ابن عمر ــ مع شدة اتباعه للسنة ــ لا يخرج حتى تطلع الشمس" (34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشيخ أبو بكر الجزائري حفظه الله :" و وقتهما من ارتفاع الشمس قيد رمح إلى الزوال ، والأفضل أن تصلى الأضحى في أول الوقت ليتمكن الناس من ذبح أضاحيهم وأن تؤخر صلاة الفطر ليتمكن الناس من إخراج صدقاتهم " (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثا : هل يؤذن لها ويقام ؟&lt;br /&gt;عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال :" صليت مع رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة " (36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم :" وكان ــ صلى الله عليه وسلم ــ إذا انتهى إلى المصلى أخذ في الصلاة من غيرأذان ولا إقامة ولا قول : الصلاة جامعة، والسنة أن لا يفعل شيء من ذلك ". (37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعاً : صفة صلاة العيد :&lt;br /&gt;قال النووي رحمه الله : "صلاة العيد ركعتان بالإجماع " (38)&lt;br /&gt;وأما التكبيرات ، فعن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ كان يكبر في الفطر والأضحى في الأولى سبع تكبيرات وفي الثانية خمساً سوى تكبيرتي الركوع "(39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومذهب الجماهير أن السبع في الأولى كلها زوائد ، قال البغوي رحمه الله : " وهذا قول أكثر أهل العلم من الصحابة فمن بعدهم أنه يكبر في صلاة العيد في الأولى سبعاً سوى تكبيرة الإفتتاح وفي الثانية خمساً سوى تكبيرة القيام قبل القراءة " (40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فالخلاف في الأولى فقط والأمر فيه سعة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسألة: هل يستفتح في العيد ؟ وأين ؟&lt;br /&gt;جمهور أهل العلم يرون الاستفتاح ويرونه بعد تكبيرة الإحرام ثم بعده يكبر الزوائد .&lt;br /&gt;وذهب الأوزاعي وغيره إلى أن الاستفتاح بعد التكبيرات .(41)&lt;br /&gt;والأمر فيه سعة والحمد لله إذ الأمر اجتهاد من العلماء رحمهم الله تعالى .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسألة : رفع اليدين مع التكبيرات :&lt;br /&gt;قال البغوي رحمه الله : " ورفع اليدين في تكبيرات العيد سنة عند أكثر أهل العلم وهو قول ابن المبارك والشافعي وأحمد وإسحاق " (42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قلت : صحّ رفع اليدين عن ابن عمر وعطاء والأوزاعي وهو مذهب أبي حنيفة واختاره ابن المنذر ومن قبله البخاري وخالف مالك فقال : الرفع مع الإحرام فقط وله قول آخر بالتخيير، وصحّ عن ابن مسعود رضي الله عنه عدم الرفع ، فالمسألة لللإجتهاد فيها مساغ ، وإن كان الأرجح الرفع والله أعلم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خامساً : القراءة فيها :&lt;br /&gt;قال الإمام ابن القيم رحمه الله وكان ــ صلى الله عليه وسلم ــ إذا أتم التكبير أخذ في القراءة ، فقرأ فاتحة الكتاب ثم قرأ بعدها ( ق . والقرآن المجيد) في إحدى الركعتين ، وفي الأخرى (اقتربت الساعة وانشق القمر ) وربما قرأ فيهما ( سبح اسم ربك الأعلى ) و ( هل أتاك حديث الغاشية ) وصح هذا وهذا ولم يصح عنه غير ذلك " أه(43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسألة : ومن فاتته صلاة العيد&lt;br /&gt;قال البخاري رحمه الله : " باب إذا فاتته العيد يصلي ركعتين " (44)&lt;br /&gt;والصلاة هنا تكون كصلاة الإمام بالتكبيرات الزوائد وإن ترك التكبيرات لا شيء عليه .&lt;br /&gt;قال ابن قدامة رحمه الله : " والتكبيرات والذكر بينها سنة , وليس بواجب، ولا تبطل الصلاة بتركه عمدا ولا سهوا ولا أعلم فيه خلافاً . أه (45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سادسا: الخطبة بعدها :&lt;br /&gt;السنة في خطبة العيد أن تكون بعد الصلاة .&lt;br /&gt;قال البخاري رحمه الله : " باب ا لخطبة بعد العيد ".(46)&lt;br /&gt;عن ابن عباس قال : " شهدت العيد مع رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ وأبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم كانوا يصلون قبل الخطبة " (47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مسألة: التخيير في حضور الخطبة:-&lt;br /&gt;عن عبدالله بن السائب قال : شهدت العيد مع النبي ــ صلى الله عليه وسلم ــ فلما قضى الصلاة قال : "إنا نخطب فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس ومن أحب أن يذهب فليذهب "(48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن القيم رحمه الله : " ورخص ـ صلى الله عليه وسلم ــ لمن شهد العيد أن يجلس للخطبة أو أن يذهب " (49)&lt;br /&gt;والسنة في خطبة العيد وغيرها من الخطب أن تستفتح بالحمد ، ولم يحفظ عنه ـ صلى الله عليه وسلم ــ غير ذلك . (50) ومن السنة في خطبة العيد تخصيص النساء فيها بموعظة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سابعاً : التهنئة بالعيد :&lt;br /&gt;قال الحافظ ابن حجر رحمه :" وروّينا في ـ المحامليات ـ بإسناد حسن عن جبير بن نقير قال : كان أصحاب رسول الله ــ صلى الله عليه وسلم ــ إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك" (51)&lt;br /&gt;والراجح في التهنئة أنها إلى العادات أقرب منه إلى العبادات والأصل في العادات الإباحة ، حتى يرد المنع , ومعلوم أن العادات تختلف من زمان لآخر, ومن مكان لآخر إلا أن أمرا ثبت عن الصحابة أو بعضهم فعله ، وهو اولى من غيره والله اعلم (52) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ــ هما يوم النيروز ويوم المهرجان , وانظر عون المعبود [ 3/485] للعظيم آبا دي .&lt;br /&gt;2. ــ صحيح . أخرجه أحمد [ 3/ 103] ــ وأبو داوود [ 1134] والنسائي [ 3/ 179]&lt;br /&gt;3. ــ الفتح الربا ني [ 6/119]&lt;br /&gt;4. ــ لسان العرب [ 3 / 319].&lt;br /&gt;5. ــ فتح الباري لابن رجب [ 6]&lt;br /&gt;6. ــ فتح الباري لابن رجب [ 6 /68].&lt;br /&gt;7. ــ أخرجه البيهقي في السنن .&lt;br /&gt;8. ــ صحيح الجامع [ 2258] .&lt;br /&gt;9. ــ زاد المعاد [441]&lt;br /&gt;10ــ أخرجه مالك في الموطأ [ 1/ 177] وهو في المصنف [5754] بإسناد صحيح.&lt;br /&gt;11. ــ أنظر معرفة أوقات العبادات [ 1/167]&lt;br /&gt;12ــ زاد المعاد[ 1/ 441]&lt;br /&gt;13ــ البخاري [ 886] ومسلم [ 2068]&lt;br /&gt;14ــ فتح الباري له [ 6/ 67]&lt;br /&gt;15ــ حديث حسن رواه الترمذي [ 542] وابن ماجه [1756] وأحمد [5/ 352] .&lt;br /&gt;16ــ أخرجه البخاري [ 956] ومسلم [ 889] .&lt;br /&gt;17ــ زاد المعاد [1/441] .&lt;br /&gt;18ــ انظر صحيح الترمذي [ 1/ 164] .&lt;br /&gt;19ــ السلسلة الصحيحة [ 1/ 330] وانظر رقم [ 171] وانظر صحيح الجامع [ 4934] .&lt;br /&gt;20ــ رواه البخاري [ 986] .&lt;br /&gt;21ــ زاد المعاد [ 1/448 ــ 449] .&lt;br /&gt;22. ــ روضة الطا لبين [ 2/77]&lt;br /&gt;23ـرواه البخاري [ 989].&lt;br /&gt;24ـ زاد المعاد [ 1/443]&lt;br /&gt;25ـ فتح الباري [ 2/ 476]&lt;br /&gt;26ــ صحيح الجامع [ 4859]&lt;br /&gt;27ــ مجموع الفتا وى [ 23/ 161ــ 162]&lt;br /&gt;28ــ رواه البخاري [ 974] ومسلم [ 883] واللفظ له .&lt;br /&gt;29ــ البخاري [ 971] .&lt;br /&gt;30ــ رقم [ 7105] . وهو في السلسلة الصحيحة [ 2408]&lt;br /&gt;31ــ صحيح أخرجه أحمد [ 5468] وأبو داوود [ 567]&lt;br /&gt;32ــ رواه ابن أبي شيبة [ 2/ 182] قال الشيخ الألباني رحمه الله :" رجاله ثقات رجال الشيخين " الصحيحة [ 5/532] .&lt;br /&gt;33. ــ [ 2/550]الفتح .&lt;br /&gt;34ــ راجع سنن أبي داوود [ 1073] وابن ماجه [ 1311]&lt;br /&gt;35ــ زاد المعاد [ 1/442] .&lt;br /&gt;36ــ منهاج المسلم [ 278] وانظر فتح الباري لابن رجب [ 6 /105]&lt;br /&gt;37ــ رواه مسلم [ 887]&lt;br /&gt;38ــ زاد المعاد [ 1/ 442] .&lt;br /&gt;39 ــ المجموع [ 5/17] .&lt;br /&gt;40 ــ صحيح أخرجه أبو داو ود [1150] وابن ماجة [ 1280] .&lt;br /&gt;41ــ شرح السنة [ 4/310]&lt;br /&gt;42ــ انظر تنوير العينين ص [ 149 ــ 150 ] والشرح الممتع [ 5/176] .&lt;br /&gt;43 ــ شرح السنة [ 4/ 310] .&lt;br /&gt;44. ــ زاد المعاد [ 1/443] .&lt;br /&gt;45 ــ الفتح [ 2/ 550] .&lt;br /&gt;46 ــ المغني [ 3/275] .&lt;br /&gt;47ـ فتح الباري [ 2/453]&lt;br /&gt;48 ــ رواه البخاري [ 962] ومسلم [ 884] .&lt;br /&gt;49 رواه أبو داو ود [ 1155] والنسائي [3/185] وابن ماجه [ 1290] والحاكم [ 1/ 295] بإسناد صحيح.&lt;br /&gt;50ــ زاد المعاد [ 1/448] وانظر مجموع الفتاوى [ 24 /214] .&lt;br /&gt;51. ــ انظر زاد المعاد [ 1/447ــ 448] .&lt;br /&gt;52. ــ فتح الباري [ 2/446] .&lt;br /&gt;53. ــ انظر تنوير العينين [ 270 _ 271] &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-5703662016492201328?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/5703662016492201328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5703662016492201328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/5703662016492201328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/blog-post.html' title='العيد في الإسلام آداب وأحكام'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-7754836710077132053</id><published>2011-08-26T23:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T23:32:34.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>ZAKAT FITRI</title><content type='html'>Zakat yang diwajibkan atas setiap muslim seiring dengan datangnya waktu fitr (berbuka) di akhir bulan Ramadhan, karena itulah zakat ini disebut dengan zakat fithri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu 'alai mewajibkan zakat fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin, beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat ke (tempat) shalat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menjelaskan:&lt;br /&gt;1- Hukum zakat fithri, bahwa ia wajib.&lt;br /&gt;2- Kadar yang diwajibkan, yaitu satu sha’.&lt;br /&gt;3- Dengan apa ia ditunaikan, yaitu dengan makanan pokok suatu negeri.&lt;br /&gt;4- Kepada siapa ia diwajibkan, kaum muslimin tanpa kecuali.&lt;br /&gt;5- Waktu pembayaran, yaitu sebelum berangkat shalat Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari laghwu dan rafats dan sebagai pemberi makan bagi orang-orang miskin.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat untuk Orang yang Wajib Dinafkahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya zakat fitrah diwajibkan atas setiap pribadi kaum muslimin, yakni setiap muslim harus membayar zakatnya sendiri, sekalipun dia masih anak-anak berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas, namun karena keterbatasan anak-anak, wanita dan hamba sahaya, maka zakat mereka ditanggung oleh pihak yang wajib menafkahi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Pembayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu wajib, yaitu waktu berbuka, saat matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan, maka siapa pun yang mendapatkan waktu ini, dia wajib membayar zakat fithri, seandainya janin lahir di waktu ini, maka orang tuanya menunaikan zakat untuknya, bila sesudahnya, maka zakatnya mustahab, dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu utama, sebelum berangkat shalat, sebagai mana dalam hadits Ibnu Umar di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jawaz (boleh), diperselisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama: Satu atau dua hari sebelum Idul Fitri menurut Malikiyah dan Hanabilah.&lt;br /&gt;Pendapat kedua: Di awal bulan menurut Syafi’iyah dan sebagian Hanabilah.&lt;br /&gt;Pendapat ketiga: Mutlak, sekalipun sebelum Ramadhan, ini adalah madzhab Hanafiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil pendapat pertama: Ibnu Umar berkata, “Orang-orang membayar zakat fithri satu atau dua hari sebelum Idul Fitri.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendahulukan zakat satu atau dua hari tidak meniadakan hikmah disyariatkannya zakat fithri, yaitu membuat orang-orang fakir berkecukupan sehingga mereka tidak meminta-minta di hari Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil pendapat kedua: Sebab zakat fithri adalah puasa dan berbuka, bila salah satu dari keduanya sudah ada, maka boleh membayar zakat fithri, seperti zakat mal setelah memiliki nishab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil pendapat ketiga: Sebab diwajibkannya zakat ini telah terwujud, yaitu seseorang yang wajib mengeluarkannya, sehingga menyegerakan setelah terwujudnya sebab dibolehkan seperti menyegerakan zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama adalah pendapat yang rajih, yaitu tidak boleh mendahulukan zakat fithri sebelum Idul Fitri lebih dari dua hari, karena hal tersebut diriwayatkan dari para sahabat, di samping ia sejalan dengan hikmah disyariatkannya zakat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat Fithri dengan Uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Tidak boleh membayar zakat fithri dengan uang, tetapi dengan bahan makanan, ini adalah pendapat jumhur dari madzhab Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: boleh membayar zakat fithri dengan uang secara mutlak, ini adalah pendapat Hanafiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama berdalil kepada hadits Ibnu Umar di atas yang menetapkan bahan makanan sebagai zakat, bukan uang, juga hadits Abu Said al-Khudri, “Kami mengeluarkan zakat fithri satu sha’ kurma atau sha’ gandum atau satu sha’ susu kering atau sha’ kismis.” Diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua beralasan, hikmah zakat fithri adalah mencukupi hajat orang fakir miskin, dan mencukupi tidak harus dengan bahan makanan, karena uang juga bisa mencukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama rajih, karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Zakat fithri dengan makanan ditetapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan diamalkan para sahabat, padahal saat itu uang sudah ada, namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak menyinggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui bahwa orang fakir tidak hanya butuh makan, dia juga butuh uang, namun beliau menunjuk bahan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3- Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menetapkan beberapa jenis makanan yang harganya berbeda, hal ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ingin makanan itu sendiri, bukan uang. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-7754836710077132053?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/7754836710077132053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/zakat-fitri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7754836710077132053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/7754836710077132053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/zakat-fitri.html' title='ZAKAT FITRI'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-1517392462348256501</id><published>2011-08-26T23:00:00.000-07:00</published><updated>2011-08-26T23:02:27.114-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>"Keajaiban Ramadhan"</title><content type='html'>Selama Ramadhan, Imam Syafi’i menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam shalat. Inilah ‘rahasia 40 Keajaiban Ramadhan’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Ramadhan, Allah memerintahkan seluruh penghuni surga berhias. Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” [HR. Baihaqi]. Itulah sisi menarik keajaiban bulan Ramadhan yang tak banyak orang tahu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Ramadhan jalan menuju ketaqwaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Al Baqarah: 183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menerangkan bahwa puasa adalah sebab yang bisa mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, karena puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpatokan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ramadhan bulan mujahadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh. Seperti Imam Asyafi’i, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan ini dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan. Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Puasa Ramadhan menumbuhkan sifat amanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahwa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan amalan yang nampak maupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Puasa Ramadhan melatih kedisiplinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa juga melatih kedisplinan, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang terbatas. Bahkan dalam berbuka puasapun harus disegerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahbah Zuhali juga menjelaskan bahwa puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama muslim. Pada bulan ini semua umat Islam, dari timur hingga barat diwajibkan untuk menjalankan puasa. Mereka berpuasa dan berbuka dalam waktu yang sama, dikarenakan mereka memiliki Rabb yang satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga bisa ikut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga  tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Puasa Ramadhan melatih kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw. bersabda: “Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Puasa Ramadhan menyehatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi makna matan hadist bisa tetap diterima, karena puasa memang menyehatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan:”Lambung adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah obatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah untuk umat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha’, dia telah mendengar dari seorang ahlul ilmi tsiqah yang telah mengatakan: “Sesungguhnya telah diperlihatkan usia-usia umat sebelumnya kepada Rasulullah Saw., atau apa yang telah Allah kehendaki dari hal itu, dan sepertinya usia umat beliau tidak mampu menyamai amalan yang telah dicapai oleh umat-umat sebelumnya, maka Allah memberi beliau Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ramadhan bulan ampunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, Rasulullah Saw. bersabda: “Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan didasari keimanan dan pengharapan ridha Allah, diampunkan untuknya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Siapa yang dilihat Allah, maka ia terbebas dari adzab-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”Pada bulan Ramadhan umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. Yang pertama, sesungguhnya jika Allah melihat mereka di awal malam dari bulan Ramadhan, dan barang siapa yang telah dilihat Allah maka Ia tidak akan mengadzabnya selamanya…” (HR. Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari misk di hadapan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda:”…Yang kedua, sesungguhnya bau mulut mereka ketika sore hari lebih harum di hadapan Allah daripada bau misk…” (HR. Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Di Bulan Ramadhan para malaikat meminta ampunan untuk umat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang ketiga, sesungguhnya para malaikat meminta ampunan untuk mereka siang dan malam…” (HR. Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Di bulan Ramadhan sorga berbenah diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” (HR. Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Di malam akhir Ramadhan Allah mengampuni umat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda: ”…Adapun yang kelima, sesungguhnya jika tiba malam terakhir Ramadhan Allah memberi ampun kepada mereka semua. Lalu bertanyalah seorang lelaki dari sebuah kaum: ”Apakah itu lailatul qadar? Ia bersabda:” Bukan, apakah kau tidak mengetahui perihal orang-orang yang bekerja, jika mereka selesai melakukan pekerjaan maka imbalannya akan dipenuhi. (HR. Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu sorga dan ditutuplah pintu neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu. (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna hadits di atas bisa bermakna haqiqi, yaitu pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu secara haqiqi, sebagai tanda datangnya Ramadhan sekaligus pemulyaan terhadapnya. Tapi bisa juga bermakna majaz yang mengisyaratkan besarnya pahala dan ampunan di bulan itu, sehingga syaitan seperti terbelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Pahala syuhada bagi yang melakukan kewajiban dan menghidupkan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Saw. Dan mengatakan: ”Wahai Rasulullah, tahukah anda jika saya telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya anda adalah utusan Allah, aku juga telah melakukan shalat lima waktu, juga telah menunaikan zakat, serta aku telah berpuasa Ramadhan dan menghidupkannya, maka termasuk golongan siapakah saya? Rasulullah Saw. Bersabda: “Termasuk dari orang-orang yang sidiq dan syuhada’”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Pahala amalan bulan Ramadhan berlipat ganda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Salman ra., bahwasannya Rasulullah Saw. berkhutbah di hari terakhir bulan Sya’ban: ”Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh berkah. Bulan yang terdapat di dalamnya sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban, dan qiyamul lail sebagai hal yang disunnahkan, barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan perbuat kebajikan, maka ia seperti mengerjakan kewajiban selainnya, dan barang siapa mengerjakan kewajiban di dalamnya, maka ia seperti mengerjakan tujuh puluh kewajiban selainnya…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Seluruh hari dalam Ramadhan memiliki keutamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda: “…Dia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, serta paripurnanya adalah pembebasan dari neraka…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Keutamaan memberi minum orang yang berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan memberi minum kelak di akhirat Rasulullah Saw. bersabda: “Dan barang siapa memberi minuman orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya dari telaga minuman yang tidak menghauskan hingga ia masuk ke dalam sorga”. (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (HR.Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Doa mustajab di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwatkan dari Abu Umamah Ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:”…Dan untuk setiap muslim di setiap hari dan petang (dalam bulan Ramadhan) doa yang mustajab (HR. Bazar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah juga bersabda:”Tiga yang tidak tertolak doanya, orang yang berpuasa hingga berbuka, imam adil, dan doa orang yang terdhalimi”. (HR. Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Pahala umrah Ramadhan sama dengan haji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar:”Jika datang Ramadhan maka lakukanlah umrah, karena susungguhnya umrah dalam bulan itu setaraf dengan haji.” (HR. An Nasa’i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Pahala i’tikaf di bulan Ramadhan sama dengan pahala 2 haji dan umrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Husain Ra. menyatakan, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:”Barang siapa menjalankan i’tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadhan maka amalan itu seperti dua haji dan umrah (HR. Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Dalam Ramadhan terdapat malam yang istimewa (Lailatul Qadar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:”Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan”. (Al Qadr: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ayat ini, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa menghidupkan Ramadhan dan melakukan amalan di dalamnya lebih baik daripada menjalankan amalan dalam seribu bulan tanpa Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil”. (Al Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah Ta’ala menyanjung bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana Al-Quran diturunkan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Kitab-kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda:”Shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat turun pada hari ke enam bulan Ramadhan dan Injil pada hari ke tiga belas dari Ramadhan…” (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Rasulullah mendapat wahyu pertama di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasululah Saw. mendekati umur 40 tahun beliau selalu berpikir dan merenung serta berkeinginan kuat untuk mengasingkan diri (uzlah), akhirnya dengan mempersiapkan bekal makanan dan minuman beliau menuju gua Hira yang terdapat pada gunung Rahmah sebagai tempat beruzlah, yang berjarak dua mil dari kota Mekah. Uzlah ini dilakukan  tiga  tahun sebelum masa kerasulan. Tatkala datang Ramadhan pada tahun ketiga dari masa uzlah, turun kepada beliau Malaikat Jibril mewahyukan surat Al Alaq yang merupakan surat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Badar adalah pemisah antara yang haq dan yang batil, dan kaum muslimin sebagai simbol tauhid dan kemulyaan, meraih kemenangan atas kaum musyrikin sebagai simbol kekifiran dan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peperangan terjadi pada hari Jum’at, 27 Ramadhan, tahun kedua setelah hijrah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan benar-benar Allah telah menolong kalian di Badar sedangkan kalian dalam keadaan terhina, maka takutlah kalian kepada Allah, semoga kalian bersyukur”. (Ali Imran: 123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas mengatakan:”Saat itu hari Jum’at, 27 Ramadhan, dan saat itu juga terbunuh Fir’aun umat, Abu Jahal, musuh terbesar umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Mekah dikuasai pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathul Mekah adalah peristiwa besar, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. (Al Fath:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mufasirin berpendapat bahwa yang dimaksud kemenangan di sini adalah peristiwa Fathul Mekah, walau ada sebagian ulama’ yang menafsirkannya sebagai perjanjian Hudaibiya dan penaklukan negeri Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terjadi pada hari, tanggal 20 atau 21 Ramadhan, tahun ke delapan hijriyah. Saat itulah semua berhala yang berada di sekitar Ka’bah dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Islam menyebar di Yaman pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ke sepuluh hijriyah pada bulan Ramadhan Rasulullah Saw. menunjuk Ali bin Abi Thalib guna menjadi pemimpin sejumlah pasukan untuk pergi ke penduduk Yaman dengan membawa surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-1517392462348256501?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/1517392462348256501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/keajaiban-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/1517392462348256501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/1517392462348256501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/08/keajaiban-ramadhan.html' title='&quot;Keajaiban Ramadhan&quot;'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-2777968403144126655</id><published>2011-07-13T23:25:00.001-07:00</published><updated>2011-07-13T23:25:47.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Serba-Serbi Bulan Sya’ban (02)</title><content type='html'>Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa lafazh yang membicarakan larangan puasa setelah pertengahan bulan Sya’ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلاَ صَوْمَ حَتَّى يَجِىءَ رَمَضَانُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1651)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh yang lain lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka tahanlah diri dari berpuasa hingga datang bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya para ulama berselisih pendapat dalam menilai hadits-hadits di atas dan hukum mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ulama yang menshahihkan hadits di atas adalah At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ath Thahawiy, dan Ibnu ‘Abdil Barr. Di antara ulama belakangan yang menshahihkannya adalah Syaikh Al Albani rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang mungkar dan hadits mungkar adalah di antara hadits yang lemah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah ‘Abdurrahman bin  Mahdiy, Imam Ahmad, Abu Zur’ah Ar Rozi, dan Al Atsrom. Alasan mereka adalah karena hadits di atas bertentangan dengan hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa.” (HR. Muslim no. 1082). Jika dipahami dari hadits ini, berarti boleh mendahulukan sebelum ramadhan dengan berpuasa dua hari atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Atsrom mengatakan, “Hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban bertentangan dengan hadits lainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya (mayoritasnya) dan beliau lanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Dan hadits di atas juga bertentangan dengan hadits yang melarang berpuasa dua hari sebelum Ramadhan. Kesimpulannya, hadits tersebut adalah hadits yang syadz, bertentangan dengan hadits yang lebih kuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Thahawiy sendiri mengatakan bahwa hadits larangan berpuasa setelah separuh Sya’ban adalah hadits yang mansukh (sudah dihapus). Bahkan Ath Thohawiy menceritakan bahwa telah ada ijma’ (kesepakatan ulama) untuk tidak beramal dengan hadits tersebut. Dan mayoritas ulama memang tidak mengamalkan hadits tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada pendapat dari Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyah, juga hal ini mencocoki pendapat sebagian ulama belakangan dari Hambali. Mereka mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa (seperti puasa senin-kamis), boleh berpuasa ketika itu, menurut pendapat ini. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, 244-245)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah.” (HR. Muslim no. 1082)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab rahimahullah, berpuasa di akhir bulan Sya’ban ada tiga model:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika berniat dalam rangka berhati-hati dalam perhitungan puasa Ramadhan sehingga dia berpuasa terlebih dahulu, maka seperti ini jelas terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, jika berniat untuk berpuasa nadzar atau mengqodho puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, atau membayar kafaroh (tebusan), maka mayoritas ulama membolehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jika berniat berpuasa sunnah semata, maka ulama yang mengatakan harus ada pemisah antara puasa Sya’ban dan Ramadhan melarang hal ini walaupun itu mencocoki kebiasaan dia berpuasa, di antaranya adalah Al Hasan Al Bashri. Namun yang tepat dilihat apakah puasa tersebut adalah puasa yang biasa dia lakukan ataukah tidak sebagaimana makna tekstual dari hadits. Jadi jika satu atau dua hari sebelum Ramadhan adalah kebiasaan dia berpuasa –seperti puasa Senin-Kamis-, maka itu dibolehkan. Namun jika tidak, itulah yang terlarang. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan Al Auza’i. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, 257-258)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ada larangan mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan adalah dalam rangka hati-hati, maka hal ini terlarang agar tidak menambah hari berpuasa Ramadhan yang tidak dituntunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, agar memisahkan antara puasa wajib dan puasa sunnah. Dan memisahkan antara amalan yang wajib dan sunnah adalah sesuatu yang disyariatkan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyambungkan shalat wajib dengan shalat sunnah tanpa diselangi dengan salam atau dzikir terlebih dahulu. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, 258-259)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Hadits Lemah (Dho’if) dan Palsu (Maudhu’) di Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni  dosa walaupun itu lebih banyak dari jumlah bulu yang ada di kambing Bani Kalb.” [Bani Kalb adalah salah satu kabilah di Arab yang punya banyak kambing]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Majah. At Tirmidzi mengatakan bahwa beliau mendengar Muhammad (yaitu Imam Bukhari) mendhoifkan hadits ini. (Lihat As Silsilah Ash Shohihah, no. 1144)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila datang malam nishfu sya’ban, maka hidupkanlah malam tersebut dan berpuasalah di siang harinya. Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia pada malam tersebut mulai dari tenggelamnya matahari. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Siapa saja yang meminta ampunan, Aku akan mengampuninya. Siapa saja yang meminta rizki, aku pun akan memberinya. Siapa saja yang tertimpa kesulitan, Aku pun akan membebaskannya. Siapa pun yang meminta sesuatu, Aku akan mengabulkannya hingga terbit fajar”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Sanad hadits ini adalah lemah, bahkan menurut Syeikh Al Albani adalah maudhu’ (palsu) karena di dalamnya terdapat perowi yang bernama Ibnu Abi Sabroh yang tertuduh sering memalsukan hadits sebagaimana dikatakan dalam At Taqrib. Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Ma’in juga berpendapat demikian yaitu Ibnu Abi Basroh sering memalsukan hadits. Sehingga Syeikh Al Albani berkesimpulan bahwa sanad hadits ini maudhu’ (palsu). (Lihat As Silsilah Adh Dho’ifah, no. 2132)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Ketiga]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَانُ شَهْرِيْ وَ رَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rajab adalah syahrullah (bulan Allah), Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Jami’ Ash Shogir (6839), Syeikh Al Albani mengatakan bahwa hadits  ini dho’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Keempat]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من صلى ليلة النصف من شعبان ثنتى عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة قل هو الله أحد ثلاثين مرة، لم يخرج حتى يرى مقعده من الجنة …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 12 raka’at, setiap raka’atnya membaca surat “Qul huwallahu ahad” sebanyak tiga kali, maka dia tidaklah akan keluar sampai dia melihat tempat duduknya di surga …”&lt;br /&gt;Hadits ini dibawakan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhu’at (kumpulan hadits-hadits palsu). Ibnul Jauziy mengatakan bahwa hadits di atas adalah hadits maudhu’ (palsu) dan di dalamnya banyak perowi yang majhul (tidak dikenal). (Lihat Al Maudhu’at, 2/129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan kami mengenai panduan amalan di bulan Sya’ban. Semoga apa yang kami suguhkan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Semoga Allah selalu memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayib dan amalan yang diterima. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8885290875767023136-2777968403144126655?l=alumnistiba-mks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/feeds/2777968403144126655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/07/serba-serbi-bulan-syaban-02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2777968403144126655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8885290875767023136/posts/default/2777968403144126655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://alumnistiba-mks.blogspot.com/2011/07/serba-serbi-bulan-syaban-02.html' title='Serba-Serbi Bulan Sya’ban (02)'/><author><name>TADRIBUDDU'AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16056886198365716727</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8885290875767023136.post-1846544925320938438</id><published>2011-07-13T23:23:00.000-07:00</published><updated>2011-07-13T23:24:57.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Serba-Serbi Bulan Sya’ban (01)</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, saat ini kita telah menginjak bulan Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathoif Al Ma’arif, 235)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)? Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban? An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ” (Syarh Muslim, 4/161)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah di balik puasa Sya’ban adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkala manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”&lt;br /&gt;   2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban.  Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.&lt;br /&gt;   3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif,  hal. 234-243)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mend
